Drama Venezia 83: Dari Gemerlap Penghargaan hingga Bayang-Bayang Kekerasan Politik

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Drama Venezia 83: Dari Gemerlap Penghargaan hingga Bayang-Bayang Kekerasan Politik

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 13 September 2026 | Edisi ke-83 Mostra Internazionale d’Arte Cinematografica di Venezia baru saja menutup tirai dengan menyisakan perpaduan antara perayaan seni sinema yang megah dan gejolak realitas sosial yang tajam. Di tengah gegap gempita penganugerahan Leone d’Oro di Palazzo del Cinema, Lido, festival ini sekali lagi membuktikan perannya sebagai panggung global bagi isu-isu kemanusiaan yang mendesak.

Dominasi Perempuan dan Narasi Politik di Venezia 83

Puncak perayaan tahun ini ditandai dengan kemenangan film Woman Unknown karya sutradara Mayy al-Tukhi yang membawa pulang Leone d’Oro. Film ini menyoroti periode sejarah pasca-pendudukan Jerman di Denmark, yang sekaligus menjadi simbol kebangkitan narasi perempuan dalam industri film internasional. Tidak hanya filmnya, Mathilde Arcel juga sukses meraih Coppa Volpi untuk kategori aktris terbaik atas perannya dalam film yang sama.

Selain itu, panggung penghargaan juga memberikan apresiasi kepada karya-karya yang berani menantang arus. Film Possible Love karya Lee Chang-dong meraih Leone d’Argento – Grand Premio della Giuria, sementara aktor veteran John Malkovich dinobatkan sebagai aktor terbaik untuk perannya dalam Wild Horse Nine. Film yang akan rilis pada 5 November mendatang ini menceritakan intrik dua agen CIA di Pulau Paskah pada tahun 1973.

Di sisi lain, perhatian publik tersita saat film dokumenter Naza dianugerahi Penghargaan Khusus Juri. Sutradara Yuval Abraham dan Rachel Szor memanfaatkan momen tersebut untuk melayangkan kritik tajam terhadap konflik di Palestina. Abraham menegaskan bahwa penyangkalan terhadap kejahatan kemanusiaan hanya akan melanggengkan penderitaan. Ia menyoroti bagaimana film tersebut diserang oleh pihak-pihak yang bahkan belum menontonnya, sebuah bentuk resistensi terhadap kenyataan pahit yang terjadi di lapangan.

Insiden Kekerasan di Luar Festival

Di balik kemegahan festival, Venezia juga diwarnai oleh laporan insiden kekerasan yang melibatkan kelompok ekstrem kanan. Marta Battistella, seorang anggota dewan kota dari Alleanza Verdi e Sinistra, melaporkan adanya serangan fisik dan penggunaan semprotan merica terhadap beberapa orang di dekat Campo San Bortolomio, Rialto. Salah satu pelaku yang diidentifikasi dalam insiden tersebut adalah seorang influencer asal Bologna yang dikenal dengan nama JollyTime.

Insiden ini menambah daftar ketegangan di kota kanal tersebut, menciptakan kontras yang mencolok antara perayaan budaya dan friksi ideologis yang terjadi di jalanan. Pihak berwenang kini tengah menyoroti aksi kekerasan ini sebagai bentuk intoleransi yang harus segera diatasi agar tidak merusak reputasi Venezia sebagai kota seni dan dialog terbuka.

Secara keseluruhan, Venezia 83 menjadi cerminan dunia saat ini yang penuh paradoks. Di dalam gedung bioskop, penonton diajak merenungkan sejarah dan keadilan melalui karya seni yang mendalam. Namun, di luar ruang tersebut, polarisasi politik dan ancaman kekerasan tetap membayangi kehidupan masyarakat. Keberhasilan festival ini bukan hanya diukur dari film pemenang, tetapi dari keberaniannya dalam menjadi ruang debat bagi isu-isu yang seringkali diabaikan oleh banyak orang.