Gayatri Putri News – 26 September 2026 | Laga UEFA Nations League antara Austria dan Israel di Raiffeisen Arena, Linz, pada Kamis malam (24/9/2026) berakhir dramatis dengan skor 3-1 untuk tuan rumah. Namun, sorotan utama bukan hanya soal kemenangan Austria, melainkan momen kartu merah kontroversial yang diterima penyerang muda Israel, Saied Abu Farchi, akibat selebrasi golnya yang dianggap melanggar aturan.
Jalannya Pertandingan
Austria membuka keunggulan melalui penalti Romano Schmid sebelum babak pertama berakhir. Keunggulan itu bertahan hingga turun minum, meski Israel beberapa kali menciptakan peluang melalui serangan balik cepat. Memasuki babak kedua, Israel tampil lebih agresif dan akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-55 melalui sundulan Abu Farchi yang memanfaatkan umpan silang dari sisi kanan pertahanan Austria.
Gol tersebut seharusnya menjadi titik balik bagi Israel. Namun, euforia berubah menjadi bencana empat menit kemudian. Abu Farchi, yang sebelumnya sudah menerima kartu kuning pada menit ke-51, kembali mendapat hukuman setelah wasit Georgi Kabakov menilai selebrasinya melanggar aturan. Pemain berusia 20 tahun itu berlari ke tiang bendera sudut, memegangnya, lalu berlutut seolah-olah sedang membidik seperti pemain snooker. Wasit langsung mengeluarkan kartu kuning kedua, disusul kartu merah, sehingga Israel harus bermain dengan 10 orang.
Selebrasi Snooker yang Berujung Petaka
Sejumlah media Israel menyebut gestur tersebut sebagai selebrasi bertema snooker. Abu Farchi diketahui pernah mengunggah di media sosial bahwa semua selebrasinya adalah bentuk kecintaannya pada olahraga biliar tersebut. Namun, wasit tetap menganggapnya sebagai tindakan provokatif yang melanggar aturan disiplin pertandingan.
Keputusan wasit itu menuai reaksi keras dari para pemain Israel. Roy Revivo, Idan Nachmias, dan Dor Peretz terlihat mendesak Kabakov untuk menjelaskan keputusannya. Pelatih kepala Israel, Ran Ben Shimon, dalam pernyataannya kepada media Austria, mengakui bahwa selebrasi tersebut adalah kebiasaan Abu Farchi. “Abu Farchi merayakan semua golnya dengan cara seperti itu. Mungkin ini kesalahan saya karena tidak memberitahunya untuk berhenti. Dia harus belajar dari ini. Ini juga pelajaran besar bagi kami,” ujarnya.
Keunggulan Austria dan Ketidakmampuan Israel
Bermain dengan 10 pemain, Israel semakin kesulitan menahan gempuran Austria. Tuan rumah akhirnya kembali unggul pada menit ke-90 melalui Phillipp Mwene yang memanfaatkan umpan silang Paul Wanner. Sasa Kalajdzic kemudian menutup pesta gol Austria di masa tambahan waktu dengan penyelesaian jarak dekat, memastikan kemenangan 3-1 bagi pasukan Ralf Rangnick.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Israel yang tengah berjuang di Grup Nations League. Meski demikian, performa Abu Farchi sebelum kartu merah menunjukkan potensinya sebagai penyerang masa depan. Insiden ini pun memicu perdebatan di dunia sepak bola tentang batas antara selebrasi kreatif dan pelanggaran disiplin.
Konteks Politik yang Mewarnai Laga
Pertandingan ini tidak lepas dari tensi politik yang melingkupi Israel di kancah internasional. Beberapa hari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-81 yang diwarnai aksi walk out oleh hampir 70 negara, termasuk Indonesia, Turki, dan sejumlah negara Arab. Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kebijakan Israel di Gaza dan wilayah pendudukan.
Isu serupa juga mewarnai laga Nations League lainnya antara Israel dan Republik Irlandia yang akan digelar di tempat netral, Debrecen, Hungaria. Pemerintah Irlandia dan Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) menyerukan boikot, namun pertandingan tetap berjalan tanpa penonton. Pelatih Irlandia, Heimir Hallgrímsson, bahkan sempat menyatakan timnya “bermain melawan genosida”, yang memicu kemarahan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).
Meski demikian, Federasi Sepak Bola Israel menegaskan bahwa timnas mereka tetap fokus pada kompetisi. Laga melawan Austria menjadi bukti bahwa tekanan eksternal tidak serta-merta memengaruhi performa di lapangan, meski hasil akhirnya kurang memuaskan.
Dampak bagi Kedua Tim
Kemenangan ini memperkuat posisi Austria di puncak klasemen grup, sementara Israel harus puas tertahan di posisi bawah. Bagi Austria, kemenangan 3-1 ini menjadi modal berharga menjelang laga melawan Kosovo di Wina pada pekan berikutnya. Sementara itu, Israel harus segera bangkit dan melupakan insiden kartu merah yang kontroversial.
Insiden Abu Farchi juga menjadi sorotan wasit dan federasi terkait penerapan aturan selebrasi. Beberapa pengamat menilai hukuman tersebut terlalu keras, mengingat tidak ada unsur kekerasan atau penghinaan dalam gestur tersebut. Namun, aturan UEFA memang melarang selebrasi yang dianggap provokatif atau melecehkan, terlepas dari niat pemain.
Dengan hasil ini, Austria menunjukkan kualitasnya sebagai tim yang solid, sementara Israel harus menerima kenyataan pahit bahwa satu momen kelalaian dapat mengubah jalannya pertandingan. Laga ini akan dikenang bukan hanya karena skor akhir, tetapi juga karena selebrasi snooker yang berujung kartu merah, sebuah ironi yang menyayat harapan Israel untuk meraih poin di Linz.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





