Xavi Akui Salah Taktik, Belanda Bangkit dan Tahan Yunani 2-2

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Xavi Akui Salah Taktik, Belanda Bangkit dan Tahan Yunani 2-2

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 03 Oktober 2026 | Stadion Toumba di Thessaloniki menjadi saksi drama enam gol yang gagal tercipta, namun menyuguhkan pertarungan sengit antara Yunani dan Belanda dalam lanjutan UEFA Nations League. Tim tamu harus puas membawa pulang satu poin setelah bermain imbang 2-2, meski sempat tertinggal dua gol pada babak pertama. Laga yang berlangsung Kamis malam waktu setempat itu meninggalkan banyak catatan, terutama dari kubu Belanda yang tampil jauh di bawah standar pada 45 menit awal.

Awal Malam yang Buruk bagi De Oranje

Belanda memulai pertandingan dengan performa yang jauh dari harapan. Yunani, yang tampil di hadapan pendukung sendiri, langsung mengambil inisiatif dan memanfaatkan celah di lini pertahanan lawan. Fotis Ioannidis membuka keunggulan tuan rumah lebih dulu, sebelum Georgios Masouras menggandakan skor sebelum turun minum. Dua gol tersebut lahir dari kelengahan Belanda dalam duel udara dan transisi bertahan yang lambat.

Pelatih Belanda, Xavi Hernandez, tidak menampik bahwa penampilan timnya pada paruh pertama sangat mengecewakan. Ia secara terbuka mengakui bahwa kekacauan yang terjadi di lapangan merupakan tanggung jawabnya sebagai pelatih.

“Saya tidak pernah senang dengan hasil imbang. Tetapi babak pertama sangat buruk. Itu kesalahan saya sebagai pelatih. Mungkin saya membuat para pemain menjadi tidak jelas dengan melakukan terlalu banyak perubahan,” ujar Xavi, mengutip pernyataan resminya kepada media.

Perubahan Besar di Babak Kedua

Menyadari situasi genting, Xavi langsung melakukan tiga pergantian pemain di awal babak kedua. Keputusan itu terbukti mengubah jalannya pertandingan. Ryan Gravenberch, Noa Lang, dan Tijjani Reijnders masuk untuk memberikan energi baru serta memperbaiki sistem permainan yang sebelumnya macet.

Belanda mulai mendominasi penguasaan bola dan menekan pertahanan Yunani. Virgil van Dijk memperkecil ketertinggalan melalui sundulan khasnya, sebelum Reijnders menjadi penyelamat dengan gol penyama kedudukan satu menit sebelum waktu normal berakhir. Gol tersebut memastikan Belanda pulang dengan satu poin dan mempertahankan catatan tak terkalahkan sejak Xavi menangani tim nasional.

Kemarahan di Ruang Ganti

Bek kanan Belanda, Denzel Dumfries, mengungkapkan bahwa suasana di ruang ganti saat jeda turun minum sangat panas. Ia menyebut adanya luapan kemarahan dari pelatih dan antar pemain sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap performa buruk di babak pertama.

“Anda merasakan kemarahan dari pelatih dan di antara kami sendiri. Maka, kami harus melupakan babak pertama dan keluar dengan energi yang tepat,” ujar Dumfries.

Dumfries juga secara terbuka mengakui bahwa gol pembuka Yunani lahir dari kesalahannya yang kalah dalam duel udara. Menurutnya, kelengahan seperti itu tidak boleh terulang, terutama setelah sebelumnya tim juga kecolongan saat menghadapi Jerman dan Serbia.

Gol yang Dianulir dan Kontroversi VAR

Belanda sebenarnya hampir menyelesaikan comeback sempurna. Dumfries sempat mencetak gol tambahan yang berpotensi menjadi gol kemenangan, namun wasit Marco Guida menganulirnya setelah meninjau layar monitor VAR. Keputusan tersebut memicu perdebatan, terutama terkait tafsiran offside dan kontrol bola bek Yunani, Panagiotis Retsos, dalam proses terjadinya gol.

Meski demikian, hasil imbang ini tetap menjadi modal berharga bagi Belanda. Karakter pantang menyerah yang ditunjukkan para pemain menjadi sinyal positif, meski kerapuhan lini pertahanan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Xavi dan staf pelatihnya.

Evaluasi Menuju Kualifikasi Piala Dunia

Dengan hasil ini, Belanda mengamankan satu poin krusial di markas lawan. Namun, Xavi menegaskan bahwa timnya tidak bisa terus mengandalkan kebangkitan di babak kedua. Evaluasi menyeluruh terhadap lini pertahanan dan konsistensi permainan menjadi fokus utama menjelang pertandingan Kualifikasi Piala Dunia berikutnya.

Yunani, di sisi lain, menunjukkan bahwa mereka mampu memberikan perlawanan sengit kepada tim-tim besar. Dua gol cepat di babak pertama menjadi bukti efektivitas serangan balik mereka, meski akhirnya harus puas berbagi angka di hadapan pendukung sendiri.

Pertandingan ini menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola modern, keunggulan dua gol tidak pernah cukup aman. Belanda belajar keras bahwa kesalahan taktik dan kelengahan individu bisa berujung petaka, sementara Yunani membuktikan bahwa mereka bukan lawan yang bisa diremehkan.

Sumber Berita: detikSport, RRI.CO.ID, Bola.com, Pasjabar.com

Penulis: Novitasari Dewi Salusi
Editor: Redaksi Olahraga