Anak Krakatau Tumbuh Lagi Usai Runtuh 2018, Status Turun tapi Warga Diminta Tetap Waspada

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Anak Krakatau Tumbuh Lagi Usai Runtuh 2018, Status Turun tapi Warga Diminta Tetap Waspada

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 24 September 2026 | Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah perkembangan penting terjadi dalam sepekan terakhir. Status aktivitas vulkanik gunung tersebut resmi diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada), namun otoritas setempat menegaskan bahwa penurunan status ini tidak berarti seluruh ketentuan keselamatan dicabut.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan, Maturidi, mengatakan masyarakat, wisatawan, dan nelayan tetap harus berhati-hati serta mengikuti ketentuan dan arahan yang telah ditetapkan oleh Badan Geologi. Menurutnya, penurunan status tidak menghapus kewajiban mematuhi rekomendasi resmi, terutama karena gunung api yang berada di tengah Selat Sunda itu memiliki sejarah erupsi yang dinamis.

Anak Krakatau Disebut Kembali Tumbuh

Di sisi lain, peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Nurfiani, mengungkapkan bahwa Gunung Anak Krakatau yang runtuh pada 2018 kini kembali tumbuh. Pertumbuhan itu terjadi akibat aktivitas erupsi yang berlangsung secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir.

Dini menjelaskan bahwa BRIN bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, serta University of Oxford terus melakukan penelitian terhadap gunung tersebut. Temuan awal menunjukkan bahwa Anak Krakatau merupakan sistem yang dinamis, berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.

Pada peristiwa 2018, sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Keruntuhan itu menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.

“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya,” ujar Dini.

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitasnya berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.

Tragedi Kapal Arupadatu I dan Identifikasi Korban

Di tengah dinamika aktivitas gunung tersebut, duka menyelimuti dunia jurnalistik. Kapal cepat Arupadatu I yang membawa delapan orang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru, hilang saat bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin, 7 September, sekitar pukul 14.00 WIB, untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pada Sabtu, 12 September, sebuah jenazah tanpa identitas ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Bengkulu, atau sekitar 360 kilometer dari Anak Krakatau. Jenazah itu ditemukan pada hari kelima pelaksanaan Operasi SAR.

Tim Disaster Victim Investigation (DVI) kemudian melakukan pemeriksaan DNA selama sekitar sepuluh hari. Hasilnya, jenazah tersebut dipastikan merupakan Surakman alias Sukarman, 60 tahun, anak buah kapal Arupadatu I. Identifikasi dipastikan setelah DNA korban cocok dengan DNA anak kandungnya, Yayat.

Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Imam Wijayanto, menyatakan bahwa jenazah Surakman masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu dan pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Banten untuk proses pemulangan.

Kapolda Banten, Irjen Hengki, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa hingga kini kapal Arupadatu I dan tujuh orang lainnya belum ditemukan. Pihaknya belum dapat memastikan apakah kapal tersebut terbawa arus, terendam, atau tenggelam ke dasar laut.

Adapun delapan orang yang berada di kapal tersebut adalah:

  • Muhammad Bagus Khoirunnas (ANTARA)
  • Arie Basuki (Merdeka.com)
  • Yudistiro Pranoto (iNews)
  • Firdaus Wajidi (Anadolu Agency)
  • Donal Husni (jurnalis lepas)
  • Warta atau Surahman (kapten kapal)
  • Sukarman (anak buah kapal)
  • Heriyanto (pemandu)

Operasi pencarian berlangsung selama sepuluh hari dan berakhir pada 17 September. Pada hari terakhir, sebanyak 523 anggota dan 24 kapal dikerahkan untuk menyisir area seluas sekitar 8.509 mil laut persegi.

Hengki mengimbau siapa pun yang menemukan jenazah atau bukti lain yang mungkin berkaitan dengan insiden tersebut agar menghubungi pihak kepolisian, Badan SAR Nasional, atau otoritas setempat.

Waspada di Tengah Dinamika Gunung

Kombinasi antara penurunan status, pertumbuhan kembali gunung, dan tragedi pelayaran menjadi pengingat bahwa Selat Sunda adalah kawasan yang menyimpan risiko berlapis. Masyarakat pesisir Lampung Selatan, Banten, dan sekitarnya diharapkan tetap memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan BPBD, serta tidak mengabaikan protokol keselamatan saat beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda.

Penurunan status Anak Krakatau dari Siaga ke Waspada memang menjadi kabar yang lebih menenangkan, tetapi para ahli menekankan bahwa gunung api ini tetap berada dalam fase pertumbuhan yang aktif. Pemantauan ilmiah lintas lembaga, baik di dalam maupun luar negeri, akan terus dilakukan untuk memahami perilaku gunung yang pernah mengubah lanskap Selat Sunda itu.

Sementara itu, pencarian terhadap tujuh orang yang masih hilang menjadi prioritas kemanusiaan yang belum tuntas. Keluarga korban dan publik berharap ada kejelasan atas nasib para jurnalis dan kru kapal yang tenggelam dalam tugas meliput aktivitas gunung. Kejadian ini menegaskan bahwa peliputan bencana di kawasan vulkanik menuntut standar keselamatan yang tinggi, koordinasi lintas instansi, serta kehati-hatian ekstra dari semua pihak yang terlibat.