Fabio Borini Pensiun di Usia 35 Tahun, Akhiri Karier 17 Tahun Penuh Kenangan

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Fabio Borini Pensiun di Usia 35 Tahun, Akhiri Karier 17 Tahun Penuh Kenangan

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Dunia sepak bola kembali kehilangan salah satu penyerang yang pernah dianggap sebagai talenta muda paling bersinar di Italia. Fabio Borini resmi mengumumkan pensiun dari sepak bola profesional pada usia 35 tahun, menutup perjalanan karier yang membentang selama 17 tahun dan membawanya menjelajahi berbagai liga top Eropa.

Keputusan itu disampaikan Borini melalui unggahan emosional di media sosial pada Rabu malam. Pesan perpisahannya menyentuh banyak pihak, terutama ketika ia mengenang momen pertama kali meninggalkan Italia untuk mengejar mimpi di Inggris.

“Semua ini dimulai dengan sebuah penerbangan. Terima kasih Chelsea. Saya berusia 16 tahun. Sebuah penerbangan yang saya habiskan dengan air mata di mata, memulai perjalanan karier saya tanpa tujuan yang jelas, selain impian yang ingin saya capai,” tulis Borini dalam pernyataannya.

Ia menegaskan bahwa perjalanan panjangnya telah membentuk masa lalu, masa kini, dan masa depannya. “Hari ini, seperti hari ketika saya duduk di pesawat menuju London, saya merasakan emosi yang sama tentang apa yang ada di depan. Ketakutan, kebahagiaan, keberanian, ketidakpastian, impian, kesuksesan, gairah, dan pengorbanan,” lanjutnya.

Perjalanan Karier dari Bologna hingga Anfield

Borini merupakan produk akademi Bologna yang kemudian diboyong Chelsea pada 2007 saat berusia 16 tahun. Namun, namanya benar-benar menanjak saat memperkuat AS Roma. Bersama klub ibu kota Italia itu, ia mencatatkan 24 penampilan dan sembilan gol dalam satu musim yang mengesankan.

Penampilan apiknya bersama Roma membuat Liverpool kepincut. Pada musim panas 2012, The Reds memboyongnya dengan nilai transfer 13,3 juta euro. Sayangnya, musim debutnya di Anfield terganggu cedera. Ia hanya mencatatkan 38 penampilan dan tiga gol selama berseragam Liverpool.

Pada musim 2013/2014, Borini dipinjamkan ke Sunderland sebelum akhirnya bergabung permanen dengan The Black Cats pada 2015. Di sana, ia menjadi figur yang dicintai suporter. Gol perdananya lahir di derbi Wear-Tyne yang dimenangi 2-1, dan ia mencetak gol pembuka saat Sunderland kalah di final Piala Liga dari Manchester City pada era Gus Poyet.

Kenangan itu masih membekas di hati para penggemar Sunderland. Berikut beberapa kenangan yang mereka bagikan:

  • Gol pembuka melawan Manchester City di final Piala Liga 2014 di Wembley.
  • Penalti melawan Newcastle di St James’ Park beserta selebrasinya yang legendaris.
  • Kemampuan mengambil penalti yang andal dan selebrasi uniknya.
  • Etos kerja tanpa henti, fleksibilitas taktik, dan koneksi emosional dengan fans.

Setelah meninggalkan Inggris, Borini melanjutkan petualangan di Italia bersama AC Milan dan Hellas Verona. Ia juga sempat merumput di Turki bersama Fatih Karagumruk, kembali ke Italia memperkuat Sampdoria, sebelum menutup karier di Inggris bersama Salford City di League Two.

Di level internasional, Borini mengoleksi satu caps untuk timnas senior Italia pada 2012. Meski jumlahnya terbatas, pencapaian itu tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang penyerang yang dikenal gigih dan disiplin.

Langkah Baru Setelah Gantung Sepatu

Kontrak Borini berakhir pada 30 Juni lalu, dan ia tanpa klub musim ini setelah Salford menembus play-off League Two musim lalu. Kini, ia membuka lembaran baru dalam hidupnya. Dalam wawancaranya dengan Gianlucadimarzio.com, Borini mengungkapkan bahwa ia telah menempuh pendidikan tinggi untuk mempersiapkan masa depan.

“Ho seguito un percorso di studi per terminare le superiori italiane e per avere la possibilità di frequentare queste università. La PFA mette a disposizione queste lauree, in collaborazione con l’Università di Portsmouth, per giocatori in attività e no,” ujarnya.

Ia menyebut gelar yang diraihnya dapat diterapkan tidak hanya di sepak bola dan peran direktur olahraga, tetapi juga di klub voli atau basket. Saat ini, ia mengaplikasikannya di klub padel miliknya. Borini juga tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke Italia.

“Tornare in Italia è sempre un’opzione. Che ci sia l’obiettivo non so, nel calcio gli obiettivi sono personali. A oggi non ci si può limitare a un solo club o a un solo paese,” tegasnya.

Pensiunnya Borini menandai akhir dari karier yang penuh warna. Ia dikenal sebagai penyerang dengan ketekunan dan dedikasi tinggi, serta kemampuan beradaptasi yang baik di lingkungan yang berbeda. Dari awal yang sederhana di Bologna hingga mencapai klub-klub besar seperti Chelsea, Liverpool, dan AC Milan, Borini menunjukkan bahwa dengan kerja keras, impian dapat diwujudkan.

Banyak pihak merenungkan perjalanan kariernya yang menginspirasi. Liverpool pun memberikan ucapan selamat kepada mantan penyerangnya setelah pengumuman pensiun tersebut. Kini, publik sepak bola menantikan kontribusi Borini berikutnya, baik sebagai pelatih, direktur olahraga, atau peran lain yang sesuai dengan pengalamannya.

Sumber Berita: Telisik.id, Samp News 24, AOL, Bisnisia.id, Roma News

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda