Kartu Merah Kontroversial Sayed Abu Farchi: Selebrasi Tiang Corner Bikin Israel Kalah di Liga Nations

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Kartu Merah Kontroversial Sayed Abu Farchi: Selebrasi Tiang Corner Bikin Israel Kalah di Liga Nations

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 25 September 2026 | Linz, Austria – Pertandingan UEFA Nations League antara Austria dan Israel di Raiffeisen Arena, Linz, berakhir dramatis dengan kemenangan tuan rumah dua gol tanpa balas. Namun, sorotan utama bukanlah kemenangan Austria, melainkan kartu merah kontroversial yang diterima penyerang muda Israel, Sayed Abu Farchi, akibat selebrasi golnya yang dianggap berlebihan.

Insiden bermula pada menit ke-51 ketika Abu Farchi menerima kartu kuning pertama. Hanya empat menit berselang, striker berusia 20 tahun itu mencetak gol melalui sundulan kepala, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Gol tersebut seharusnya menjadi momen kebangkitan bagi Israel, tetapi berubah menjadi bencana setelah Abu Farchi melakukan selebrasi yang tidak biasa.

Usai mencetak gol, pemain yang baru bergabung dengan klub MLS Colorado Rapids itu berlari ke arah tiang corner, mencabutnya dari tanah, lalu berlutut dan meletakkan tiang tersebut di tangan kanannya sambil membuat gestur seperti menembak. Tidak jelas apakah ia menirukan senjata, tongkat biliar, atau gerakan lain. Wasit pun tak ragu memberikan kartu kuning kedua, memaksa Israel bermain dengan 10 orang untuk sisa pertandingan.

Aturan Selebrasi dan Kontroversi

Dalam Laws of the Game yang dikeluarkan FIFA, tidak ada aturan spesifik yang melarang pencabutan tiang corner saat selebrasi gol. Namun, wasit menilai bahwa selebrasi tersebut masuk dalam kategori “berlebihan” atau excessive celebration, yang memang dilarang. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola, mengingat selebrasi unik sering kali menjadi bagian dari ekspresi pemain muda.

Sejumlah pihak menilai hukuman tersebut terlalu keras, sementara yang lain berpendapat bahwa wasit konsisten menegakkan aturan untuk menjaga sportivitas dan keamanan. Terlepas dari pro dan kontra, kartu merah itu jelas merugikan timnas Israel.

Dampak Fatal bagi Israel

Bermain dengan 10 pemain, Israel kesulitan menahan gempuran Austria. Petaka datang di menit-menit akhir. Phillipp Mwene membuka keunggulan Austria setelah menit ke-90, disusul gol Saša Kalajdžić yang memastikan kemenangan dua gol bagi tuan rumah. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Israel yang harus kehilangan poin berharga di ajang Nations League.

Keputusan wasit yang mengeluarkan Abu Farchi menjadi titik balik pertandingan. Sebelumnya, Israel mampu menyamakan kedudukan dan terlihat percaya diri. Namun, setelah kehilangan satu pemain, mereka kehilangan momentum dan harus bermain bertahan hingga peluit panjang berbunyi.

Profil Singkat Sayed Abu Farchi

Sayed Abu Farchi merupakan penyerang muda yang baru saja bergabung dengan Colorado Rapids dari Maccabi Tel Aviv. Transfernya dilaporkan bernilai sekitar 6 juta dolar AS. Sejak bergabung dengan klub MLS tersebut, ia baru tampil dalam tiga pertandingan. Meski usianya masih 20 tahun, ia sudah dipercaya memperkuat timnas Israel di ajang internasional.

Insiden kartu merah ini menjadi pelajaran berharga bagi Abu Farchi. Banyak penggemar berharap ia dapat belajar dari kesalahan dan kembali fokus pada performa di lapangan. Potensinya sebagai penyerang muda sangat besar, dan selebrasi kontroversial ini tidak boleh menghambat kariernya.

Reaksi dan Analisis

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari federasi sepak bola Israel maupun Colorado Rapids terkait insiden tersebut. Namun, media sosial ramai membahas aksi Abu Farchi, dengan sebagian netizen menganggapnya kreatif, sementara yang lain menilai tindakannya tidak profesional.

Pengamat sepak bola menilai bahwa wasit sebenarnya memiliki diskresi dalam menafsirkan aturan selebrasi. Keputusan mengeluarkan kartu kuning kedua bisa diperdebatkan, tetapi wasit berhak menilai bahwa gestur tersebut berpotensi memicu provokasi atau membahayakan. Dalam beberapa kasus sebelumnya, selebrasi dengan melepas atribut pertandingan memang sering berujung kartu.

Bagi Israel, kekalahan ini memperumit posisi mereka di grup Nations League. Mereka harus segera bangkit dan fokus pada pertandingan selanjutnya. Sementara bagi Abu Farchi, ini adalah momen pahit yang akan dikenang, sekaligus pelajaran tentang pentingnya menjaga emosi dan sportivitas di lapangan.

Pada akhirnya, pertandingan di Linz menjadi bukti bahwa sepak bola tidak hanya soal skill, tetapi juga disiplin dan pengendalian diri. Selebrasi yang berlebihan dapat merugikan tim, dan itu yang dialami Israel malam itu. Kini, semua mata akan tertuju pada bagaimana Abu Farchi dan timnya merespons pukulan ini di laga-laga berikutnya.