Trump Tawarkan Senjata AS ke China demi Taiwan? Ini Fakta Lengkapnya

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Trump Tawarkan Senjata AS ke China demi Taiwan? Ini Fakta Lengkapnya

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 28 September 2026 | Wacana penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan kembali memanas setelah Duta Besar AS untuk China, David Perdue, mengungkapkan pernyataan mengejutkan mengenai isi pembicaraan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam wawancara dengan pembawa acara Shannon Bream pada program Fox News Sunday, Perdue menyatakan bahwa Trump sempat menanyakan apakah China tertarik membeli senjata buatan Amerika.

Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Washington. Menurut Perdue, pertanyaan itu bukan disampaikan tanpa konteks. Trump disebut tengah menjelaskan posisi Washington terkait penjualan senjata ke Taiwan ketika ia melontarkan tawaran tersebut kepada Xi.

Konteks Pembicaraan: Taiwan dan Penjualan Senjata Global

Perdue menjelaskan bahwa Trump berargumen penjualan senjata AS ke Taiwan merupakan bagian dari praktik yang biasa dilakukan Washington terhadap berbagai negara di dunia. Karena itu, ia menyampaikan kepada Xi bahwa Amerika menjual persenjataan ke banyak pihak, dan bahkan bertanya apakah China ingin ikut membeli.

“Presiden Trump terus mengatakan, ‘Hei, kami menjual senjata kepada pihak-pihak lain di seluruh dunia.’ Dia bahkan sempat bertanya kepada Presiden Xi apakah beliau berminat untuk membelinya,” ujar Perdue, seperti dikutip dari kantor berita Associated Press.

Namun Perdue tidak merinci kapan tepatnya pertanyaan itu dilontarkan, jenis senjata apa yang dibahas, maupun bagaimana tanggapan Xi Jinping atas tawaran tersebut. Kedua pemimpin diketahui telah bertemu dua kali sepanjang tahun ini, yakni di Beijing pada Mei dan saat kunjungan kenegaraan Xi ke Washington pada September.

Rintangan Hukum yang Tidak Ringan

Meski tawaran itu disebut pernah disampaikan, realisasinya menghadapi hambatan hukum yang besar. Kongres AS telah membatasi ekspor barang-barang pertahanan yang tercantum dalam Daftar Amunisi AS ke China daratan sejak 1990. Pembatasan itu tetap berlaku dengan pengecualian terbatas dan memerlukan penentuan kepentingan nasional dari presiden.

Secara efektif, kebijakan tersebut telah mempertahankan embargo senjata AS terhadap Beijing selama beberapa dekade. Karena itu, wacana penjualan senjata langsung ke China dinilai tidak lazim dan berpotensi mengubah kebijakan AS terhadap China dan Taiwan yang telah bertahan selama beberapa generasi.

  • Kongres AS melarang ekspor barang pertahanan tertentu ke China daratan sejak 1990.
  • Pengecualian hanya dimungkinkan lewat keputusan presiden dengan alasan kepentingan nasional.
  • Embargo senjata AS terhadap Beijing telah berlaku efektif selama puluhan tahun.

Posisi AS terhadap Taiwan

Di sisi lain, Washington tetap menjadi pemasok senjata asing utama bagi Taiwan. Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979 menyatakan AS akan menyediakan barang dan jasa pertahanan kepada pulau tersebut dalam jumlah yang dianggap perlu agar Taiwan mampu mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang memadai.

Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali menuntut Washington mengakhiri dukungan militernya. China menilai penjualan senjata itu melanggar kedaulatannya dan mendestabilisasi hubungan di Selat Taiwan. Menjelang kunjungan Xi ke Washington, Kementerian Pertahanan China mendesak AS untuk sangat berhati-hati dalam masalah ini.

Pada Desember tahun lalu, pemerintahan Trump menyetujui paket bantuan senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan, paket terbesar yang pernah diumumkan hingga saat itu. Sementara itu, paket lain senilai sekitar 14 miliar dolar AS telah tertunda selama berbulan-bulan. Trump bahkan menggambarkan paket yang tertunda tersebut sebagai alat tawar-menawar yang sangat baik.

Bantahan soal Penundaan Dukungan

Dalam wawancara yang sama, Bream menyinggung kekhawatiran anggota Kongres dari Partai Republik maupun Demokrat mengenai tertundanya paket bantuan dan pesanan senjata untuk Taiwan. Ia kemudian bertanya apakah Washington sengaja menahan dukungan militer demi menjaga hubungan dengan Xi Jinping setelah kunjungan kenegaraan tersebut.

Perdue membantah anggapan itu. Menurutnya, Trump tetap menunjukkan dukungan kuat terhadap Taiwan dan telah menyetujui penjualan senjata dalam jumlah besar kepada pulau tersebut. Ia bahkan menyebut sikap Trump terhadap Taiwan sebagai yang paling tegas yang pernah ia lihat dari seorang presiden AS.

Perdue menambahkan, pembahasan mengenai kemungkinan penjualan senjata AS berikutnya kepada Taiwan masih berlangsung antara Trump dan Xi. Menurutnya, kedua pemimpin membicarakan hal tersebut setiap kali mereka bertemu. Hingga kini, belum ada keputusan resmi yang diumumkan mengenai paket senjata yang masih tertunda.

Dampak dan Sikap China

Isu ini menjadi sensitif karena menyentuh langsung kepentingan strategis kedua negara. Jika tawaran penjualan senjata AS ke China benar-benar terealisasi, langkah itu berpotensi membuka akses China terhadap teknologi militer Amerika, sesuatu yang selama ini dijaga ketat oleh Washington. Sebaliknya, Taiwan terus menjadi titik gesekan utama dalam hubungan AS-China.

China menegaskan tidak akan mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan, sementara Taiwan memiliki pemerintahan sendiri dengan presiden dan parlemen yang dipilih secara demokratis. Kondisi ini membuat setiap pernyataan pejabat AS mengenai penjualan senjata selalu mendapat perhatian besar, baik di Washington, Beijing, maupun Taipei.

Pernyataan Perdue sendiri dinilai sebagai upaya membela rekam jejak Trump di Taiwan, dengan klaim bahwa presiden tersebut telah mengizinkan pengiriman senjata jauh lebih banyak ke pulau itu dibandingkan para pendahulunya. Meski demikian, pernyataan itu juga memunculkan pertanyaan baru mengenai arah kebijakan AS terhadap China dan Taiwan ke depan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Gedung Putih maupun pemerintah China mengenai tanggapan Xi Jinping atas tawaran tersebut. Publik masih menunggu apakah wacana penjualan senjata AS ke China hanya menjadi bagian dari gaya negosiasi Trump, atau benar-benar akan dibahas dalam kerangka kebijakan yang lebih serius.