Skandal Match Fixing Guncang AFF Cup 2026: Soukphachan Lueanthala Ditangkap, Laos Digilas 4 Laga Tanpa Kemenangan

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Skandal Match Fixing Guncang AFF Cup 2026: Soukphachan Lueanthala Ditangkap, Laos Digilas 4 Laga Tanpa Kemenangan

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Kasus dugaan pengaturan skor atau match fixing kembali menghantam sepak bola Asia Tenggara. Winger Timnas Laos, Soukphachan Lueanthala, dilaporkan ditangkap pihak berwenang karena diduga terlibat dalam praktik curang sepanjang gelaran Piala AFF atau ASEAN Championship 2026. Kabar penangkapan ini pertama kali mencuat melalui laporan media Inggris, The Guardian, dan langsung menjadi sorotan publik sepak bola regional.

Soukphachan Lueanthala bukan nama asing di sepak bola Laos. Pemain yang memperkuat klub Salavan United ini dikenal sebagai penggawa sayap Timnas Laos. Namun kini namanya justru terseret dalam pusaran skandal yang jauh lebih serius daripada sekadar catatan statistik di lapangan hijau.

Kronologi Penangkapan Soukphachan Lueanthala

Menurut informasi yang dihimpun, penangkapan Soukphachan Lueanthala terjadi setelah sejumlah rekannya di tim nasional menjalani pemeriksaan intensif oleh kepolisian. Pemeriksaan tersebut berlangsung tak lama setelah skuad Laos kembali dari laga terakhir penyisihan Grup B melawan Myanmar pada 4 Agustus 2026.

Dalam pertandingan yang digelar di kandang Myanmar itu, Laos menelan kekalahan telak 2-7. Hasil tersebut menjadi puncak dari rangkaian penampilan buruk Timnas Laos yang sepanjang fase grup selalu menelan kekalahan tanpa satu pun poin.

Seorang sumber yang memahami jalannya penyelidikan mengungkapkan bahwa Lueanthala diduga berperan sebagai penghubung antara pihak-pihak yang terlibat dalam sindikat pengaturan skor. Ia disebut memberikan instruksi kepada pemain lain serta menjadi perantara dengan organisasi yang menangani perjudian ilegal. Sindikat tersebut diyakini berbasis di Vietnam.

Rangkaian Hasil Buruk Laos di Piala AFF 2026

Penampilan Timnas Laos di bawah asuhan pelatih asal Serbia, Vladica Grujic, menjadi salah satu sorotan utama. Dalam empat pertandingan fase grup, Laos selalu tumbang dengan skor yang mencolok:

  • Laos 0-5 Thailand
  • Malaysia 4-0 Laos
  • Filipina 4-1 Laos
  • Myanmar 7-2 Laos

Sejumlah momen di lapangan turut memicu kecurigaan publik dan pengamat. Pemain Laos, Viengxay Sydavong, tercatat mencetak dua gol bunuh diri, masing-masing saat melawan Malaysia dan Filipina. Sementara itu, Phetdavanh Somsanith menerima kartu merah langsung dalam laga kontra Thailand dan kembali diusir dari lapangan ketika menghadapi Filipina.

Pada laga terakhir melawan Myanmar, Sayfon Keohanam juga diganjar kartu merah langsung. Tak hanya itu, penampilan kiper Keo Souvannasangsgo saat Laos kalah 0-4 dari Malaysia ikut disorot. Pada menit ke-84, kiper tersebut terlihat menarik tangannya lalu menjatuhkan diri ketika bola hasil tendangan bebas Wan Kuzain mengarah ke tengah gawang.

LFF Serahkan Kasus ke Kepolisian

Federasi Sepak Bola Laos atau LFF sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan resmi pada 7 Agustus 2026. Dalam pengumuman tersebut, LFF mengonfirmasi telah membuka penyelidikan internal terkait dugaan suap, perjudian ilegal, dan manipulasi pertandingan. Setelah penyelidikan awal, federasi melimpahkan kasus ini kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum.

Namun hingga kini, baik Kepolisian Laos maupun LFF belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penangkapan Soukphachan Lueanthala. Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC juga disebut belum memberikan komentar terkait perkembangan kasus ini.

Bayang-Bayang Kasus Serupa di Masa Lalu

Dugaan match fixing yang menyeret nama Soukphachan Lueanthala bukanlah yang pertama di sepak bola Laos. Pada 2020, AFC menjatuhkan hukuman larangan bermain seumur hidup kepada kiper Laos, Thipphonexay Inthavongsa, setelah terbukti terlibat dalam upaya pengaturan pertandingan melawan Hong Kong pada 2017.

Dalam kasus tersebut, AFC juga melarang dua pemain Timnas Laos lainnya, Khampheng Sayavutthi dan Lembo Saysana, untuk terlibat dalam seluruh aktivitas yang berhubungan dengan sepak bola seumur hidup. Hukuman itu mencakup larangan bermain maupun mengambil peran lain di dunia sepak bola.

Jika Soukphachan Lueanthala terbukti bersalah, ia berpotensi menghadapi sanksi serupa. Hukuman larangan seumur hidup tentu akan mengakhiri karier profesionalnya secara total, tidak hanya sebagai pemain tetapi juga dalam peran apa pun di industri sepak bola.

Faktor Finansial di Balik Praktik Curang

Seorang sumber yang dekat dengan Timnas Laos mengungkapkan bahwa praktik pengaturan skor telah lama membayangi sepak bola Laos. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi finansial para pemain yang memprihatinkan. Sumber tersebut menyebut bahwa hingga tahun lalu, pemain hanya menerima sekitar 10 dolar AS per hari ketika dipanggil memperkuat tim nasional.

Bahkan, sumber yang sama mengaku pernah mendengar pengakuan seorang pemain yang terlibat dalam pengaturan tiga pertandingan dengan bayaran 10.000 dolar AS untuk setiap laga. Meski demikian, semua tuduhan tersebut belum dapat dikonfirmasi oleh pihak berwenang.

Kasus yang menimpa Soukphachan Lueanthala menjadi pengingat keras bahwa persoalan match fixing tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepak bola Asia Tenggara membutuhkan pengawasan lebih ketat, transparansi finansial bagi para pemain, serta penegakan hukum yang tegas agar integritas kompetisi tetap terjaga. Tanpa langkah nyata dari federasi dan otoritas terkait, kepercayaan publik terhadap sepak bola kawasan akan terus tergerus dari waktu ke waktu.

Sumber Berita: The Guardian, Tirto.id, Detik Sport, Detik Bali, dan HHT Online.

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda