DKPP HST Terima Laporan Pokdatan Pembudidaya Ikan Terdampak Musim Kemarau

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

DKPP HST Terima Laporan Pokdatan Pembudidaya Ikan Terdampak Musim Kemarau

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 02 Oktober 2026 | Musim kemarau yang melanda Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mulai memberikan dampak serius bagi para pembudidaya ikan. Sejumlah kolam dilaporkan mengalami kekeringan, sementara cuaca panas yang berkepanjangan juga menyebabkan kematian massal ikan di sejumlah kelompok budidaya.

Salah satu kelompok yang terdampak cukup parah adalah Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU). Kelompok ini membudidayakan ikan nila dengan menggunakan kolam terpal. Kondisi cuaca panas membuat suhu air di kolam meningkat dan sulit dikendalikan.

Misera, anggota Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak, mengungkapkan bahwa kematian ikan di kolam mereka mencapai sekitar 8.000 ekor. Sebelumnya, kelompok tersebut membudidayakan sekitar 10.000 ekor bibit ikan nila, namun kini hanya sekitar 2.000 ekor yang masih bertahan.

“Yang mati sekitar 8.000 ekor. Awalnya ada 10.000 ekor, sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya, Jumat (18/9/2026).

Akibat kejadian tersebut, Misera menyebut pihaknya belum menghitung secara pasti total kerugian yang dialami. “Untuk kerugian, belum dihitung,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) HST melalui Kabid Perikanan, Syaifuddin Noor, mengatakan sedikitnya empat kelompok pembudidaya ikan telah melaporkan terdampak musim kemarau.

“Untuk sementara, ada empat kelompok yang sudah melaporkan terdampak. Dampaknya berbeda, ada kolam yang mengalami kekeringan dan ada juga ikan yang mati karena suhu air meningkat,” ujar Syaifuddin.

Hingga saat ini, empat kelompok pembudidaya ikan yang telah melaporkan dampak musim kemarau ini kepada DKPP HST mengalami dampak yang berbeda-beda, tergantung jenis kolam dan ikan yang dibudidayakan.

Dua di antaranya yakni Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS). Kedua kelompok tersebut sama-sama membudidayakan ikan gabus atau haruan menggunakan kolam tanah.

Kemarau membuat kolam yang digunakan mengalami kekeringan atau surut, sehingga tidak dapat melakukan kegiatan budidaya. Sementara Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan LAU, mengalami persoalan berbeda karena menggunakan kolam terpal untuk membudidayakan ikan nila.

Cuaca panas membuat suhu air di dalam kolam meningkat. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan ikan nila mengalami kematian secara massal.

Kelompok keempat, yakni Pokdakan Mufakat di Desa Mahang Baru, Kecamatan LAS, juga membudidayakan ikan haruan menggunakan kolam tanah. Kelompok tersebut turut terdampak karena kolam mengalami suhu panas dan pengambilan air yang agak sulit didapat selama musim cuaca panas ini.

Syaifuddin menjelaskan, kondisi kemarau memang memberikan dampak besar terhadap kelangsungan usaha pembudidaya ikan, terutama dengan sistem kolam terpal yang digunakan.

“Kalau kolam tanah, kendalanya air yang semakin berkurang karena kekeringan. Sedangkan pada kolam terpal, cuaca panas membuat suhu air meningkat sehingga bisa menyebabkan ikan mengalami kematian,” jelasnya.

Berikut ringkasan dampak musim kemarau terhadap empat kelompok pembudidaya ikan di HST:

Nama Kelompok Lokasi Jenis Ikan Jenis Kolam Dampak
Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan LAU Ikan Nila Kolam Terpal Kematian massal sekitar 8.000 ekor
Pokdakan Awang Maju Bersama Desa Jamil Ikan Gabus/Haruan Kolam Tanah Kolam kekeringan/surut
Pokdakan Anugerah Tatah Makmur Kecamatan LAS Ikan Gabus/Haruan Kolam Tanah Kolam kekeringan/surut
Pokdakan Mufakat Desa Mahang Baru, Kecamatan LAS Ikan Gabus/Haruan Kolam Tanah Suhu panas dan kesulitan air

Dengan kondisi ini, para pembudidaya ikan di HST berharap adanya perhatian dan solusi dari pemerintah daerah, terutama terkait ketersediaan air dan pengendalian suhu kolam selama musim kemarau berlangsung.

Penulis: Redaksi Barito Post
Editor: Redaksi Barito Post
Sumber: Barito Post