Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Fenomena iklim El Nino yang saat ini sedang berlangsung diprediksi akan menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa El Nino akan terus menguat dan mencapai puncaknya pada Desember 2026, dengan probabilitas hampir 100 persen bertahan hingga Februari 2027. Kondisi ini memicu kekhawatiran global akan dampak cuaca ekstrem yang lebih luas.
Peningkatan Suhu Laut yang Belum Pernah Terjadi
Data terbaru menunjukkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4, Samudra Pasifik ekuator, telah melonjak drastis. Pada Juni 2026, anomali tercatat +1,6°C di atas normal, lalu naik menjadi +2,5°C pada Agustus. Memasuki Oktober, anomali mencapai +3,2°C, dan diproyeksikan mencapai +3,7°C pada akhir tahun. Angka ini jauh melampaui rekor sebelumnya sebesar +2,6°C yang terjadi pada 2015-2016. Bahkan, pada 5 Oktober 2026, suhu permukaan laut di wilayah tersebut sempat menembus 30,06°C, pertama kali dalam sejarah pencatatan.
“El Nino tidak menciptakan panas tambahan di planet ini. Ia melepaskan panas yang telah disimpan laut di bawah permukaannya. Itulah sebabnya fenomena dengan intensitas tinggi sering menyebabkan tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat, seperti 2024,” jelas Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.
Dampak Global: Dari Kekeringan hingga Banjir
El Nino mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia. Di Brasil, UNICEF melaporkan lebih dari 30 juta anak-anak terpapar dua atau lebih risiko iklim, dan kondisi ini diperburuk oleh El Nino yang kuat. Studi UNICEF menunjukkan bahwa pada El Nino 2024, banjir di Rio Grande do Sul mengganggu pendidikan 741.000 siswa, sementara kekeringan di Amazon berdampak pada 436.000 anak. Secara total, 1,17 juta anak dan remaja mengalami gangguan sekolah.
“El Nino menciptakan skenario kekeringan di utara dan hujan lebih intens di selatan. Dampaknya sangat terasa pada anak-anak, mulai dari kesehatan, gizi, akses air, hingga pendidikan,” demikian pernyataan UNICEF.
Di belahan dunia lain, El Nino juga meningkatkan risiko kekeringan dan banjir. Wilayah Eropa mungkin tidak merasakan dampak langsung yang spesifik, tetapi perubahan pola sirkulasi atmosfer tetap dipantau ketat karena berpotensi mempengaruhi cuaca musim depan.
Peringatan Ilmuwan dan Proyeksi Masa Depan
Klimatolog Zeke Hausfather menyebut El Nino tahun ini “terus menuju perairan yang belum pernah dijelajahi”. Analisisnya menunjukkan anomali harian telah mencapai +3,4°C, sementara rata-rata bulan September sekitar +2,9°C. Beberapa model musiman bahkan memproyeksikan puncak di atas +4°C. Meteorolog Ben Noll juga mencatat bahwa pusat prakiraan ECMWF memperkirakan beberapa bulan berturut-turut dengan nilai rekor.
WMO menekankan bahwa El Nino tahun ini dapat menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950, dengan implikasi serius bagi percepatan perubahan iklim akibat ulah manusia. Kombinasi El Nino dan pemanasan global dapat memicu cuaca ekstrem yang lebih sering dan intens.
Kesiapan dan Mitigasi
Pemerintah dan organisasi internasional didesak untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah-langkah adaptasi seperti sistem peringatan dini, pengelolaan air, dan perlindungan sosial bagi kelompok rentan menjadi kunci. UNICEF menekankan pentingnya investasi dalam ketahanan iklim anak-anak, karena mereka adalah kelompok yang paling terdampak.
Dengan El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ke depan, dunia harus bersiap menghadapi konsekuensi yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Pemantauan berkelanjutan dan aksi iklim yang ambisius menjadi semakin mendesak.
Sumber berita: WMO, UNICEF, PROTV News, Observador, Novinky.cz, Newsbomb.gr.
Penulis: Andini Rahmawati
Editor: Budi Santoso
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






