Irlandia Hancurkan Israel 3-0 di Tengah Gelombang Protes dan Ancaman Sanksi UEFA

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Irlandia Hancurkan Israel 3-0 di Tengah Gelombang Protes dan Ancaman Sanksi UEFA

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 29 September 2026 | Republik Irlandia menorehkan kemenangan telak 3-0 atas Israel dalam lanjutan UEFA Nations League 2026-2027 yang digelar di Nagyerdei Stadion, Debrecen, Hungaria. Namun, laga yang berlangsung pada Minggu (27/9/2026) waktu setempat itu jauh dari sekadar cerita sepak bola. Aksi protes para pemain Irlandia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza mewarnai jalannya pertandingan, menjadikannya salah satu laga paling politis dalam sejarah turnamen tersebut.

Sejak awal, pertandingan ini sudah diwarnai ketidakpastian. Sejumlah pemain Irlandia menyuarakan keberatan untuk bertanding melawan Israel. Puncaknya, kiper Gavin Bazunu memutuskan mundur dan mengunggah pernyataan resminya melalui Instagram, menegaskan bahwa ia tidak pantas terlibat dalam laga melawan Israel karena alasan pribadi terkait kebijakan pemerintah Israel di Palestina.

Menghadapi situasi itu, Timnas Irlandia menggelar pemungutan suara darurat sehari sebelum pertandingan. CEO Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) David Courell menyebut mayoritas pemain akhirnya memilih untuk tetap melangkah ke lapangan. Keputusan itu diambil setelah melalui pertimbangan panjang, termasuk risiko sanksi berat dari UEFA.

Gestur Protes yang Menyita Perhatian Dunia

Ketika pertandingan dimulai, para pemain Irlandia menampilkan sederet gestur protes yang terkoordinasi. Mereka mengenakan ban lengan hitam, menolak berjabat tangan dengan pemain Israel, dan menundukkan kepala dengan kedua tangan di belakang punggung saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan. Kapten Dara O’Shea tetap berjabat tangan dengan wasit asal Jerman Harm Osmers beserta para asistennya, tetapi tidak menyalami kapten Israel, Manor Solomon.

Kapten Irlandia juga enggan memberikan cenderamata kepada pihak Israel. Selebrasi pun menjadi simbol perlawanan. Troy Parrott, pencetak gol pembuka pada menit ke-13, merayakan golnya dengan membentuk tanda hati di depan tribun suporter Israel. Sementara Jack Moylan, pencetak gol ketiga pada menit ke-25, mencopot ban hitamnya dan menciumnya sebelum mencium logo tim nasionalnya.

Pelatih Republik Irlandia, Heimir Hallgrimsson, menyebut aksi para pemainnya sebagai bentuk keberanian untuk bersuara. Menurutnya, protes itu tidak hanya menyentil Israel, tetapi juga pihak-pihak yang diam atas situasi di Gaza. “Situasi sulit buat semua pemain. Mereka sudah meningkatkan kesadaran dunia, tak cuma di Irlandia. Itulah esensi dari protes,” ujar Hallgrimsson.

Kemenangan Telak di Lapangan Kosong

Di atas lapangan, Irlandia tampil efektif. Troy Parrott membuka keunggulan pada menit ke-13, disusul Adam Idah tiga menit berselang, dan Jack Moylan menutup pesta gol pada menit ke-25. Pertandingan berlangsung sepi karena hanya disaksikan sekitar 150 pendukung Israel dan sejumlah kecil suporter Irlandia. Sebagian suporter yang memperoleh tiket melalui Federasi Sepak Bola Israel mengaku tiket mereka dibatalkan pada Sabtu malam waktu setempat.

Kekalahan telak itu memicu kemarahan dari kubu Israel. Winger West Ham United, Manor Solomon, melancarkan serangan verbal pedas terhadap Irlandia. “Saya menunggu pertandingan berikutnya melawan mereka, itu akan menjadi pertandingan yang benar-benar berbeda. Mereka tidak menarik bagi saya. Kami punya negara yang sepuluh kali lebih baik dari mereka,” ujarnya dengan nada penuh emosi. Ia bahkan menyiratkan adanya permusuhan yang mengakar antara kedua negara. “Jika saya mengatakan apa yang saya pikirkan tentang mereka, saya mungkin akan diskors untuk beberapa pertandingan. Jelas mereka membenci kami. Kami tidak menyukai mereka.”

Pelatih Israel, Ran Ben Shimon, mengambil nada berbeda. Ia memikul tanggung jawab penuh atas kekalahan timnya dan mengakui bahwa para pemainnya gagal menghadapi tekanan mental maupun taktis. “Kekecewaan besar, ini salah saya. Kami tidak menangani tekanan dengan baik,” katanya.

Alasan FAI Tetap Bertanding dan Bayang-Bayang Sanksi

Presiden FAI, Paul Cooke, membela sikap federasinya dalam menangani kontroversi ini. Ia menegaskan bahwa keputusan untuk tetap bertanding telah disetujui dalam rapat umum luar biasa pada 8 Juli, semata-mata untuk menghindari sanksi berat. Regulasi disiplin UEFA menetapkan bahwa tim yang mengundurkan diri dapat dinyatakan kalah 0-3, sementara risiko terberat adalah pengurangan enam poin yang berpotensi melempar Irlandia ke League C dan mengancam peluang mereka di kualifikasi Euro 2028.

FAI juga memperkirakan dampak finansial yang signifikan, dengan kerugian minimum diperkirakan mencapai EUR 5,5 juta atau sekitar Rp 112 miliar. Meski demikian, Cooke mengaku tidak pernah menerima komunikasi spesifik dari UEFA mengenai bentuk sanksi di luar ketentuan regulasi resmi.

“Saya pikir kami telah menangani pekan ini dengan cukup baik. Jika Anda melihat keberanian, performa, dan cara mereka menjalankan tugas, semua orang yang berada di sini malam ini, termasuk 20 pemain, berjalan keluar sebagai sebuah bangsa, sebuah negara, dan sebuah organisasi sepak bola,” kata Cooke.

Laga ini menjadi pengingat bahwa sepak bola kerap menjadi panggung bagi pergulatan nilai-nilai yang lebih besar dari sekadar skor akhir. Irlandia membuktikan bahwa mereka bisa meraih kemenangan di lapangan sekaligus menyuarakan sikap politiknya, meski harus menanggung risiko sanksi dan kecaman. Sementara Israel, di balik kekecewaan atas kekalahan telak, harus menghadapi kenyataan bahwa pertandingan berikutnya melawan Irlandia akan berlangsung dengan tensi yang jauh lebih panas. Apa yang terjadi di Debrecen bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa, melainkan cerminan dari perpecahan yang lebih dalam yang sulit diselesaikan hanya dengan satu pertandingan.