Gayatri Putri News – 23 September 2026 | LONDON — Arsenal Women memulai perjalanan mereka di Liga Champions Wanita dengan cara yang jauh dari meyakinkan, namun tetap berhasil mengamankan tiga poin. Gol penalti dramatis Mariona Caldentey di menit ke-93 menjadi pembeda dalam kemenangan tipis 1-0 atas tim Denmark, HB Køge, pada laga pembuka fase liga di Stadion Mangata Developments, Meadow Park, Selasa malam waktu setempat.
Kemenangan ini terasa seperti sebuah kelegaan besar bagi para penggemar yang memadati tribun North Bank. Namun, pertandingan ini juga meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban bagi tim asuhan Renée Slegers yang tengah berjuang menemukan ketajaman di depan gawang.
Dominasi Tanpa Penyelesaian Akhir
Sejak peluit kick-off dibunyikan, Arsenal langsung mengambil inisiatif permainan. Tekanan bertubi-tubi dilancarkan ke pertahanan Køge yang bermain disiplin dengan blok rendah. Manajer Køge, Kristian Mørch, menggambarkan 20 menit awal pertandingan sebagai momen di mana timnya seperti “terjun ke air es yang dingin” dan hanya bisa berusaha bertahan serta menenangkan kepanikan.
Arsenal sempat mengira telah memecah kebuntuan pada menit ke-13. Chloe Kelly menyelesaikan umpan cantik dari Kyra Cooney-Cross dengan sepakan voli menggunakan sisi luar kakinya. Namun, perayaan itu sirna setelah Video Assistant Referee (VAR) menganulir gol tersebut karena Stina Blackstenius dinilai berada dalam posisi offside dan menghalangi pandangan kiper Køge, Alberte Vingum.
Meski menguasai bola hampir sepanjang pertandingan, Arsenal tampak kehilangan ide untuk membongkar pertahanan rapat lawan. Peluang demi peluang tercipta, tetapi penyelesaian akhir yang buruk membuat kiper Vingum tampil sebagai pahlawan bagi tim tamu. Køge, yang merupakan tim semi-profesional dan pemuncak klasemen A-Liga, tampil mengejutkan dengan keberanian dan organisasi pertahanan yang solid.
Perubahan dan Dampak Selina Cerci
Renée Slegers melakukan delapan perubahan dari starting line-up yang bermain imbang melawan Manchester United akhir pekan lalu. Keputusan ini tampaknya diambil dengan mempertimbangkan laga besar melawan Chelsea di Stamford Bridge pada akhir pekan nanti. Namun, rotasi tersebut tidak serta-merta mengatasi masalah mental yang tengah dialami para pemain Arsenal di depan gawang.
Memasuki babak kedua, frustrasi semakin terlihat. Caitlin Foord dan rekan-rekannya terus menggempur pertahanan Køge, tetapi penyelesaian akhir yang terburu-buru dan keputusan yang kurang tepat membuat peluang terbuang sia-sia. Slegers kemudian memasukkan Selina Cerci untuk menambah daya gedor, dan keputusan itu terbukti menjadi kunci.
Di masa injury time, Cerci melakukan dribel menusuk ke dalam kotak penalti dan dijatuhkan oleh pemain bertahan Køge. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih. Mariona Caldentey, yang dikenal memiliki ketenangan luar biasa, maju sebagai eksekutor. Dengan dingin, ia mengecoh kiper Vingum dan menempatkan bola ke sudut gawang, memicu euforia di Meadow Park.
Reaksi dan Analisis Pasca Pertandingan
Bek Arsenal, Steph Catley, mengakui bahwa pertandingan berjalan sangat sulit. “Ini adalah lima menit yang cukup gila. Kadang sepak bola memang seperti ini, dan kami menyelesaikannya di akhir. Di Liga Champions tidak ada pertandingan yang mudah. Mereka bertahan dengan hebat, kami tidak mencetak gol lebih awal dan baru tercipta di akhir,” ujarnya kepada Disney+.
Catley juga memuji kontribusi Cerci dalam memenangkan penalti. “Saya tidak pernah ragu ketika dia menguasai bola. Selina membuat dampak besar dengan dribelnya masuk ke kotak penalti,” tambahnya.
Sementara itu, Slegers menyebut kemenangan ini sebagai kemenangan mentalitas dan ketangguhan. “Sepak bola tidak memberi kami kemenangan malam ini… tetapi kami mendapatkan gol itu sebagai sebuah tim,” ujarnya dengan pipi yang mengembang, menandakan kelegaan yang mendalam.
Masalah Ketajaman yang Belum Terpecahkan
Kemenangan ini memang menyelamatkan Arsenal dari awal yang buruk, tetapi kekhawatiran tentang ketajaman lini depan masih membayangi. Sebelumnya, Arsenal juga kesulitan mencetak gol dalam pertandingan melawan Manchester United dan Crystal Palace. Dominasi penguasaan bola tidak berbanding lurus dengan jumlah gol yang tercipta.
Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya antara lain:
- Mentalitas: Para pemain tampak terburu-buruburu dan kurang percaya diri saat berada di depan gawang.
- Kurangnya Ketajaman: Penyelesaian akhir yang buruk dan keputusan yang salah di momen krusial.
- Pertahanan Lawan: Tim-tim lawan semakin disiplin dalam bertahan melawan Arsenal, seperti yang ditunjukkan Køge.
Catley mengakui bahwa timnya sedang dalam masa sulit. “Sulit untuk menentukan apa yang salah, ini seperti kerja keras dan gol tidak datang semudah dulu. Ini bukan karena kurang berusaha, kami melakukan segalanya untuk memasukkan bola ke gawang,” jelasnya.
Hasil Lain di Fase Liga
Di pertandingan lain, Manchester City berhasil menahan imbang Bayern Munich 2-2 di Jerman. City tertinggal dua gol lebih dulu melalui Giulia Gwinn dan gol bunuh diri Kerstin Casparij, sebelum Beth Mead dan Carlotta Wamser menyamakan kedudukan. Sementara itu, Inter Milan mengalahkan Häcken 1-0, Benfica menang 2-1 atas Juventus, dan Real Madrid bermain imbang 1-1 dengan Paris Saint-Germain.
Dengan hasil ini, Arsenal untuk sementara memuncaki klasemen fase liga, meski penampilan mereka belum sepenuhnya meyakinkan. Laga melawan Chelsea akhir pekan nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi pasukan Slegers.
Kemenangan dramatis ini setidaknya memberikan modal moral yang berharga. Namun, jika Arsenal ingin melangkah jauh di kompetisi ini, mereka harus segera menemukan solusi atas masalah ketajaman yang telah lama menghantui. Liga Champions tidak memberikan ruang untuk kesalahan, dan keberuntungan seperti yang mereka dapatkan melawan Køge tidak akan selalu datang.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






