Azan Subuh Terakhir Sheikh Ibrahim Al Madani: Muazin Masjidil Haram Tutup Usia di 51 Tahun

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Azan Subuh Terakhir Sheikh Ibrahim Al Madani: Muazin Masjidil Haram Tutup Usia di 51 Tahun

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 24 September 2026 | Kabar duka menyelimuti Masjidil Haram, Makkah. Salah satu muazin utamanya, Sheikh Ibrahim bin Adel Al Madani, meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026, dalam usia sekitar 51 tahun. Kepergiannya menjadi perhatian luas karena pada dini hari yang sama, suaranya masih terdengar mengumandangkan azan subuh di Masjidil Haram sebelum kabar wafatnya tersiar beberapa jam kemudian.

Kabar tersebut diumumkan melalui kanal resmi Al Ekhbariya Saudi serta sejumlah pihak yang berkaitan dengan pelayanan Dua Masjid Suci. Berita duka ini pun memicu gelombang penghormatan di media sosial, dengan banyak pengguna membagikan kembali rekaman azan dan takbir Al Madani yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari suasana ibadah di Masjidil Haram.

Azan Subuh Terakhir yang Menjadi Penutup

Momen yang paling membekas bagi banyak pihak adalah azan subuh yang dikumandangkan Al Madani pada Senin dini hari. Rekaman suasana Masjidil Haram dan Kakbah ketika suaranya terdengar melalui pengeras suara masjid beredar luas setelah kabar kematiannya. Seruan itu kemudian dikenal sebagai azan subuh terakhirnya sebelum ia mengembuskan napas terakhir.

Al Madani merupakan salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Dari jumlah tersebut, enam muazin bertugas secara bergiliran setiap hari untuk mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama sebelum salat Subuh. Selain mengumandangkan azan, ia juga menjalankan tugas tabligh, yakni menyampaikan atau mengulangi takbir perpindahan gerakan imam melalui sistem pengeras suara dari ruang khusus muazin agar dapat didengar oleh jemaah di berbagai bagian masjid.

Perjalanan Hidup Seorang Muazin

Sheikh Ibrahim Al Madani lahir di Madinah pada 1976 dari keluarga religius. Ia tumbuh dalam pengaruh besar sang kakek yang merupakan seorang hafiz Al-Qur’an, sehingga memilih menempuh pendidikan di bidang Ilmu Al-Qur’an. Perjalanan hidupnya sebagai muazin tercatat sebagai berikut:

  • Mulai mengumandangkan azan pada usia sekitar 15 tahun di sebuah masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah.
  • Menjalankan tugas muazin bersama tiga tetangganya secara bergiliran hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
  • Sempat berhenti menjadi muazin karena bekerja sebagai pengajar di luar Madinah.
  • Sekitar 2007-2008 mendapat undangan kembali mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah.
  • Secara resmi ditunjuk sebagai muazin Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau sekitar 2017-2018.

Latar belakangnya yang tumbuh di Madinah turut memengaruhi gaya azannya. Ia mengenal tradisi azan Madinah sejak kecil sekaligus mempelajari karakteristik azan Mekkah setelah sering berkunjung ke kota suci tersebut. Dalam sebuah wawancara, Al Madani pernah mengisahkan pengalaman pertamanya mengumandangkan azan di Masjidil Haram. Ia mengaku terharu hingga menangis ketika melihat jemaah tawaf mengelilingi Kakbah sambil mendengar lantunan azannya.

Penghormatan Terakhir di Tanah Suci

Jenazah Al Madani disalatkan setelah salat Asar pada Senin di Masjidil Haram, Makkah. Setelah itu, ia dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, salah satu kompleks pemakaman bersejarah di Makkah. Lembaga yang mengelola pelayanan Dua Masjid Suci turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya salah satu muazin Masjidil Haram tersebut.

Sejumlah media mencatat bahwa penyebab kematiannya belum dijelaskan secara rinci oleh otoritas Saudi dalam pengumuman awal. Meski demikian, perhatian publik lebih tertuju pada warisan suara yang ia tinggalkan, terutama azan subuh dan takbir Idulfitri maupun Iduladha yang banyak dikenang jemaah.

Warisan Suara yang Tak Terlupakan

Wafatnya Sheikh Ibrahim Al Madani menutup perjalanan panjang seorang muazin yang selama bertahun-tahun dikenal melalui azan dan takbirnya di Masjidil Haram. Pada hari terakhirnya, suaranya masih terdengar dalam azan subuh sebelum kabar wafatnya menyebar dan memicu penghormatan dari jemaah serta masyarakat yang mengenalnya melalui siaran ibadah dari Masjidil Haram. Suara azan subuh yang syahdu itu kini tinggal kenangan, namun jejaknya akan terus hidup dalam ingatan umat yang pernah mendengarnya.