Gayatri Putri News – 01 Oktober 2026 | Peristiwa Gerakan 30 September yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) kembali menjadi sorotan menjelang peringatan tahunannya. Berbagai kalangan, mulai dari lembaga pemasyarakatan, organisasi kepemudaan, hingga pemerintah daerah, menggelar kegiatan refleksi sejarah untuk mengenang peristiwa kelam yang terjadi pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 tersebut.
Film G30S PKI sebagai Media Pengingat Sejarah
Salah satu medium yang paling sering digunakan untuk mengenang peristiwa ini adalah film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI”. Film yang diproduksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) ini berdurasi sekitar empat jam dan kerap ditayangkan di televisi nasional setiap tahunnya. Kini, film tersebut juga dapat diakses secara daring melalui sejumlah platform digital seperti Vidio dan YouTube.
Alur cerita film ini berfokus pada pembantaian yang dilakukan PKI terhadap perwira tinggi Angkatan Darat, ajudan, hingga rakyat biasa. Film dibuka dengan adegan sekelompok orang yang digambarkan sebagai anggota PKI menyerang warga yang tengah menunaikan ibadah salat berjemaah di masjid. Cerita kemudian memasuki rangkaian peristiwa pada 30 September menuju 1 Oktober 1965.
Dalam film tersebut, sekelompok tentara yang mengaku sebagai bagian dari Gerakan 30 September diperlihatkan mengepung rumah Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan di Jalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka meminta Pandjaitan segera menemui Presiden Soekarno dengan alasan situasi darurat. Pandjaitan yang menuruti perintah itu meminta waktu untuk berdoa, namun setelah dianggap terlalu lama, ia ditembak di teras rumahnya sebelum dibawa masuk ke dalam truk. Peristiwa tragis itu disaksikan langsung oleh anak dan istrinya.
Peristiwa serupa juga digambarkan terjadi pada sejumlah perwira TNI lainnya. Saat hendak diculik, Jenderal Abdul Harris Nasution berhasil melarikan diri dengan melompati tembok, namun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dalam kejadian tersebut.
Lubang Buaya dan Rumah Saudagar Haji Sueb
Lokasi yang menjadi saksi bisu peristiwa G30S PKI adalah sebuah rumah milik Haji Sueb, saudagar kaya di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Rumah satu lantai itu digunakan sebagai pos komando bagi anggota PKI untuk menculik perwira tinggi Angkatan Darat. Dari tempat inilah operasi penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh Pahlawan Revolusi disusun.
Jelang 30 September, Haji Sueb mendapat perintah dari PKI untuk mengungsi sementara waktu dengan alasan kawasan Lubang Buaya akan digunakan sebagai tempat latihan militer. Penduduk Desa Lubang Buaya pun diungsikan. Namun, yang berlatih ternyata adalah para relawan PKI yang disiapkan untuk menjadi Angkatan Kelima.
Rumah Haji Sueb dipilih karena menjadi satu-satunya bangunan yang terbilang kokoh dan cukup besar saat itu, sementara rumah warga lainnya hanya terbuat dari kayu dan berukuran kecil. Meski tampak sederhana dari luar, rumah tersebut dianggap paling bagus dan modern pada masanya. Lubang Buaya kala itu hanyalah desa kecil yang terdiri dari 13 rumah.
Perwira tinggi yang telah dibunuh kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua di Lubang Buaya. Jenazah mereka baru ditemukan pada 3 Oktober 1965 setelah dilakukan pencarian intensif. Kini, sumur tua itu telah diabadikan sebagai museum di dalam kawasan Monumen Pancasila Sakti. Rumah Haji Sueb pun masih dipertahankan keasliannya, bahkan genteng yang rusak diganti dengan genteng lama yang sama-sama diproduksi pada tahun 1960-an.
