Dua Dekade Bom Nuklir Korut, Dunia Makin Tegang: NATO Latihan, Korsel Uji Hipersonik, Iran Tantang AS

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Dua Dekade Bom Nuklir Korut, Dunia Makin Tegang: NATO Latihan, Korsel Uji Hipersonik, Iran Tantang AS

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 10 Oktober 2026 | Pyongyang, 9 Oktober 2026 – Tepat dua dekade setelah uji coba nuklir pertamanya pada 2006, Korea Utara (Korut) semakin memperkuat posisinya sebagai negara berkekuatan nuklir. Pyongyang tidak hanya menolak tuntutan denuklirisasi, tetapi juga memperdalam kerja sama militer dengan Rusia dan China, menjadikan upaya diplomasi internasional semakin sulit.

Korut: 60 Hulu Ledak dan Dukungan Rusia-China

Menurut laporan kantor berita Kyodo, Korea Utara telah melakukan enam uji coba nuklir antara 2006 hingga 2017. Pada 2012, melalui perubahan konstitusi, negara itu resmi menyatakan diri sebagai negara berkekuatan nuklir. Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperkirakan Korut telah merakit sekitar 60 hulu ledak nuklir dan memiliki cukup bahan fisil untuk memproduksi sedikitnya 30 hulu ledak tambahan.

Kerja sama militer dengan Rusia semakin erat setelah penandatanganan perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada 2024 yang mengatur dukungan timbal balik dalam situasi darurat. Hubungan dengan China juga membaik melalui kunjungan tingkat tinggi, termasuk lawatan Presiden Xi Jinping ke Pyongyang pada Juni lalu. Dalam kunjungan itu, Xi tidak secara terbuka menyinggung program nuklir Korut, yang dipandang sebagai keuntungan diplomatik bagi Pyongyang.

Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menunjukkan keinginan untuk berdialog langsung dengan Kim Jong Un, secara terbuka menyebut Korut sebagai “kekuatan nuklir”. Meskipun kebijakan resmi Washington tetap mengupayakan denuklirisasi penuh, pernyataan Trump itu mencerminkan realitas baru yang sulit diabaikan.

NATO Gelar Latihan Nuklir Steadfast Noon di Italia

Di sisi lain, NATO akan menggelar latihan tahunan pencegahan nuklir bertajuk Steadfast Noon di Italia pada 13–23 Oktober 2026. Latihan ini melibatkan 17 negara anggota dan berlangsung di tengah ketegangan hubungan NATO dengan Rusia terkait perang di Ukraina.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa latihan tersebut penting untuk memastikan kemampuan pencegahan nuklir aliansi tetap aman, efektif, dan dapat diandalkan. NATO juga menegaskan latihan ini tidak menggunakan senjata nuklir sungguhan dan tidak ditujukan untuk menghadapi negara tertentu.

Korea Selatan Uji Coba Senjata Hipersonik Pertama

Korea Selatan (Korsel) pada Kamis (8/10/2026) menguji coba senjata hipersonik pertama buatan dalam negeri. Senjata ini dirancang melaju setidaknya lima kali kecepatan suara dan mampu menghindari sistem pertahanan rudal. Presiden Korsel Lee Jae Myung menyaksikan langsung uji coba tersebut dan menyebutnya sebagai langkah besar untuk memperkuat kemampuan pertahanan konvensional negaranya.

Dalam uji coba itu, senjata hipersonik berhasil terlepas dari roket pendorongnya pada ketinggian yang telah ditentukan, lalu bermanuver ke atas, bawah, dan samping sebelum mengenai sasaran. Lee juga meninjau rudal balistik Hyunmoo-5 pada hari yang sama. Ketegangan antara kedua Korea meningkat setelah tiga tentara Korsel terluka akibat ledakan ranjau darat bulan lalu di dekat perbatasan.

Iran Tegaskan Tidak Akan Hentikan Pengayaan Uranium

Iran kembali menegaskan tidak akan menghentikan pengayaan uranium. Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa pengayaan adalah bagian integral dari proses nuklir dan tidak akan ditinggalkan. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan dengan AS dan Israel yang menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir.

Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program nuklirnya untuk kepentingan damai. Namun, peningkatan kadar pengayaan hingga 60 persen—jauh melampaui kebutuhan sipil dan mendekati 90 persen yang lazim untuk senjata nuklir—tetap menjadi sumber kekhawatiran internasional. Di tengah perkembangan diplomatik, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tengah melakukan pembicaraan produktif dengan Iran dan tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres pada November.

Kesimpulan

Dua dekade setelah uji nuklir pertamanya, Korea Utara semakin kokoh sebagai negara berkekuatan nuklir dengan dukungan Rusia dan China. Sementara itu, NATO memperkuat pencegahan nuklir melalui latihan Steadfast Noon, Korea Selatan mengembangkan senjata hipersonik, dan Iran bersikeras melanjutkan pengayaan uranium. Dinamika ini menunjukkan bahwa isu senjata nuklir masih menjadi pusat ketegangan global, dengan risiko eskalasi yang nyata jika diplomasi tidak segera diutamakan.

Sumber Berita: ANTARA, Mistar.id, Liputan6.com, Arabnews

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda