Gayatri Putri News – 21 September 2026 | Lazio tengah menjadi salah satu fenomena paling menarik di awal musim Serie A. Klub ibu kota Italia itu memuncaki klasemen bersama Roma dan Inter, sebuah pencapaian yang nyaris tak diprediksi siapa pun sebelum kompetisi bergulir. Di balik kebangkitan ini, nama Gennaro Gattuso menjadi pusat perhatian sebagai arsitek utama perubahan.
Start Terbaik dalam Sejarah Biancocelesti
Lazio mengoleksi 13 poin dari lima pertandingan pembuka melalui empat kemenangan dan satu hasil imbang. Catatan ini menjadi start terbaik sepanjang sejarah klub, melampaui capaian bahkan pada musim-musim ketika Lazio meraih dua gelar scudetto. Hasil tersebut membawa skuad asuhan Gattuso memimpin klasemen bersama Roma dan Inter, dengan AC Milan menempel di posisi kelima dengan 11 poin setelah mengalahkan Lecce 3-0 di San Siro lewat gol Pulisic, Rabiot, dan Moreira.
Yang membuat pencapaian ini semakin luar biasa adalah konteksnya. Lazio memasuki musim dengan situasi finansial yang sulit dan bursa transfer nyaris tanpa belanja besar. Namun Gattuso menolak menjadikan keterbatasan sebagai alasan. Ia justru mengubahnya menjadi bahan bakar motivasi bagi para pemainnya.
Revolusi Taktik: Dari Ringhio Menjadi Arsitek Sepak Bola Modern
Gattuso dikenal luas sebagai pemain bertipe petarung dengan julukan Ringhio. Namun sebagai pelatih, ia membuktikan bahwa dirinya jauh lebih dari sekadar motivator. Lazio tampil dengan sepak bola modern yang agresif, disiplin, dan tetap memanjakan mata lewat kombinasi umpan pendek yang rapi.
Secara dasar, Gattuso menerapkan formasi 4-3-3 saat bertahan. Namun ketika menyerang, pola berubah menjadi semacam 3-3-4 yang sulit dibaca lawan. Dua bek sayap naik ke lini tengah, gelandang bertahan mundur di antara dua bek tengah, salah satu gelandang mezzala mengambil posisi sentral, sementara mezzala lain mendukung penyerang tengah untuk membentuk empat penyerang. Rotasi ini membuat lawan kerap kesulitan menemukan cara mengantisipasi serangan Lazio.
Mengelola Grup dan Memulihkan Pemain Terbuang
Salah satu kunci keberhasilan Gattuso adalah kemampuannya mengelola ruang ganti. Ia dikenal blak-blakan, loyal, dan adil kepada semua pemain. Pendekatan itu membuat para pemain memberikan segalanya untuk sang pelatih.
Davide Frattesi, yang datang sebagai pemain pinjaman dari Inter Milan, menjadi bukti nyata. Ia mencetak tiga gol pertama Lazio musim ini dan langsung dipanggil kembali ke tim nasional Italia oleh Roberto Mancini. Frattesi bahkan menyebut bahwa untuk pelatih seperti Gattuso, para pemain rela pergi berperang tanpa ragu.
- Tijjani Noslin diubah menjadi penyerang tengah dan mencetak gol dalam dua laga terakhir, menyalip Pinamonti yang belum pulih kondisi.
- Nuno Tavares kembali ke performa terbaiknya dan mendapat panggilan tim nasional Portugal.
- Belahyane semakin matang sebagai gelandang pengatur serangan.
- Cancellieri kini rutin dipilih di atas Isaksen, sementara Floriani mendapat kesempatan sebagai starter.
Gattuso juga mengambil keputusan berani dengan menolak merekrut Mauro Icardi meski kontraknya hampir ditandatangani. Ia merasa telah berjanji kepada Pinamonti dan Gudmundsson, dan menepati janji itu demi menjaga kepercayaan seluruh skuad.
Jeda Internasional dan Situasi Skuad
Selama jeda internasional yang panjang, Gattuso harus kehilangan delapan pemain yang membela negaranya masing-masing. Frattesi memperkuat Italia di Liga Bangsa-Bangsa Eropa melawan Belgia, Turki, dan Prancis. Dua pemain Denmark, Gustav Isaksen dan Oliver Provstgaard, akan menghadapi Norwegia, Wales, dan Portugal. Josip Sutalo membela Kroasia melawan Republik Ceko, Spanyol, dan Inggris.
Christos Mandas yang sedang dalam performa apik memperkuat Yunani dan berpotensi bersua Kenneth Taylor yang masuk skuad Belanda asuhan Xavi Hernandez. Nuno Tavares dipanggil pelatih baru Portugal, Jorge Jesus, sementara Albert Gudmundsson memperkuat Islandia di Liga C. Menariknya, Mattia Zaccagni justru tidak dipanggil meski tampil impresif dan menjadi penentu kemenangan Lazio atas Venezia.
Fenomena Dua Tuan G di Ibu Kota
Kebangkitan Lazio tidak bisa dilepaskan dari narasi besar sepak bola Roma. Dua pelatih berinisial G, Gattuso di Lazio dan Gian Piero Gasperini di Roma, sama-sama membawa timnya bersaing di puncak klasemen. Keduanya berbagi rasa lapar akan kesuksesan, meski berasal dari latar belakang yang berbeda. Gasperini dikenal sebagai inovator taktis, sementara Gattuso membangun kekuatan dari mentalitas dan kedekatan dengan pemain.
Bagi Lazio, jeda internasional ini menjadi momen penting untuk memulihkan kondisi fisik dan menyusun strategi menjelang jadwal padat berikutnya. Tantangan sesungguhnya baru akan terlihat ketika kompetisi kembali bergulir, apakah konsistensi ini mampu dipertahankan atau hanya menjadi euforia awal musim.
Terlepas dari itu, apa yang telah ditunjukkan Gattuso dan pasukannya patut diapresiasi. Dari klub yang diragukan karena masalah finansial, Lazio kini berdiri sejajar dengan kekuatan teratas Italia. Kombinasi taktik modern, manajemen grup yang solid, dan mentalitas bertarung telah mengubah Lazio menjadi tim yang siap menggigit siapa pun. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin scudetto yang selama ini terasa jauh akan kembali menjadi pembicaraan serius di ibu kota Italia.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