Renungan Suci dan Penanaman Nilai Kebangsaan
Semangat mengenang peristiwa G30S PKI juga digelorakan di berbagai daerah. Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Mojokerto menggelar nonton bareng film G30S/PKI bersama warga binaan di aula utama pada Rabu malam, 30 September 2026. Kegiatan itu menjadi bagian dari pembinaan untuk mengenalkan sejarah bangsa sekaligus menumbuhkan wawasan kebangsaan.
Kepala Seksi Pembinaan Anak Didik dan Kegiatan Kerja, Anggi Fauzi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana bagi warga binaan untuk mengingat kembali sejarah bangsa dan menghargai perjuangan para pahlawan. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak warga binaan untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa serta menumbuhkan rasa nasionalisme. Nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tanah air penting untuk terus ditanamkan dalam proses pembinaan,” ujarnya.
Di Sumatera Utara, Satuan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Provinsi Sumatera Utara periode 2026-2030 resmi dilantik pada Rabu malam, 30 September 2026. Pelantikan yang dipimpin Ketua Umum SAPMA Pemuda Pancasila Pusat, Aulia Arif, itu menetapkan M. Firman Shah sebagai Ketua SAPMA PP Sumut. Dalam sambutannya, Aulia Arif menekankan pentingnya membangun organisasi yang solid, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
“SAPMA PP Sumut beserta jajaran harus menjadikan dunia pendidikan, kepemudaan, sosial dan kebangsaan sebagai ruang pengabdian, sehingga keberadaan organisasi benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, serta tetap menjunjung tinggi ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan organisasi,” katanya. Sementara itu, M. Firman Shah menyatakan komitmennya untuk menjalankan amanah organisasi dengan melibatkan seluruh unsur kepengurusan dan kader.
Di Mandailing Natal, Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution menilai pemutaran film G30S/PKI dapat menjadi pengingat sejarah dan penumbuh nasionalisme bagi generasi muda. Hal itu disampaikannya saat menghadiri pemutaran film yang diselenggarakan bersama puluhan Organisasi Kepemudaan dan Organisasi Masyarakat di Alun-alun Kota Panyabungan pada Rabu, 30 September 2026.
Acara tersebut mengusung tema “Madina Bersatu Anti PKI: Bersama Menjaga Sejarah, Merawat Persatuan, Menolak Kebangkitan PKI”. “Ini merupakan salah satu pengingat sejarah dan rasa nasionalisme kita kepada bangsa dan harus diteruskan kepada anak-anak,” kata Atika. Ia juga meminta agar film tersebut diputar secara rutin setiap 30 September di sekolah-sekolah, serta mengimbau orang tua lebih mengawasi anak-anak dalam penggunaan gawai.
Ketua Panitia Magrifatullah Lubis menjelaskan kegiatan itu bertujuan sebagai momentum refleksi historis dan edukasi publik untuk memperingati jasa para Pahlawan Revolusi. “Selain itu untuk meneladan perjuangan Jenderal Besar Dr. Abdul Haris Nasution sebagai putra terbaik Mandailing serta membentengi generasi muda dari bahaya laten komunisme demi keutuhan NKRI,” sebutnya. Acara nonton bersama itu juga diiringi pembagian doorprize serta penyerahan santunan kepada 50 anak yatim oleh DPD Ikatan Pemuda Karya.
Menjaga Sejarah, Merawat Persatuan
Dari layar film berdurasi empat jam, rumah tua di Lubang Buaya, hingga renungan suci di berbagai daerah, peringatan G30S PKI terus menjadi momen refleksi bagi bangsa Indonesia. Berbagai pihak menekankan pentingnya memahami sejarah bukan untuk membangkitkan dendam, melainkan untuk memperkuat persatuan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Dengan begitu, peristiwa kelam masa lalu diharapkan tidak terulang kembali, dan semangat kebangsaan terus terawat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sumber Berita: detikSulsel, Diswaymojokerto.id, Waspada.id, dan laporan lapangan Tim Redaksi.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaksi Umum
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






