Gayatri Putri News – 10 Oktober 2026 | Jakarta – Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics, tengah menghadapi dilema besar di tengah badai krisis memori global yang dikenal sebagai ‘RAMmageddon’. Di satu sisi, divisi Mobile Experience (MX) terpaksa harus memangkas produksi ponselnya secara signifikan karena biaya komponen yang melambung tinggi membuat margin keuntungan nyaris nol. Namun di sisi lain, divisi semikonduktor justru mencatatkan lonjakan laba yang spektakuler berkat permintaan chip memori untuk kecerdasan buatan (AI).
Produksi Ponsel Dipangkas Hingga 30 Persen
Samsung dikabarkan telah meminta para pemasoknya untuk memangkas volume produksi ponsel antara 20 hingga 30 persen pada kuartal terakhir tahun ini. Langkah ini diambil karena harga komponen memori yang melonjak membuat biaya produksi tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Divisi MX Samsung dilaporkan hanya mendapatkan keuntungan sangat tipis setelah dikurangi biaya memori dan semikonduktor lainnya.
Meskipun penurunan produksi pada kuartal IV merupakan hal yang wajar karena konsumen cenderung menunggu peluncuran Galaxy S terbaru di awal tahun, namun skala pemangkasan kali ini jauh lebih besar dari biasanya. Alih-alih memproduksi 270 juta unit smartphone sepanjang 2026 seperti proyeksi awal, Samsung diperkirakan hanya akan memproduksi sedikit di atas 200 juta unit. Angka ini merosot jauh dibandingkan produksi tahun 2025 yang mencapai sekitar 240 juta unit.
Pemicu Utama: Lonjakan Harga Memori untuk AI
Akar permasalahan ini adalah tingginya permintaan memori untuk pusat data AI. Para produsen semikonduktor lebih memilih memproduksi memori untuk server dan akselerator AI yang memiliki margin lebih tinggi, sehingga pasokan memori untuk komputer, ponsel, dan perangkat lain semakin menipis sejak setahun terakhir. Data dari TrendForce menunjukkan harga 12 GB RAM LPDDR5X untuk smartphone mencapai 146 dolar AS pada kuartal II 2026, naik 175 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Diprediksi akan ada kenaikan lagi sekitar 20 persen menjadi 180 dolar AS.
Dampaknya, Samsung telah menaikkan harga jual Galaxy S26 di berbagai pasar, termasuk Spanyol. Model standar 256 GB naik dari 969 euro menjadi 999 euro, sementara Galaxy S26+ naik 90 euro menjadi 1.249 euro. Bahkan, pada bulan yang sama setelah peluncuran, Samsung kembali menaikkan harga Galaxy S26, S26+, dan S26 Ultra sekitar 100 euro untuk versi 256 GB. Kenaikan tertinggi terjadi pada Galaxy S26 Ultra 1 TB yang kini dibanderol 2.149 euro, naik 200 euro.
Laba Operasional Meroket 782 Persen
Di tengah krisis di divisi ponsel, Samsung justru menuai berkah dari bisnis chip AI. Perusahaan memperkirakan laba operasional kuartal III 2026 mencapai 107,4 triliun won atau sekitar Rp1.437 triliun, melonjak 782,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 12,17 triliun won (sekitar Rp162,71 triliun). Pendapatan juga diproyeksikan mencapai 195 triliun won atau sekitar Rp2.609 triliun.
Pertumbuhan fantastis ini didorong oleh permintaan chip memori berbandwidth tinggi (HBM) untuk pusat data AI. Selain itu, enam perusahaan di bawah Samsung Group berkomitmen menginvestasikan 1 miliar dolar AS di Helix Digital Infrastructure, sebuah langkah strategis untuk memperluas eksposur di sektor infrastruktur AI.
Ekspansi Ekosistem: dari Galaxy Watch Ultra2 hingga Galaxy Studio
Meski tengah menekan produksi ponsel, Samsung tetap agresif meluncurkan produk dan layanan baru. Di pasar wearables, Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan mode Trail Run yang dirancang untuk pelari lintas alam. Fitur ini menyajikan informasi elevasi, progres pendakian, dan kondisi medan secara real-time. Dukungan navigasi GPX memungkinkan pengguna mengunggah rute dan mengikuti panduan arah melalui GPS. Ada pula Climb Guidance yang menampilkan kemiringan rata-rata dan kenaikan elevasi sebelum memasuki segmen rute, serta Nutrition Alert untuk mengingatkan kebutuhan cairan berdasarkan tingkat dehidrasi.
Samsung juga dikabarkan tengah menyiapkan headphone premium pertama sejak 2014. Seorang pembocor terkenal, Dy, mengklaim bahwa perangkat tersebut akan diberi nama Galaxy Studio. Nama ini sebelumnya telah terlihat dalam dokumen merek dagang yang diajukan Samsung pada 14 September. Meski spesifikasi, gambar, dan tanggal peluncuran belum diketahui, headphone ini diprediksi akan bersaing dengan Apple AirPods Max dan dilengkapi fitur seperti noise cancelling, koneksi multi-perangkat, serta asisten AI.
Layanan Streaming Gratis Semakin Ramai
Di ranah konten, Samsung TV Plus bersama Roku Channel dan Plex TV terus memperluas kanal gratis (FAST) di Brasil. Samsung TV Plus meluncurkan kanal 24 jam untuk serial komedi legendaris Todo Mundo Odeia o Chris, serta menambah dua kanal film. Roku Channel menambahkan tiga kanal baru untuk segmen spesifik. Semua konten ini dapat diakses tanpa langganan atau pendaftaran, memperkuat posisi Samsung di pasar hiburan digital.
Kesimpulan
Krisis memori global telah memaksa Samsung mengambil langkah drastis dengan memangkas produksi ponselnya hingga 30 persen. Meskipun divisi mobile tertekan, divisi semikonduktor justru mencatatkan rekor laba berkat ledakan permintaan chip AI. Samsung kini berada di persimpangan: harus mengorbankan volume penjualan ponsel demi menjaga profitabilitas, sambil terus berinovasi di lini produk wearable, audio, dan layanan streaming. Langkah strategis ini akan menentukan arah Samsung di tengah ketidakpastian pasar teknologi global.
Sumber Berita: Money Today, Samsung Newsroom Indonesia, Fortune IDN, Liputan6, dan berbagai sumber industri.
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






