Ajax dalam Sorotan: Forbs Bersinar di Brugge, Fitz-Jim Bangkit di Torino, dan Kritik Tajam atas Performa Eredivisie

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Ajax dalam Sorotan: Forbs Bersinar di Brugge, Fitz-Jim Bangkit di Torino, dan Kritik Tajam atas Performa Eredivisie

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 21 September 2026 | Amsterdam, 21 September 2026 — Dinamika sepak bola Belanda kembali menghadirkan narasi menarik, terutama bagi Ajax Amsterdam. Meski tengah menghadapi kritik atas inkonsistensi performa, para mantan pemain Ajax justru menunjukkan perkembangan signifikan di klub baru mereka. Sementara itu, hasil imbang melawan Excelsior dan persaingan di papan atas Eredivisie memicu perdebatan tajam di kalangan pengamat.

Carlos Forbs: Transformasi di Club Brugge

Carlos Forbs menjadi sorotan media Belgia setelah penampilan impresifnya bersama Club Brugge. Dalam kemenangan besar atas RC Genk, winger asal Portugal itu terpilih sebagai Man of the Match versi Sporza. Media Belgia mencatat kemajuan pesat dalam permainan Forbs sejak meninggalkan Ajax.

Het Nieuwsblad menyoroti peningkatan fisik dan taktik pemain berusia 22 tahun tersebut. “Setahun lalu, ia hampir tidak bisa bermain satu babak penuh. Club tetap percaya pada kualitasnya dan Forbs telah mengambil langkah besar. Kecepatannya selalu berbahaya, tetapi melawan blok rendah ia sering kesulitan. Kini ia lebih sering membuat pilihan yang tepat,” tulis media tersebut.

Data statistik memperkuat klaim ini. Bersama Club Brugge, Forbs terlibat langsung dalam 28 gol dari 59 pertandingan (13 gol, 15 assist), atau satu kontribusi gol setiap 160 menit. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan masa baktinya di Ajax, di mana ia membutuhkan 221 menit untuk mencetak atau menciptakan gol.

Kian Fitz-Jim: Kebangkitan di Torino

Kisah berbeda datang dari Kian Fitz-Jim. Setelah meninggalkan Ajax pada musim panas lalu dengan transfer senilai 2,5 juta euro ke Torino, gelandang 23 tahun itu langsung menjadi pilihan utama. Ia tampil sebagai starter dalam enam pertandingan Serie A, hanya absen saat melawan AC Monza di Coppa Italia.

Media Italia memuji fleksibilitas dan perkembangan Fitz-Jim. Data FootballTransfers menunjukkan Skill-rating-nya melonjak dari 58,4 menjadi 66,0 setelah kepindahan ke Italia. Meski belum mencetak gol atau assist, kontribusinya di lini tengah Torino mendapat apresiasi luas. Ajax sendiri masih memiliki persentase penjualan, sehingga perkembangan Fitz-Jim tetap dipantau dengan cermat.

Kritik Pedas untuk Ajax dan Eredivisie

Di dalam negeri, Ajax menghadapi kritik tajam. Valentijn Driessen dari De Telegraaf menilai Ajax beruntung tidak kalah 3-2 dari Excelsior karena keputusan wasit yang kontroversial. “Kualitas Eredivisie merosot tajam. Ajax, Feyenoord, PSV, dan AZ tampil mengecewakan di Eropa,” ujarnya.

Driessen menyoroti bahwa lima klub top Eredivisie sering kesulitan melawan tim papan bawah. “Pertandingan seperti ADO Den Haag vs Cambuur atau Ajax vs Heerenveen tidak lagi menghibur. Levelnya menyakitkan mata,” tambahnya. Ia juga mempertanyakan konsistensi AZ sebagai pemuncak klasemen setelah jeda internasional.

El Ahmadi vs Perez: Perbedaan Pandangan

Analis Karim El Ahmadi melihat kemajuan signifikan dalam permainan Ajax dibandingkan musim lalu. “Ada perbedaan besar. Para pemain saling terhubung, bergerak dinamis, dan pola serangan lebih jelas. Ini berkat kerja keras pelatih,” katanya.

Namun, Kenneth Perez lebih skeptis. “Tangan anak kecil cepat puas. Ajax masih kehilangan poin melawan Excelsior. Ada masalah kualitas, terutama dalam transisi bertahan,” tegasnya. Perez menyoroti kesalahan bek Kehrer saat gol kedua Excelsior sebagai contoh kurangnya ketajaman.

Persaingan Papan Atas dan Interland

Di sisi lain, Feyenoord menunjukkan performa mengesankan dengan kemenangan 5-0 atas FC Utrecht. Meski demikian, Driessen mengingatkan bahwa Feyenoord baru menghadapi satu tim papan atas. Sementara itu, tim nasional Belanda bersiap menghadapi Jerman dalam debut Jürgen Klopp sebagai pelatih, dengan Karim Adeyemi masuk dalam skuad.

Ajax-PSV disebut-sebut sebagai pertandingan sekelas Liga Champions, menunjukkan bahwa duel antar tim top tetap memiliki daya tarik tersendiri di tengah kritik terhadap kualitas liga secara keseluruhan.

Perjalanan Ajax dan para mantan pemainnya mencerminkan dinamika sepak bola yang penuh ketidakpastian. Forbs dan Fitz-Jim membuktikan bahwa perubahan lingkungan dapat memicu perkembangan pesat, sementara Ajax masih mencari konsistensi di tengah ekspektasi tinggi. Kritik terhadap Eredivisie menjadi pengingat bahwa kualitas kompetisi perlu terus ditingkatkan, bukan hanya mengandalkan sejarah dan nama besar. Bagi Ajax, tantangan sesungguhnya adalah mengubah potensi menjadi prestasi nyata, baik di level domestik maupun Eropa.