Tuchel Tetap Tenang Usai Inggris Dihukum Spanyol 3-2 di Wembley, Bellingham Diminta Bermain dengan ‘Amarah’

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Tuchel Tetap Tenang Usai Inggris Dihukum Spanyol 3-2 di Wembley, Bellingham Diminta Bermain dengan 'Amarah'

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 28 September 2026 | Kekalahan 3-2 Inggris dari Spanyol di Stadion Wembley pada laga pembuka UEFA Nations League menjadi sorotan tajam. Meski tumbang di hadapan 88.000 penonton, suasana di kubu Tiga Lions justru tidak seburuk yang dibayangkan. Manajer Thomas Tuchel menegaskan bahwa timnya tidak boleh larut dalam kekecewaan, terlebih karena lawan yang mereka hadapi adalah juara dunia yang belum terkalahkan dalam 39 pertandingan terakhir.

Duel Sengit Dua Raksasa Sepak Bola

Pertandingan yang mempertemukan Inggris dan Spanyol ini berjalan dengan tempo tinggi sejak menit awal. Spanyol membuka keunggulan pada menit kedua lewat bintang muda Lamine Yamal setelah Marc Guehi kehilangan bola di area berbahaya. Inggris sempat membalikkan keadaan melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-36 dan sundulan kapten Harry Kane, namun Alex Baena menyamakan kedudukan pada menit ke-60 sebelum Mikel Oyarzabal mencetak gol kemenangan pada menit ke-74 dengan penyelesaian cerdik melewati kiper James Trafford.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, menyebut kemenangan ini sebagai bukti kualitas timnya. Menurutnya, pertandingan berjalan dengan banyak dinamika dan anak asuhnya mampu mengendalikan permainan di momen-momen krusial. Kemenangan ini juga menjadi pembalasan manis setelah Spanyol mengalahkan Inggris di final Euro 2024.

Tuchel Minta Bellingham Bermain dengan Amarah

Salah satu sorotan utama dalam laga ini adalah penampilan Jude Bellingham. Gelandang Real Madrid tersebut terlibat adu mulut dengan rekan setimnya di klub, Marc Cucurella, setelah bek kiri Spanyol itu memenangkan duel. Alih-alih meredam emosi pemainnya, Tuchel justru mendorong Bellingham untuk mempertahankan gaya bermain agresif tersebut.

“Dia menyukai hal itu. Dia menjadi lebih baik jika itu terjadi,” ujar Tuchel. “Lebih baik jika dia bermain dengan sedikit amarah. Itulah yang dia lakukan. Saya pikir terkadang dia mencari momen-momen seperti itu untuk menyalakan semangatnya.”

Tuchel menambahkan bahwa Bellingham tidak mengenal rekan setim ketika berada di tim nasional. Menurutnya, mantan pemain Borussia Dortmund itu tetap berteman baik dengan para pemain Spanyol di luar lapangan, tetapi tidak selama 90 menit pertandingan berlangsung. Sikap tegas Bellingham terbukti berbuah manis karena ia menjadi kreator gol penyama kedudukan Anthony Gordon.

Kritik yang Tertahan dan Statistik yang Menghibur

Meski kalah, para pengkritik Tuchel dipaksa menahan diri. Inggris dinilai tampil sesuai DNA mereka dengan permainan penuh semangat, kecepatan, dan gairah menyerang. Selama 30 menit di sekitar babak kedua, Inggris mendominasi juara dunia dan menciptakan dua gol ke gawang tim yang hanya kebobolan dari dua negara dalam 12 bulan terakhir.

Statistik pertandingan juga memberikan gambaran menarik. Inggris mencatatkan 48 persen penguasaan bola, lebih banyak umpan sukses di sepertiga akhir lapangan, dan lebih dari dua kali lipat sentuhan di kotak penalti lawan. Namun, Spanyol tetap lebih klinis dengan menciptakan peluang besar dua kali lebih banyak.

Kapten Harry Kane mengakui bahwa timnya belum mampu tampil konsisten selama 90 menit penuh. Ia juga menyoroti penalti yang gagal pada babak kedua akibat kakinya tergelincir di permukaan lapangan yang licin. Menurut Kane, pada hari lain Inggris seharusnya bisa memenangkan pertandingan tersebut.

Tekanan dan Jadwal Padat Menanti

Tuchel mengakui bahwa kekalahan ini menambah tekanan menjelang laga melawan Republik Ceko di Praha. Inggris wajib menang untuk menjaga peluang lolos ke perempat final Nations League. Jadwal padat menanti dengan tiga pertandingan dalam delapan hari, termasuk lawatan ke Kroasia dan kembali menghadapi Ceko di Wembley.

Meski demikian, Tuchel menegaskan tidak akan mendengarkan permintaan klub-klub untuk mengistirahatkan para pemain bintangnya. Ia menyatakan tanggung jawabnya adalah mengelola beban kerja pemain, namun kepentingan tim nasional tetap yang utama.

Di sisi lain, absennya Lewis Hall dalam laga melawan Spanyol terungkap bukan karena keputusan taktik. Tuchel menjelaskan bahwa bek muda Newcastle United itu mengalami cedera ringan dan melewatkan beberapa sesi latihan. Manajer asal Jerman tersebut enggan mengambil risiko menghadapi Lamine Yamal yang memiliki kecepatan tinggi.

Posisi Hall digantikan Nico O’Reilly yang tampil penuh laga. O’Reilly memang memberikan assist untuk gol Kane, tetapi ia beberapa kali kesulitan menghadapi Yamal dan terlibat dalam gol penyama kedudukan Spanyol. Tuchel menegaskan bahwa Hall tetap menjadi bagian dari diskusi untuk posisi bek kiri dan akan mendapatkan kesempatannya setelah pulih sepenuhnya.

Jalan Masih Panjang bagi Inggris

Kekalahan dari Spanyol memang menyakitkan, tetapi tidak menghancurkan ambisi Inggris di Nations League. Format kompetisi memungkinkan dua tim teratas dari setiap grup melaju ke perempat final. Artinya, finis di bawah Spanyol bukan masalah selama Inggris mampu mengalahkan dua negara lainnya.

Yang terpenting sekarang adalah bagaimana Inggris merespons kekalahan ini. Tiga laga berikutnya melawan Ceko dan Kroasia akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Tuchel dan pasukannya. Jika mampu menyapu bersih kemenangan, jeda internasional ini tetap bisa menjadi modal positif untuk menjaga asa melaju ke babak gugur.

Bagi Tuchel, tekanan memang meningkat, tetapi ia tetap percaya diri. Kekalahan dari tim terbaik dunia bukanlah aib, terlebih Inggris menunjukkan tanda-tanda kemajuan yang nyata. Kini saatnya membuktikan bahwa semangat dan amarah yang diminta Tuchel dari Bellingham bisa menular ke seluruh skuad untuk bangkit di laga-laga berikutnya.