Gayatri Putri News – 30 September 2026 | Nama Michael Kayode mencuri perhatian dunia sepak bola Italia dalam beberapa waktu terakhir. Bek kanan kelahiran 2004 ini menjadi sorotan setelah dipercaya tampil sebagai starter oleh pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini, dalam laga kontra Turki. Penampilan gemilangnya kian lengkap dengan torehan gol, menjadikannya salah satu temuan paling menarik dalam skema Gli Azzurri. Namun, di balik momen gemilang itu, tersimpan perjalanan panjang penuh liku yang justru menjadi cerminan bagaimana bakat besar bisa lahir dari jalan yang berliku.
Jejak Awal di Gattico Veruno dan Vinovo
Kayode tumbuh besar di Gattico Veruno, sebuah kawasan di Novarese. Langkah pertamanya di dunia sepak bola dimulai di Arona, di tepi Danau Maggiore, saat ia baru berusia enam tahun. Tak lama berselang, ia bergabung dengan Borromeo Vergante, klub yang kini telah bubar. Dari sana, radar pemandu bakat Juventus menangkap potensinya, dan sejak usia delapan tahun ia rutin mondar-mandir ke Vinovo, menempuh perjalanan hampir satu jam empat puluh lima menit setiap hari bersama rekan-rekan sebayanya.
Dalam kelompok itu terdapat pula nama-nama yang kini bersinar, seperti Giovanni Daffara, kiper yang kemudian dibeli Parma, serta Luis Hasa yang direkrut Frosinone dari Napoli. Ketiganya merupakan produk dari aktivitas dasar yang menjadi lumbung cerita bagi sepak bola Italia.
Titik Balik di Usia 14 Tahun
Perjalanan Kayode di Juventus tak selalu mulus. Pada usia 14 tahun, ia menghadapi apa yang tampak seperti penolakan. Secara fisik, ia memiliki kekuatan dan daya tahan, tetapi secara teknis dinilai belum siap untuk kompetisi nasional Under 15 A dan B. Demi menambah jam terbang, Juventus memutuskan meminjamkannya ke Gozzano, klub yang berkompetisi di kategori sama namun pada jalur khusus tim Serie C.
Keputusan itu justru mengubah hidupnya. Di Gozzano, Kayode menempa diri hingga akhirnya menembus Serie D pada usia baru 16 tahun. Pada musim 2020-21, ia mencatatkan 34 penampilan, dua gol, dan dua assist, sekaligus mengantar Gozzano promosi ke Serie C. Ia bermain dua tahun di bawah kelompok usianya, sebuah bukti bahwa kualitasnya memang di atas rata-rata. Aturan wajib empat pemain muda di Serie D kala itu membuat keberadaannya kian bermakna.
Fiorentina, Brentford, dan Lompatan Besar
Pada musim panas 2021, Fiorentina bergerak cepat merekrutnya dan menempatkannya di tim Primavera asuhan Alberto Aquilani. Di sana ia meraih Coppa Italia Primavera dan Supercoppa Primavera. Puncaknya, ia menjadi bagian dari tim Italia Under 19 yang menjuarai Eropa pada 2023, mencetak gol penentu di final melawan Portugal.
Vincenzo Italiano kemudian mengangkatnya ke tim utama, dan pada 19 Agustus 2023, Kayode debut di Serie A sebagai starter dalam kemenangan 4-1 atas Genoa. Seiring cedera Dodô, ia menjadi pilihan utama di sisi kanan pertahanan Viola. Namun pada Januari 2025, ia dipinjamkan ke Brentford dengan opsi pembelian. Debutnya di Premier League terjadi pada 2 Februari melawan Tottenham. Performanya meyakinkan klub Inggris itu untuk mengaktifkan pembelian permanen sekitar 17,5 juta euro pada 28 Mei 2025.
Di musim 2025-26, Kayode menjelma menjadi pemain inti Brentford. Pada 16 Maret 2026, ia mencetak gol pertamanya di Premier League ke gawang Wolverhampton. Kontraknya kemudian diperpanjang hingga 2032, menandakan kepercayaan besar klub terhadapnya.
Dedikasi dan Masa Depan
Usai laga melawan Turki, Kayode menyampaikan rasa syukurnya. Ia menyebut laga itu sebagai debut yang tak terlupakan dan mendedikasikan segalanya untuk keluarga, pasangannya, Eleonora, serta putrinya, Amelie. Ia juga menegaskan kesediaannya bermain di posisi mana pun yang diminta pelatih, mencerminkan sikap rendah hati yang menjadi ciri khasnya.
Kisah Michael Kayode adalah pengingat bahwa jalan menuju puncak jarang berupa garis lurus. Dari bocoran di akademi Juventus, tempaan di Serie D bersama Gozzano, hingga menembus Premier League dan tim nasional Italia, ia membuktikan bahwa ketekunan dan kesediaan menerima tantangan di level yang lebih rendah justru bisa menjadi fondasi kesuksesan. Kini, di usia 22 tahun, ia telah menjadi bagian dari mimpi terbesarnya, dan masa depan tampak semakin cerah bagi bek yang dijuluki memiliki lemparan jauh bak Boeing 737 itu.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





