Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Presiden Prabowo Subianto meminta sistem rekrutmen TNI dan Polri lebih mengutamakan kemampuan intelektual, termasuk membuka peluang bagi calon yang berkacamata. Permintaan tersebut disampaikan saat memberi taklimat kepada 800 perwira tinggi TNI dan Polri di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Kebijakan ini menjadi sorotan karena Prabowo menilai dinamika global menghadirkan tantangan keamanan yang berubah, termasuk perang yang tidak lagi berlangsung secara konvensional. Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman setelah mengikuti taklimat.
Alasan di Balik Dorongan Intelektual
Dudung menjelaskan bahwa perhatian Prabowo terhadap kemampuan intelektual berkaitan dengan kebutuhan prajurit menghadapi perkembangan teknologi dan bentuk konflik baru. Menurutnya, tantangan keamanan modern menuntut personel yang mampu mengoperasikan sistem persenjataan canggih, memahami dunia siber, serta mengambil keputusan cepat berbasis data.
Dalam pandangan pemerintah, rekrutmen yang mengutamakan intelektual tidak berarti mengabaikan aspek fisik. Keduanya dinilai perlu berjalan seimbang agar prajurit tetap tangguh secara jasmani sekaligus tajam secara berpikir.
Rekrutmen TNI Polri dan Peluang bagi Calon Berkacamata
Prabowo secara khusus menyoroti aturan yang selama ini membatasi calon prajurit dengan kondisi penglihatan tertentu. Ia mendorong agar calon yang berkacamata tetap memiliki peluang selama memenuhi standar kompetensi lain. Langkah ini diharapkan membuka akses lebih luas bagi generasi muda berprestasi akademik.
Beberapa poin yang menjadi perhatian dalam arah kebijakan rekrutmen ini antara lain:
- Penguatan seleksi kemampuan intelektual dan literasi digital.
- Penyesuaian syarat kesehatan, termasuk penglihatan, tanpa mengorbankan standar operasional.
- Peningkatan kompetensi personel dalam menghadapi konflik nonkonvensional.
- Pemanfaatan teknologi dalam proses seleksi agar lebih objektif dan transparan.
Dampak bagi Institusi dan Generasi Muda
Jika diterapkan, perubahan sistem rekrutmen TNI Polri berpotensi memperluas basis talenta di kedua institusi. Akademisi dan pengamat pertahanan menilai langkah ini sejalan dengan kebutuhan transformasi militer modern yang menempatkan sumber daya manusia berkualitas sebagai faktor utama.
Meski demikian, implementasi di lapangan masih menunggu kajian lebih lanjut dari kementerian dan lembaga terkait. Publik berharap kebijakan ini tidak sekadar wacana, melainkan diikuti aturan teknis yang jelas dan terukur.
Taklimat kepada 800 perwira tinggi tersebut menjadi penanda arah baru pembinaan personel TNI dan Polri di era tantangan keamanan yang semakin kompleks. Fokus pada intelektual diharapkan melahirkan prajurit yang adaptif, profesional, dan siap menghadapi spektrum ancaman yang terus berkembang.
Penulis: Tim Redaksi Suara Landak
Editor: Redaksi Suara Landak
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






