Drama Jam Berakhir? Mengapa Daylight Saving Time Masih Menjadi Perdebatan Sengit di Amerika

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Drama Jam Berakhir? Mengapa Daylight Saving Time Masih Menjadi Perdebatan Sengit di Amerika

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 12 Agustus 2026 | Rutinitas tahunan yang mengharuskan warga Amerika Serikat memutar jarum jam mereka kembali menjadi sorotan tajam. Meskipun ada dorongan kuat dari berbagai pihak, termasuk dukungan terbuka dari Presiden Donald Trump, praktik daylight saving time (DST) atau penghematan waktu siang hari masih terus berlaku. Banyak warga yang merasa frustrasi dengan kewajiban mengubah waktu dua kali setahun, sebuah fenomena yang bahkan sempat memicu insiden keterlambatan dalam agenda kenegaraan.

Mekanisme Perubahan Waktu

Secara tradisional, sistem ini mengharuskan jam dimajukan satu jam pada hari Minggu kedua di bulan Maret, yang dikenal sebagai periode spring forward. Sebaliknya, pada hari Minggu pertama di bulan November, jam akan dimundurkan satu jam kembali ke waktu standar atau fall back. Pada tahun 2026, perubahan waktu untuk mengakhiri DST dijadwalkan jatuh pada hari Minggu, 1 November. Setelah tanggal tersebut, sebagian besar wilayah di Amerika Serikat akan kembali ke waktu standar, memberikan kesan matahari terbit dan terbenam yang lebih awal di sore hari.

Dorongan Menuju Waktu Permanen

Upaya legislatif untuk mengakhiri praktik ini telah mencapai titik krusial. DPR Amerika Serikat telah meloloskan Sunshine Protection Act dengan dukungan bipartisan yang signifikan. RUU ini bertujuan untuk menetapkan DST sebagai standar nasional permanen, yang berarti masyarakat tidak perlu lagi memutar jam mereka setiap musim semi dan musim gugur. Presiden Trump sendiri telah menyatakan dukungannya, dengan alasan bahwa perubahan jam dua kali setahun adalah beban ekonomi dan sosial yang tidak perlu bagi pemerintah maupun masyarakat.

Namun, jalan menuju pengesahan di Senat tidaklah mulus. Beberapa tantangan utama yang menghambat proses ini meliputi:

  • Kekhawatiran akan keselamatan publik terkait waktu berangkat kerja dan sekolah yang lebih gelap di pagi hari selama musim dingin.
  • Potensi dampak terhadap pola tidur dan ritme sirkadian yang memicu perdebatan di kalangan ahli kesehatan.
  • Perbedaan pendapat di antara anggota parlemen mengenai apakah DST permanen atau waktu standar permanen yang lebih baik bagi masyarakat.

Dilema di Balik Kebijakan

Pakar sejarah dan kebijakan waktu, David Prerau, mencatat bahwa upaya untuk membuat DST permanen bukanlah hal baru. Upaya serupa pernah dilakukan pada tahun 1974, namun kebijakan tersebut segera dicabut karena ketidaksukaan publik terhadap suasana pagi hari yang gelap gulita. Selain itu, perdebatan ini juga menyentuh aspek kriminalitas, di mana beberapa pihak berpendapat bahwa lebih banyak cahaya di sore hari dapat menekan angka kejahatan, sementara lawan bicara berargumen bahwa kegelapan pagi hari justru menciptakan risiko baru.

Hingga saat ini, Senat masih belum mengambil langkah final atas RUU tersebut. Selama belum ada undang-undang baru yang disahkan dan ditandatangani, masyarakat harus tetap bersiap untuk menyesuaikan jam mereka sesuai kalender yang berlaku. Meskipun ada keinginan publik yang kuat untuk mengakhiri siklus ini, tantangan logistik dan perbedaan visi di Washington memastikan bahwa perdebatan mengenai daylight saving time akan terus berlanjut hingga ada konsensus politik yang solid.

Pada akhirnya, nasib kebijakan ini berada di tangan Senat. Jika legislasi tidak segera diproses, jutaan warga Amerika akan kembali menjalankan ritual memutar jam pada bulan November mendatang, menegaskan bahwa meskipun teknologi telah maju, penyesuaian waktu manual masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Amerika Serikat.