Gayatri Putri News – 05 Oktober 2026 | Keamanan siber pada kendaraan listrik kembali menjadi sorotan setelah pengujian yang dilakukan pakar keamanan siber di Australia mengungkap kerentanan serius pada pikap listrik BYD Shark 6. Kendaraan berbobot 2,6 ton tersebut terbukti dapat dibobol dari jarak jauh, dengan sejumlah fitur yang seharusnya terlindungi berhasil dikendalikan tanpa hambatan sandi yang memadai.
Pengujian ini dilakukan oleh pendiri Fortify Labs Canberra, Dan Hreszczuk, yang menghabiskan waktu sekitar dua pekan untuk menganalisis sistem software kendaraan tersebut. Dari hasil analisis itu, ia berhasil mengambil alih kendali atas beberapa fungsi sekunder pada BYD Shark 6. Menurut Hreszczuk, proses pembobolan tersebut jauh lebih mudah daripada perkiraan awal timnya.
“Itu lebih mudah dari yang kami perkirakan,” ujar Hreszczuk, pakar keamanan siber dari Fortify Labs, seperti dikutip dari laporan Suara Landak.
Pengujian yang dilakukan bukan semata untuk mencari celah keamanan, melainkan bertujuan memetakan sejauh mana produsen kendaraan memiliki potensi akses jarak jauh terhadap data yang tersimpan di dalam kendaraan. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai seberapa ketat perlindungan data konsumen pada kendaraan listrik modern yang semakin terhubung dengan internet.
Detail Temuan Kerentanan
Berdasarkan pengujian tersebut, beberapa aspek penting yang menjadi perhatian antara lain:
- Fungsi sekunder kendaraan dapat dikendalikan dari jarak jauh tanpa autentikasi sandi yang kuat.
- Sistem software kendaraan dapat dianalisis dan dieksploitasi dalam waktu relatif singkat, hanya sekitar dua pekan.
- Potensi akses jarak jauh oleh produsen terhadap data kendaraan menjadi perhatian utama dalam pengujian ini.
- Kendaraan berbobot 2,6 ton ini menunjukkan bahwa ukuran dan kompleksitas kendaraan tidak menjamin keamanan siber yang lebih baik.
Kerentanan pada BYD Shark 6 ini menambah daftar panjang tantangan keamanan siber yang dihadapi industri kendaraan listrik. Seiring meningkatnya konektivitas fitur pada mobil modern, permukaan serangan bagi peretas juga semakin luas. Fitur-fitur yang terhubung ke internet, mulai dari pembaruan perangkat lunak hingga kendali jarak jauh, membuka peluang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasi celah keamanan.
Implikasi bagi Konsumen dan Produsen
Temuan ini menimbulkan implikasi serius bagi konsumen maupun produsen. Bagi konsumen, risiko kebocoran data pribadi dan potensi penguasaan kendaraan oleh pihak lain menjadi ancaman nyata. Bagi produsen, insiden semacam ini dapat merusak reputasi serta kepercayaan pasar terhadap keandalan produk mereka.
Para ahli keamanan siber menekankan pentingnya standar perlindungan yang lebih ketat pada kendaraan listrik. Produsen dituntut tidak hanya fokus pada inovasi teknologi dan performa, tetapi juga pada penguatan sistem keamanan siber sejak tahap perancangan. Audit keamanan berkala dan pengujian penetrasi independen menjadi langkah yang semakin krusial untuk mengidentifikasi celah sebelum dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak BYD terkait temuan tersebut. Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa transformasi menuju era kendaraan listrik harus dibarengi dengan kesadaran akan risiko keamanan siber yang menyertainya. Perlindungan data dan kendali kendaraan yang aman bukan lagi fitur tambahan, melainkan kebutuhan mendasar bagi setiap kendaraan yang terhubung ke jaringan digital.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






