Subuh dalam Sorotan: Dari Jadwal Sholat Palembang hingga Kabar Duka Muazin Masjidil Haram

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Subuh dalam Sorotan: Dari Jadwal Sholat Palembang hingga Kabar Duka Muazin Masjidil Haram

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 23 September 2026 | Waktu Subuh kembali menjadi perhatian publik dalam sepekan terakhir. Bukan sekadar penanda dimulainya aktivitas harian umat Islam, momen menjelang fajar itu ternyata menyimpan beragam peristiwa penting, mulai dari panduan ibadah harian, gerakan dakwah komunitas, kabar duka dari Tanah Suci, hingga ceramah spiritual di lingkungan kampus.

Bagi warga Kota Palembang dan sekitarnya, jadwal sholat fardhu menjadi acuan wajib agar ibadah lima waktu dapat ditunaikan sesuai ketentuan. Sholat fardhu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat, dan setiap waktu sholat memiliki batas mulai serta akhir yang berbeda. Waktu Subuh dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga sebelum matahari terbit, sehingga umat Islam perlu memperhatikan jadwal harian, terutama di tengah kesibukan. Jadwal sholat untuk Palembang pun rutin diperbarui setiap hari, mencakup Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Gerakan Subuh Jamaah di Sukoharjo

Semangat Subuh juga bergerak di Sukoharjo, Jawa Tengah. Tiga unsur dakwah komunitas Muhammadiyah setempat memulai langkah baru melalui Gerakan Subuh Jamaah Round Go To Masjid. Kegiatan perdana digelar Ahad, 20 September 2026, sejak pukul 04.00 hingga 06.00 WIB, dengan Masjid An Nur di Jetis sebagai titik awal perjalanan.

Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid, Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sukoharjo, serta Bikersmu Chapter Sukoharjo hadir membawa semangat yang sama. Kegiatan itu tidak sekadar mengajak jemaah menunaikan salat Subuh berjamaah, tetapi juga menghadirkan ruang dakwah yang dekat dan hangat dari masjid ke masjid.

Dalam kuliah Subuhnya, H. Djumari mengajak jemaah meneladani cara berdakwah KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, dakwah perlu bergerak dari pesan ke tindakan yang menghadirkan manfaat nyata. Nilai agama tidak berhenti sebagai pesan yang didengar, melainkan menemukan bentuknya melalui kepedulian yang menyentuh kehidupan masyarakat. Ketua LPCRPM PDM Sukoharjo, Nurmento, menegaskan agenda tersebut akan berlanjut sekurang-kurangnya sebulan sekali.

Kabar Duka dari Masjidil Haram

Dari Makkah, kabar duka datang menjelang Subuh. Muazin Masjidil Haram, Sheikh Ibrahim bin Adel Al Madani, meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026, dalam usia 51 tahun. Kepergiannya menjadi perhatian karena pada dini hari yang sama ia masih terdengar mengumandangkan azan Subuh di Masjidil Haram.

Sheikh Ibrahim merupakan salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Dari jumlah tersebut, enam muazin bertugas bergiliran setiap hari untuk mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama sebelum salat Subuh. Selain azan, ia juga menjalankan tugas tabligh, yakni meneruskan takbir imam melalui sistem pengeras suara dari makbariyah agar terdengar jemaah. Lahir di Madinah, ia dikenal memiliki suara merdu dan mulai mengumandangkan azan di masjid lingkungan tempat tinggalnya sejak berusia sekitar 15 tahun.

Pesan Menag di Kuliah Subuh UIN Walisongo

Di Semarang, Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengajak sivitas akademika UIN Walisongo untuk tidak sekadar membaca dan mempelajari Al-Qur’an, tetapi menjadikannya pedoman yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu disampaikan dalam Kuliah Subuh Bersama Menteri Agama RI di Masjid Walisongo, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Ahad, 20 September 2026.

Dalam kuliah subuhnya, Nasaruddin mengajak peserta merenungkan keagungan Al-Qur’an yang dapat dipadatkan dalam Surah Al-Fatihah, dengan inti tercermin pada ayat pertama, Bismillahirrahmanirrahim. Ia juga menyinggung perkembangan super artificial intelligence yang diperkirakan membawa perubahan besar. Menurutnya, teknologi membuka peluang kemajuan, namun kecerdasan buatan yang tidak dibarengi nilai moral dan spiritual berpotensi menghadirkan persoalan baru. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun manusia yang memiliki landasan nilai, bukan hanya kemampuan teknologi.

Makna Subuh yang Melampaui Rutinitas

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa Subuh bukan sekadar penanda waktu dalam kalender ibadah. Ia menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat, dari jemaah masjid di Palembang, komunitas dakwah di Sukoharjo, sivitas akademika di Semarang, hingga muazin di Masjidil Haram.

Pada akhirnya, Subuh mengingatkan bahwa waktu yang tenang menjelang fajar menyimpan ruang bagi refleksi, kebersamaan, dan tindakan nyata. Jadwal sholat membantu umat menjaga ketepatan ibadah, sementara gerakan jamaah dan ceramah subuh menghidupkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Kabar duka dari Makkah pun menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang muazin dapat menyentuh jutaan umat, bahkan hingga azan terakhirnya berkumandang.