Gayatri Putri News – 08 September 2026 | Krisis melanda markas Fiorentina. Manajemen klub berjuluk La Viola tersebut akhirnya mengambil keputusan drastis dengan memecat Fabio Grosso dari kursi kepelatihan. Keputusan ini diambil hanya berselang tiga pertandingan setelah musim Serie A 2026-2027 bergulir, sebuah langkah yang mencerminkan urgensi klub dalam menyelamatkan musim mereka yang dimulai dengan performa katastropik.
Fabio Grosso, yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi pada Juni 2026, gagal membuktikan kapasitasnya. Padahal, manajemen klub di bawah arahan Direktur Olahraga Fabio Paratici telah melakukan investasi besar-besaran dengan menggelontorkan dana mencapai 150,3 juta euro atau sekitar Rp3,09 triliun. Anggaran fantastis tersebut digunakan untuk mendatangkan 14 pemain baru guna merombak skuad yang musim lalu berjuang menghindari zona degradasi.
Namun, realita di lapangan berbanding terbalik dengan ambisi di bursa transfer. Dalam tiga laga pembuka, Fiorentina mengalami kekalahan beruntun yang memalukan. Berikut adalah catatan performa buruk di bawah asuhan Grosso:
- Dibantai AS Roma dengan skor telak 0-4.
- Dipermalukan di kandang sendiri oleh tim promosi Frosinone dengan skor 0-3.
- Tumbang 1-2 saat menghadapi Torino.
Rentetan hasil buruk tersebut membuat Fiorentina terbenam di dasar klasemen dengan raihan nol poin dan selisih gol yang sangat mengkhawatirkan, yakni 1-9. Pertemuan antara manajemen dan sang pelatih dilaporkan menjadi titik balik, di mana Grosso sempat mengungkapkan keraguannya mengenai strategi yang tepat untuk mengatasi krisis tersebut. Ketidakyakinan itu membuat pihak klub memilih untuk segera berpisah daripada terus terjebak dalam ketidakpastian.
Kembalinya Sang Penyelamat
Tidak butuh waktu lama bagi Fiorentina untuk menemukan pengganti. Pada Senin (7/9/2026) sore waktu setempat, klub secara resmi mengumumkan penunjukan kembali Paolo Vanoli sebagai pelatih kepala. Vanoli bukanlah sosok asing bagi publik Stadion Artemio Franchi. Ia adalah figur yang berjasa besar dalam mengangkat performa tim di pertengahan musim 2025/2026 dan berhasil menjauhkan klub dari ancaman degradasi hingga finis di posisi ke-15.
Manajemen Fiorentina menyampaikan apresiasi tinggi kepada Vanoli yang langsung menerima tawaran untuk kembali menangani tim di tengah situasi kritis. Sang pelatih bahkan langsung memimpin sesi latihan pertamanya bersama skuad hanya beberapa jam setelah pengumuman resmi dirilis. Kehadiran kembali Vanoli diharapkan mampu memulihkan mentalitas para pemain yang sempat hancur setelah awal musim yang kelam di bawah kepemimpinan Grosso.
Di sisi lain, dunia sepak bola Italia juga menyoroti aksi kemanusiaan dari klub Serie A lainnya, Como 1907. Di tengah hiruk-pikuk pergantian pelatih di berbagai klub, Como memberikan dukungan moril dengan memperpanjang kontrak penyerang Roberta Picchi hingga musim 2027/2028 setelah sang pemain didiagnosis menderita kanker payudara. Aksi solidaritas ini menjadi pengingat bahwa di balik ketatnya kompetisi, nilai kemanusiaan tetap menjadi pilar utama dalam ekosistem sepak bola.
Bagi Fiorentina, fase transisi ini menjadi pertaruhan besar. Dengan skuad yang telah dirombak total melalui dana investasi masif, Paolo Vanoli memikul tanggung jawab berat untuk mengubah nasib klub. Kegagalan Grosso menjadi pelajaran berharga bagi manajemen bahwa uang besar tidak selalu menjamin kesuksesan instan jika tidak dibarengi dengan visi taktis yang selaras di lapangan hijau.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






