Raphinha: Monster Gol dari Era Lain yang Kini Mengetuk Pintu Rekor Messi dan Ronaldo

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Raphinha: Monster Gol dari Era Lain yang Kini Mengetuk Pintu Rekor Messi dan Ronaldo

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 21 September 2026 | Sepak bola LaLiga sempat kehilangan salah satu daya tarik terbesarnya ketika Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo meninggalkan kompetisi ini. Banyak pengamat meyakini era angka-angka mustahil telah berakhir, bahwa mencetak 48 atau 50 gol dalam satu musim kini hanya menjadi cerita nostalgia yang tak akan terulang. Namun, seorang pemain Brasil bernama Raphinha memutuskan untuk membuka kembali berkas usang itu dengan cara yang tak seorang pun menduganya.

Ledakan Gol yang Mengguncang LaLiga

Raphinha mencetak 12 gol hanya dalam tujuh pertandingan pertamanya di LaLiga musim ini. Rata-rata 1,71 gol per pertandingan menempatkannya di wilayah yang selama ini hanya dihuni oleh para raksasa sepak bola dunia. Angka tersebut bahkan melampaui start terbaik yang pernah dicatatkan Messi di kompetisi yang sama, dan kini ia memburu bayang-bayang Cristiano Ronaldo sebagai patokan berikutnya.

Puncak dari ledakan itu terjadi di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan. Hatrik Raphinha menjulang kemenangan 3-1 Barcelona atas Sevilla, sekaligus menjadi hatrik keduanya secara berturut-turut setelah sebelumnya membantai Racing Santander 7-2. Kemenangan tersebut membuat Barcelona mencatatkan start terbaik sepanjang sejarah mereka di LaLiga dengan tujuh kemenangan beruntun.

Peran Baru di Bawah Hansi Flick

Perubahan besar datang dari keputusan pelatih Hansi Flick yang memainkan Raphinha sebagai penyerang nomor 9. Keputusan itu awalnya dianggap berisiko, mengingat pemain asal Brasil tersebut lebih dikenal sebagai winger dinamis. Namun hasilnya berbicara sendiri.

Flick mengungkapkan bahwa Raphinha sedang berada pada kemuncak prestasi dan kualitasnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Menurutnya, keputusan memainkan Raphinha di posisi penyerang adalah hasil diskusi barisan kejurulatihan, dan sang pemain sendiri menyambutnya dengan gembira. Flick juga menegaskan bahwa keputusan klub mempertahankan Raphinha adalah langkah tepat karena ia dianggap sebagai watak penting dalam tim dan mampu berperan sebagai kapten terbaik.

Pukulan Ballon d’Or dan Balas Dendam Paling Menyakitkan

Ironisnya, ledakan gol ini datang bersamaan dengan pukulan besar bagi Raphinha. Namanya tidak masuk dalam daftar 30 nominasi Ballon d’Or, sebuah keputusan yang dianggap banyak pihak sebagai bentuk pengabaian terhadap pemain paling produktif di Eropa saat ini. Padahal, pada tahun sebelumnya, ia harus puas finis di peringkat kelima dan menilai hasil itu tidak adil.

Alih-alih melancarkan perang kata-kata atau kampanye terbuka seperti yang dilakukan sebagian pesaingnya, Raphinha memilih cara paling menyakitkan untuk membalas: gol demi gol. Ia tidak membutuhkan pernyataan pedas atau tekanan publik. Setiap kali bola bersarang di gawang lawan, ia seolah sedang menuliskan argumennya sendiri di papan skor.

Data Pembanding di Papan Top Skor

Setelah tujuh pertandingan, posisi Raphinha di puncak daftar penembak terbaik LaLiga sangat dominan. Berikut perbandingannya:

Pemain Gol Selisih dengan Raphinha
Raphinha 12 –
Sergio Camello 7 5 gol
Kylian Mbappe 7 5 gol
Lamine Yamal 7 5 gol

Keunggulan lima gol atas para pesaing terdekatnya menunjukkan betapa konsistennya Raphinha musim ini. Ia bukan sekadar mencetak gol dalam laga-laga mudah, tetapi juga tampil menentukan di pertandingan besar seperti melawan Sevilla di kandang lawan.

Mampukah Era Angka Mustahil Kembali?

Pertanyaan besar yang kini menghantui para penggemar sepak bola adalah apakah Raphinha mampu mengembalikan era Messi dan Ronaldo ke LaLiga. Mampukah ia mengetuk pintu angka yang selama bertahun-tahun tampak mustahil diraih, seperti 40 atau bahkan 50 gol dalam satu musim?

Jika melihat konsistensinya sejauh ini, peluang itu bukanlah hal yang mustahil. Dengan rata-rata 1,71 gol per pertandingan, Raphinha berada di jalur untuk mencatatkan angka yang belum pernah terlihat sejak kepergian dua ikon besar tersebut. Tantangannya tentu bukan hanya soal ketajaman, tetapi juga menjaga kebugaran dan konsistensi di tengah jadwal padat serta tekanan kompetisi yang semakin ketat.

Yang jelas, Raphinha telah berubah menjadi monster yang melahap pertahanan LaLiga. Ia tidak hanya membalas mereka yang meragukannya, tetapi juga mengingatkan dunia bahwa era angka-angka luar biasa belum sepenuhnya berakhir. Selama ia masih berdiri di depan gawang, sejarah LaLiga berpotensi ditulis ulang oleh kaki seorang pemain yang pernah dianggap sekadar pelengkap.