Gempa Bali dan Lombok Guncang Dini Hari, Warga Karangasem Diminta Waspada Ancaman Gempa dan Erupsi Gunung Agung

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Gempa Bali dan Lombok Guncang Dini Hari, Warga Karangasem Diminta Waspada Ancaman Gempa dan Erupsi Gunung Agung

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Getaran gempa bumi kembali dirasakan warga Bali dan Lombok pada Rabu dini hari, 7 Oktober 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 5,2 yang kemudian direvisi menjadi magnitudo 5,0 itu mengguncang Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, dan getarannya terasa hingga Kuta dan Denpasar, Bali. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa wilayah Bali dan Lombok memang berada di kawasan rawan gempa yang membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan.

Penyebab Gempa Bukan Sesar Aktif Dangkal

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa tektonik tersebut bukan merupakan gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di daratan Lombok. Gempa ini tergolong gempa intraslab, yakni gempa yang bersumber dari deformasi internal di dalam Lempeng Australia yang menunjam ke bawah kawasan Lombok-Bali.

Menurutnya, akumulasi tegangan pada slab lempeng yang menunjam telah melampaui daya tahan batuan, sehingga memicu patahan turun atau normal fault di dalam tubuh lempeng samudra. Kondisi itu memancarkan gelombang seismik dengan daya sebar guncangan yang sangat luas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di darat, sekitar 9 kilometer tenggara Lombok Barat, dengan kedalaman 92 kilometer. Gempa terjadi pada pukul 04.15 WITA atau 03.15 WIB. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Estimasi peta guncangan BMKG menunjukkan intensitas mencapai IV-V MMI di Mataram dan III-IV MMI di Lombok Tengah, wilayah yang menjadi lokasi Sirkuit Mandalika. Getaran juga dirasakan hingga Kuta dan Denpasar, Bali. Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan material akibat gempa tersebut.

BNPB Perkuat Kesiapsiagaan Warga Karangasem

Di sisi lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Karangasem, Bali, melalui program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (DESTANA). Program ini menyasar risiko bencana geologi dan hidrometeorologi, termasuk gempa bumi, erupsi Gunung Agung, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga kekeringan.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat dilakukan secara partisipatif dengan mempertimbangkan karakteristik dan potensi ancaman di setiap wilayah. Pendampingan itu melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem.

Salah satu kegiatan fasilitasi DESTANA berlangsung di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, pada Senin, 5 Oktober 2026. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Karangasem Tahun 2025-2029, wilayah tersebut memiliki potensi risiko tinggi terhadap sejumlah bencana alam.

  • Gempa bumi
  • Erupsi Gunung Agung
  • Tanah longsor
  • Banjir
  • Angin puting beliung
  • Kekeringan

“Keragaman potensi ancaman tersebut membutuhkan strategi pengurangan risiko bencana yang terstruktur hingga unit terkecil masyarakat,” kata Berton dalam keterangannya di Surakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Melalui program DESTANA, masyarakat diberikan pendampingan untuk mengenali berbagai potensi bahaya yang dapat terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. Warga juga dilibatkan dalam pemetaan sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan ketika menghadapi situasi darurat.

MotoGP Mandalika Tetap Berjalan

Gempa yang terjadi dua hari jelang rangkaian MotoGP Indonesia 2026 itu sempat menjadi perhatian tersendiri. Sebagian anggota paddock MotoGP sudah tiba di Lombok setelah menyelesaikan seri sebelumnya di Jepang, dan sejumlah di antaranya dilaporkan turut merasakan getaran.

Meski demikian, tidak ada indikasi bahwa kejadian tersebut akan mengubah jadwal balapan. Aktivitas MotoGP di Sirkuit Mandalika tetap dijadwalkan berlangsung mulai Jumat, 9 Oktober 2026, dengan sesi latihan bebas pertama pada pagi hari dan dilanjutkan sesi Practice pada sore hari.

Kesimpulan

Gempa magnitudo 5,0 yang mengguncang Lombok dan terasa hingga Bali menjadi bukti nyata bahwa ancaman bencana geologi di kawasan ini tidak bisa diabaikan. Karakter gempa intraslab dengan kedalaman 92 kilometer membuat guncangannya menyebar luas, meski tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan.

Karena itu, upaya mitigasi seperti program DESTANA yang digalakkan BNPB di Karangasem menjadi langkah penting. Warga diharapkan terus meningkatkan pemahaman terhadap potensi bahaya, mengenali jalur evakuasi, dan memetakan sumber daya lokal agar siap menghadapi situasi darurat kapan pun terjadi.

Sumber Berita: Antara/BNPB, Bola.com, JPNN.com Bali

Penulis: Ahmad Yusuf
Editor: Redaksi Bali