Gayatri Putri News – 29 September 2026 | Malam di Bursa menjadi saksi lahirnya sebuah babak baru dalam sejarah sepak bola Italia. Stadion Yuzuncu Yil Ataturk bergemuruh ketika Roberto Mancini menurunkan dua nama bersaudara dalam starting XI Gli Azzurri: Sebastiano Esposito dan adiknya, Francesco Pio Esposito. Keduanya tampil sejak menit pertama saat Italia menghancurkan tuan rumah Turki dengan skor telak 4-1 pada matchday kedua UEFA Nations League A Grup 1 2026/27, Selasa (29/9) dini hari WIB.
Bagi Sebastiano, laga ini menjadi debutnya bersama tim senior Italia. Namun yang membuat momen tersebut begitu istimewa adalah ia langsung berbagi lapangan dengan sang adik, Pio, yang tampil sebagai starter dan menyumbang satu gol serta satu assist. Ini adalah kali pertama dua bersaudara masuk dalam susunan sebelas pertama Azzurri sejak Aldo dan Luigi Cevenini melakukannya melawan Swiss pada 1915, atau setara dengan penantian selama 111 tahun.
Dominasi Italia Sejak Menit Awal
Italia langsung mengambil inisiatif serangan begitu peluit dibunyikan. Peluang pertama hadir melalui Pio Esposito yang menerima umpan Davide Frattesi, meski tembakannya masih bisa ditepis kiper Turki, Altay Bayindir. Tekanan Gli Azzurri akhirnya berbuah pada menit ke-9. Berawal dari sepak pojok, bola memicu kemelut di kotak penalti Turki. Alessandro Bastoni bergerak cepat menyambar bola liar dan membawa Italia unggul 1-0.
Italia semakin percaya diri. Pada menit ke-22, tembakan Michael Kayode berhasil ditepis Bayindir, tetapi bola muntah langsung disambar Frattesi untuk mengubah skor menjadi 2-0. Hanya berselang lima menit, pertahanan Turki kembali dibuat tidak berdaya. Debutan Michael Kayode mencatatkan namanya di papan skor dan membawa Italia menutup babak pertama dengan keunggulan 3-0.
Pio Esposito Pungkas Perlawanan Turki
Turki sempat mencoba menghidupkan pertandingan setelah Baris Alper Yilmaz memperkecil ketertinggalan pada awal babak kedua. Namun respons Italia datang dengan cepat. Pio Esposito mencetak gol keempat lewat sundulan setelah memanfaatkan bola pantul dari tembakan Sandro Tonali yang membentur tiang gawang. Gol tersebut sekaligus menjadi penegas kemenangan Italia, sekaligus momen personal bagi sang penyerang yang mengaku sengaja mempersembahkan gol itu untuk sang nenek yang sedang menghadapi masa sulit.
Bagi Pio, tampil bersama sang kakak di level senior Italia adalah pengalaman yang sulit dilupakan. “Sungguh luar biasa bisa berbagi pengalaman ini dengannya dan saya berharap bisa melakukannya lebih banyak lagi,” ujarnya usai pertandingan.
Rekor dan Catatan Bersejarah
Keluarga Esposito kini tercatat sebagai keluarga pertama yang melihat tiga bersaudara mewakili tim senior Italia. Sang kakak tertua, Salvatore, lebih dulu membuka jalan lewat debut seniornya di bawah asuhan Mancini melawan Inggris pada 2022. Sebastiano pun sempat bercanda soal tekadnya mengikuti jejak sang kakak dan adiknya. “Setelah Salva dan Pio, kalau saya tidak berhasil masuk tim nasional, saya tidak akan memaafkan diri sendiri,” tuturnya.
- Pasangan kakak-adik keempat yang tampil bersama untuk Italia, setelah Filippo dan Simone Inzaghi (2000), Aldo dan Luigi Cevenini (1915), serta Giuseppe dan Felice Milano (1912-1913).
- Kemenangan tandang pertama Italia dengan selisih tiga gol atau lebih sejak mengalahkan Bosnia 3-0 pada 15 November 2019.
- Kemenangan pertama Mancini sejak kembali ke kursi pelatih timnas Italia, mengakhiri penantian 1.198 hari sejak mengalahkan Belanda 3-2 pada 18 Juni 2023.
Respons Mancini dan Tekanan untuk Turki
Pelatih Italia, Roberto Mancini, mengaku puas dengan penampilan anak asuhnya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya menginstruksikan Sebastiano Esposito dan Giacomo Raspadori untuk bermain di belakang Pio Esposito, sementara Kayode menekan di sayap kanan. “Kami meminta para penyerang untuk memulai dari sisi sayap, Sebastiano di kiri dan Raspa untuk menusuk ke belakang Pio, sehingga Kayode bisa menyerang dari sisi kanan. Semuanya berjalan baik,” kata Mancini.
Meski demikian, Mancini menegaskan bahwa kemenangan atas Turki sama tidak berartinya dengan kekalahan dari Belgia pada laga pembuka. Menurutnya, kedua laga memiliki nilai yang sama karena jalan di depan masih panjang. “Saya puas, kami memiliki pendekatan yang sangat bagus di lapangan yang sulit dan berlumpur. Saya sangat senang untuk para pemain ini, karena mereka pantas mendapatkannya,” ujarnya kepada Sky Sport Italia.
Sementara itu, bagi Turki, kekalahan kandang yang disambut cemoohan keras dari para pendukung membuat pelatih Vincenzo Montella berada di bawah tekanan yang kian besar setelah menelan dua kekalahan beruntun. Turki masih terpuruk di dasar klasemen Grup 1 tanpa raihan poin, sedangkan Italia naik ke posisi ketiga dengan koleksi tiga poin.
Kemenangan ini juga menjadi momentum positif bagi Italia untuk meredakan patah hati akibat kegagalan lolos ke Piala Dunia secara beruntun. Meraih tiga poin vital di kandang lawan memulihkan kepercayaan diri jelang kampanye Nations League yang berat dan nyaris tak memberi ruang untuk lengah. Malam di Bursa pun akan dikenang bukan hanya karena skor 4-1, tetapi karena sebuah keluarga menorehkan namanya dalam buku sejarah sepak bola Italia.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






