CFD Kota Bogor Tetap Digelar, Dedie Rachim Disurati 4 Kali oleh Gereja, Akses Jemaat Terhambat

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

CFD Kota Bogor Tetap Digelar, Dedie Rachim Disurati 4 Kali oleh Gereja, Akses Jemaat Terhambat

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 28 September 2026 | KOTA BOGOR – Pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Kota Bogor terus menuai polemik. Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, disebut telah menerima empat surat dari pihak gereja yang mengeluhkan terhambatnya akses jemaat akibat kegiatan CFD yang rutin digelar setiap akhir pekan. Meski demikian, Pemerintah Kota Bogor memastikan kegiatan tersebut tetap berlanjut dengan berbagai penyesuaian.

Surat-menyurat antara gereja dan Wali Kota Bogor menjadi sorotan publik. Empat surat yang dilayangkan gereja tersebut mengungkapkan kekhawatiran bahwa akses jemaat untuk beribadah terganggu, terutama pada jam-jam tertentu saat CFD berlangsung. Dedie Rachim mengakui telah menerima surat-surat tersebut dan langsung menindaklanjutinya dengan melakukan peninjauan lapangan.

“Kami sudah menerima empat surat dari gereja. Intinya mereka meminta agar akses jemaat tidak terhambat saat CFD berlangsung. Kami sangat memahami kebutuhan umat untuk beribadah, dan CFD tetap kami gelar dengan penyesuaian rute serta waktu,” ujar Dedie Rachim dalam keterangannya.

Meski demikian, Dedie menegaskan bahwa CFD bukan sekadar ajang olahraga dan rekreasi, melainkan juga bagian dari upaya membangun karakter warga Kota Bogor yang religius, maju, dan beradab. Hal ini sejalan dengan program pembangunan manusia yang terus digaungkan, termasuk melalui kegiatan keagamaan seperti Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) yang baru saja digelar.

Penyesuaian Rute dan Waktu

Untuk mengakomodasi kepentingan jemaat, Pemkot Bogor telah melakukan sejumlah penyesuaian. Beberapa ruas jalan yang sebelumnya digunakan sebagai rute CFD kini dialihkan, dan waktu pelaksanaan diperpendek agar tidak bersamaan dengan jadwal ibadah. “Kami terus berkoordinasi dengan pihak gereja dan tokoh masyarakat. CFD harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan hak warga untuk beribadah,” tambahnya.

Selain itu, Dedie juga menyoroti pentingnya kebersihan dan ketertiban selama CFD. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan kebersihan sebagai bagian dari pembangunan karakter, sejalan dengan visi Kota Bogor yang religius, maju, dan beradab.

CFD dan Pembangunan Karakter

Dalam beberapa kesempatan, Dedie Rachim menekankan bahwa pembangunan Kota Bogor tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia. Nilai religius, kemajuan, dan keberadaban menjadi tujuan besar yang harus diwujudkan bersama.

“Kalau kita bicara key performance indicator, setting goals kita adalah Kota Bogor yang religius, maju, dan berkeadaban. Tetapi persoalan yang kita hadapi hari ini sangat beragam, mulai dari kemiskinan, putus sekolah, kesehatan, sampah, hingga kenakalan remaja,” ujarnya saat membuka MTQ Tingkat Kota Bogor Tahun 2026.

Ia mencontohkan berbagai kegiatan gotong royong membersihkan sungai, permukiman, sekolah, pesantren, hingga kawasan lingkungan lainnya yang masih terus dilakukan. “Kita hampir setiap minggu mengadakan korve kebersihan. Kalau kita masih jauh dari setting goals yang kita tetapkan, berarti masih ada persoalan yang harus kita selesaikan secara menyeluruh,” tutur dia.

Sinergi dengan Program Lain

Di sisi lain, Pemkot Bogor juga tengah menggenjot pembangunan Sekolah Rakyat di Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan. Dedie Rachim meninjau langsung lokasi tersebut pada Rabu (23/9) dan menekankan pentingnya kualitas serta kenyamanan bagi para siswa.

“Ada beberapa potensi aset kita yang bisa nanti dimanfaatkan langsung oleh Sekolah Rakyat. Kenapa saya memprioritaskan? Karena yang akan sekolah di sini jenjang SMP dan SMA kurang lebih sampai dengan 2.000 siswa, yang notabene mereka adalah warga Kota Bogor dari keluarga prasejahtera,” ungkapnya.

Pembangunan Sekolah Rakyat akan dikerjasamakan antara Pemkot Bogor dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Sosial dengan konsep boarding school. Sekolah ini gratis dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup keluarga prasejahtera di Bogor.

Meski demikian, Dedie menegaskan bahwa seluruh aspek harus dipastikan sebelum pembangunan dimulai, mulai dari kondisi area, lahan, hingga fasilitas pendukung. Area tersebut sebelumnya merupakan Terminal Agribisnis yang telah ada sejak 2004, namun belum berjalan optimal.

Kesimpulan

Polemik CFD di Kota Bogor menjadi cerminan tantangan dalam menyeimbangkan berbagai kepentingan publik. Di satu sisi, CFD memberikan ruang bagi warga untuk berolahraga dan berekreasi; di sisi lain, akses ibadah jemaat gereja tidak boleh terabaikan. Empat surat yang dilayangkan gereja kepada Wali Kota Dedie Rachim menjadi bukti bahwa dialog dan penyesuaian terus dilakukan. Dengan pendekatan yang mengedepankan musyawarah, Pemkot Bogor berupaya memastikan CFD tetap berjalan tanpa mengorbankan hak konstitusional warga untuk beribadah. Ke depan, sinergi antara program pembangunan karakter, kebersihan, dan pendidikan seperti Sekolah Rakyat diharapkan semakin memperkuat Kota Bogor sebagai kota yang religius, maju, dan beradab.