Siap-siap! Bulan Oktober 2026 Harga BBM Nonsubsidi Naik 5-11 Persen, Pertamax Ditahan di Harga Berapa?

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Siap-siap! Bulan Oktober 2026 Harga BBM Nonsubsidi Naik 5-11 Persen, Pertamax Ditahan di Harga Berapa?

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 28 September 2026 | JAKARTA – Kabar penting bagi para pengguna kendaraan bermotor di Indonesia. Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diprediksi mengalami kenaikan pada bulan Oktober 2026. Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga bensin olahan di pasar internasional, khususnya Mean of Platts Singapore (MOPS).

Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksikan harga BBM nonsubsidi akan naik dalam rentang 5 hingga 11 persen. Proyeksi tersebut dihitung berdasarkan rata-rata harga pasar pada periode 25 Agustus hingga 25 September 2026 yang menjadi dasar perhitungan harga BBM untuk bulan Oktober.

“Ya, tekanan naik masih ada. Harga Oktober dihitung dari rata-rata pasar 25 Agustus-25 September, dan pada periode itu harga bensin olahan di Singapura (MOPS) naik sekitar 14 persen,” ujar Yayan ketika dihubungi dari Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Menguat

Yayan memaparkan bahwa rata-rata MOPS bensin naik cukup signifikan, dari 111,4 dolar AS per barel pada jendela harga September menjadi sekitar 126,7 dolar AS per barel untuk jendela harga Oktober. Kenaikan ini mencerminkan tekanan yang kuat dari pasar minyak global.

Meski demikian, ada kabar sedikit melegakan dari sisi nilai tukar. Rupiah tercatat menguat dari Rp17.892 per dolar AS menjadi Rp17.630 per dolar AS. Penguatan rupiah ini sedikit menahan sebagian tekanan kenaikan harga yang berasal dari pasar minyak dunia.

“Bila mengikuti formula, harga BBM nonsubsidi naik 5-11 persen. Pertamax kemungkinan besar ditahan lagi, tetapi harga aslinya kini sekitar Rp18.350 per liter,” jelas Yayan.

Situasi ini menjadi perhatian publik, terutama karena harga keekonomian Pertamax sebenarnya sudah jauh di atas harga jual yang berlaku saat ini. Pemerintah diprediksi akan kembali menahan harga Pertamax agar tidak memberatkan masyarakat, meskipun secara formula seharusnya naik.

Rincian Proyeksi Harga BBM Nonsubsidi Oktober 2026

Berikut adalah rincian perkiraan harga BBM nonsubsidi pada Oktober 2026 jika mengikuti formula keekonomian:

  • Pertamax Green 95: dari Rp19.150 per liter diperkirakan naik menjadi Rp21.200 per liter
  • Pertamax Turbo: dari Rp19.600 per liter diperkirakan naik menjadi Rp21.450 per liter
  • Dexlite: dari Rp23.700 per liter diperkirakan naik menjadi Rp25.000 per liter
  • Pertamina Dex: dari Rp25.200 per liter diperkirakan naik menjadi Rp26.600 per liter

Sementara itu, untuk Pertamax, Yayan memperkirakan harga jualnya kemungkinan besar akan tetap ditahan pemerintah meski harga keekonomiannya sudah mencapai sekitar Rp18.350 per liter. Artinya, pengguna Pertamax masih bisa bernapas lega untuk sementara waktu.

Pemerintah Diminta Transparan

Yayan menyarankan agar pemerintah transparan dalam mengumumkan kebijakan harga BBM. Menurutnya, kenaikan kecil yang dapat diperkirakan akan lebih mudah diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan kejutan harga yang tiba-tiba.

“Yang sebaiknya dilakukan, untuk jangka pendek adalah umumkan harga beserta alasannya secara terbuka. Kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima daripada kejutan,” katanya.

Untuk jangka menengah, Yayan merekomendasikan agar penyesuaian harga dilakukan lebih sering dengan langkah kecil, sehingga tidak menumpuk menjadi lonjakan besar yang memberatkan masyarakat di kemudian hari.

Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi Tidak Naik

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Hal ini disampaikannya di tengah ketidakpastian global akibat perang di Selat Hormuz dan perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Menurut Airlangga, Indonesia masih bisa meredam dampak ketidakpastian global tersebut melalui bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Alhamdulillah untuk Indonesia transmisi ini masih bisa diredam oleh buffer APBN kita. Sehingga kalau harga minyak di bawah 100 dolar AS per barel, sekarang harga pembelian pemerintah khusus yang non-subsidi itu di bawah 100 dolar AS per barel, sekitar 90-an dolar AS. Ini sampai akhir tahun kita masih bisa pertahankan, tidak ada perubahan kenaikan harga, terutama BBM bersubsidi,” ujar Airlangga dalam acara ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah terus menyiapkan stok BBM, khususnya subsidi, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pemerintah juga mendorong agar penyaluran subsidi semakin tepat sasaran dan dinikmati oleh masyarakat yang memang berhak.

Bahlil juga menyoroti adanya pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Ia mengimbau masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang memadai untuk ikut menjaga agar BBM subsidi tidak digunakan oleh kelompok yang sebenarnya mampu membeli BBM nonsubsidi.

Proyeksi ICP Masih Tinggi

Pada pertengahan September 2026, Kementerian ESDM memproyeksikan Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) tetap berada pada level tinggi, yakni di kisaran 83 hingga 87 dolar AS per barel. Proyeksi tersebut dikaitkan dengan kendala pasokan di Selat Hormuz serta perkiraan penurunan cadangan minyak di Amerika Serikat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi memang mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Artinya, setiap perubahan pada ICP otomatis akan memengaruhi harga BBM nonsubsidi.

Dengan demikian, masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM nonsubsidi pada Oktober 2026 mendatang, terutama bagi pengguna Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Namun, untuk BBM bersubsidi, pemerintah memastikan harga tidak akan naik hingga akhir tahun.