Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | JAKARTA – Dunia tengah menghadapi badai krisis ekonomi yang kian memburuk. Dari Timur Tengah hingga Eropa, tekanan ekonomi memicu gejolak sosial dan politik yang mengancam stabilitas global. Iran dilaporkan berada di ambang kehancuran ekonomi dengan inflasi mencapai 85 persen, sementara Prancis dilanda demonstrasi pelajar terbesar dalam beberapa dekade. Di sisi lain, pembangunan pusat data yang masif menimbulkan kekhawatiran krisis air di berbagai daerah.
Iran: Menteri Mundur, Rial Anjlok, Rakyat Menderita
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengundurkan diri di tengah memburuknya krisis ekonomi yang melanda negara itu. Presiden Masoud Pezeshkian menerima pengunduran diri tersebut, dengan alasan pribadi. Namun, mundurnya Paknejad terjadi hanya beberapa hari setelah muncul tuduhan bahwa lembaga perantara penjualan minyak Iran menunggak hampir US$2 miliar kepada National Iranian Oil Company (NIOC).
Krisis ekonomi Iran semakin dalam dengan melemahnya nilai tukar rial lebih dari 10 persen dalam sebulan terakhir. Dolar kini diperdagangkan sekitar 269.000 toman (2,69 juta rial) per US$1, sementara inflasi pangan mencapai 130 persen dan inflasi umum 85 persen. Perekonomian Iran mengalami kontraksi sekitar 10 persen pada kuartal pertama tahun ini. Blokade laut Amerika Serikat yang menghambat ekspor minyak menjadi pukulan telak bagi pendapatan devisa negara.
Dampak krisis dirasakan langsung oleh masyarakat. Mohammad Sharifi Moghaddam, Sekretaris Jenderal organisasi Nurses’ House, mengungkapkan bahwa banyak perawat memilih berhenti bekerja karena gaji tidak sebanding dengan biaya hidup. “Gaji sekitar 25 juta toman hanya membuat para perawat merasa lebih hemat jika tetap di rumah,” ujarnya. Laporan serupa juga datang dari kalangan guru dan profesional lainnya.
Pemerintah Iran berupaya meredam tekanan dengan membekukan harga 12 kebutuhan pokok selama enam bulan dan mempertimbangkan kenaikan upah sektor publik. Namun, tantangan besar tetap membayangi untuk memulihkan kepercayaan publik.
Prancis: Demo Pelajar Meluas, Ribuan Orang Diamankan
Prancis menghadapi gelombang protes mahasiswa dan pelajar terbesar dalam beberapa dekade. Aksi yang bermula dari solidaritas terhadap guru yang mogok di SMA Saint-Exupéry, pinggiran Paris, pada 21 September 2026, telah berkembang menjadi krisis nasional. Ratusan sekolah ditutup dan lebih dari 6.000 orang diamankan polisi, sebagian besar anak di bawah umur tanpa catatan kriminal.
Bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi antihuru-hara terjadi di Paris, dengan gas air mata memenuhi udara. Seorang pelajar di Lens kehilangan tangannya setelah memungut granat, sementara pelajar lain di Tours kehilangan matanya. Aksi protes ini juga menarik perhatian internasional, dengan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa yang terjadi di Prancis adalah akibat migrasi massal tak terkendali.
Pemimpin siswa Manès Nadel menyebut jumlah sekolah yang terlibat belum pernah terjadi sebelumnya. Kementerian Pendidikan Prancis kewalahan menghadapi krisis ini. Hingga kini, ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan, menuntut perbaikan sistem pendidikan dan kondisi ekonomi yang adil.
Pusat Data dan Ancaman Krisis Air
Pembangunan pusat data yang masif di berbagai wilayah Indonesia menuai protes warga. Di Batam, warga Kelurahan Sambau, Nongsa, memprotes gangguan pasokan air bersih akibat pembangunan pusat data. BP Batam mendorong pembangunan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut untuk mengurangi tekanan terhadap sumber air waduk. Saat ini, terdapat sekitar 10 proyek pusat data di Batam.
Di Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi menghentikan sementara pembangunan pusat data AI milik BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, karena belum mengantongi AMDAL dan PBG. Dedi meminta kajian proyek dibuka kepada masyarakat, termasuk dampak penggunaan air Waduk Jatiluhur terhadap kebutuhan petani.
Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Suraji, menekankan pentingnya memperhatikan neraca air di setiap wilayah. “Bisa saja menggunakan alternatif misalnya dari desalinasi ataupun menggunakan air daur ulang,” kata Suraji di sela Indonesia International Sustainability Forum 2026.
Walhi menilai perlu regulasi khusus untuk melindungi sumber air dan lingkungan dari ekspansi pusat data. Regulasi tersebut harus mengatur pembatasan pembangunan, zonasi, standar efisiensi energi dan air, kewajiban penggunaan air daur ulang, serta tata kelola AI berbasis risiko.
Dampak Krisis Ekonomi terhadap Investasi Emas
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti emas. Krisis ekonomi mendorong investor meninggalkan instrumen berisiko tinggi dan beralih ke emas batangan, sehingga permintaan meningkat dan harga berpotensi mencapai rekor baru. Pasar emas menjadi lebih aktif dengan volume perdagangan harian yang meningkat, memudahkan pemilik aset mencairkan emas menjadi uang tunai.
Emas terbukti mampu melindungi kekayaan dari inflasi tinggi dan depresiasi mata uang. Pergeseran portofolio dari saham dan obligasi ke logam mulia menjadikan emas sebagai pilar utama dalam menyeimbangkan portofolio di tengah volatilitas pasar finansial. Bagi keluarga, alokasi emas yang memadai dapat menjaga kesejahteraan ekonomi meski kondisi memburuk.
Krisis ekonomi yang melanda berbagai negara menunjukkan betapa rentannya stabilitas global terhadap guncangan ekonomi. Iran bergulat dengan inflasi dan kejatuhan mata uang, Prancis menghadapi gejolak sosial, sementara Indonesia harus menyeimbangkan pembangunan infrastruktur digital dengan kelestarian sumber daya air. Di tengah situasi ini, emas kembali membuktikan diri sebagai aset pelindung nilai yang handal. Pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi mengantisipasi dampak yang lebih luas, termasuk potensi krisis pangan dan energi. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, krisis ekonomi dapat memicu instabilitas sosial dan politik yang lebih besar.
Sumber Berita: Katadata, Liputan6, IDN Times, CNBC Indonesia
Penulis: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Hari Widowati
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






