Gayatri Putri News – 11 Agustus 2026 | Badan sepak bola dunia, FIFA, saat ini tengah diguncang krisis kepemimpinan yang serius. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak menyusul kegagalan rencana kontroversial terkait pengelolaan hak komersial turnamen sepak bola internasional. Ketegangan ini memuncak setelah proposal pembentukan entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) menuai penolakan keras dari berbagai konfederasi sepak bola global.
Akar Masalah: Proyek FIFA Forward Enterprise
Kontroversi bermula ketika FIFA berencana menghimpun dana sebesar 4,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp67,2 triliun melalui penjualan saham kepada investor swasta. Rencana tersebut mencakup pelepasan hingga 20 persen kepemilikan atas hak komersial Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya ke tangan entitas eksternal. Langkah yang dianggap mencederai tata kelola organisasi ini memicu kritik tajam karena dianggap dilakukan tanpa konsultasi memadai dengan asosiasi anggota.
Akibat gelombang protes yang meluas, Infantino akhirnya membatalkan rencana tersebut. Namun, permintaan maaf dan pembatalan proyek tidak meredam amarah para pemangku kepentingan. Uni Sepak Bola Eropa (UEFA), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf) bahkan telah membahas pembentukan kompetisi tandingan sebagai bentuk protes nyata terhadap kebijakan FIFA.
Tekanan Mundur dan Ancaman Boikot
Situasi semakin memanas setelah Federasi Sepak Bola Norwegia secara terbuka mendesak Gianni Infantino untuk segera mengundurkan diri. Ketua Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, menyatakan bahwa krisis kepercayaan telah mencapai titik nadir yang membuat kepemimpinan Infantino tidak lagi layak dipertahankan. Senada dengan itu, UEFA menegaskan telah kehilangan kepercayaan dan mengancam akan memboikot seluruh turnamen di bawah naungan FIFA jika tidak ada jaminan perubahan tata kelola yang transparan.
Tekanan terhadap Infantino juga terlihat dari surat terbuka yang ditandatangani oleh pimpinan UEFA, AFC, dan Concacaf. Mereka mendesak adanya penyelidikan independen yang melibatkan pihak luar untuk mengusut tuntas kegagalan pengambilan keputusan tersebut. Sementara itu, di internal organisasi, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dilaporkan telah menarik dukungan mereka terhadap pencalonan kembali Infantino untuk periode mendatang.
Pembelaan FIFA dan Dukungan yang Tersisa
Menanggapi guncangan tersebut, FIFA mengeluarkan pernyataan keras yang menuding adanya upaya terkoordinasi untuk melemahkan posisi sang presiden. Pihak organisasi menegaskan bahwa setiap tantangan terhadap kepemimpinan harus dilakukan melalui prosedur demokratis dan statuta yang berlaku. FIFA menolak keras pemberitaan yang dianggap tidak akurat dan menyesatkan mengenai krisis ini.
Meski ditekan hebat oleh konfederasi besar, Infantino masih mengantongi dukungan dari beberapa pihak. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyatakan dukungan penuh secara bulat, sementara Federasi Sepak Bola Meksiko dan Argentina tetap setia mendukung kepemimpinan pria kelahiran Swiss tersebut. Dukungan ini sempat dipertegas dalam rapat krisis di Rabat, Maroko, di mana Dewan Manajemen FIFA menyatakan komitmen mereka untuk tetap berada di belakang Infantino.
Masa depan sepak bola dunia kini berada di persimpangan jalan. Dengan Kongres FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027, posisi Gianni Infantino akan terus menjadi sorotan tajam. Apakah dia mampu memulihkan kepercayaan publik dan organisasi, atau justru akan menjadi korban dari krisis tata kelola yang ia ciptakan sendiri, masih akan menjadi babak panjang dalam sejarah sepak bola dunia.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






