Gayatri Putri News – 12 Agustus 2026 | Kapten Ajax, Davy Klaassen, menunjukkan sisi perfeksionisnya pasca kemenangan timnya atas PEC Zwolle dalam laga pembuka Eredivisie musim ini. Meski berhasil membawa pulang tiga poin dengan skor 0-2, Klaassen secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap penampilan timnya yang dinilai kurang memuaskan dan minim kreativitas di lapangan.
Kemenangan Ajax sendiri dipastikan melalui gol-gol telat dari Jorthy Mokio dan Julian Brandt. Namun, Klaassen merasa bahwa performa keseluruhan tim jauh dari standar yang diharapkan. Ia mengakui bahwa Ajax mengalami kesulitan besar dalam membongkar pertahanan lawan sepanjang pertandingan. Menurut sang kapten, kartu merah yang diterima pemain PEC Zwolle, Sherell Floranus, menjadi faktor krusial yang membantu Ajax keluar dari tekanan dan memecah kebuntuan di menit-menit akhir.
Perbandingan Kualitas Lawan di Eropa
Dalam analisisnya, Klaassen membandingkan kualitas PEC Zwolle dengan lawan-lawan Ajax di babak kualifikasi Liga Konferensi Eropa, yakni FK Vojvodina dan Shelbourne FC. Secara mengejutkan, ia menilai bahwa PEC Zwolle memiliki kualitas permainan yang jauh lebih baik dibandingkan kedua klub tersebut. Pernyataan ini sekaligus memberikan gambaran bahwa perjuangan Ajax di kompetisi domestik Belanda menuntut intensitas yang berbeda dibandingkan laga kualifikasi Eropa mereka.
Sebelumnya, Ajax telah menunjukkan dominasi atas Shelbourne FC dengan kemenangan 3-1 di Johan Cruyff ArenA. Dalam laga tersebut, Ajax tampil perkasa melalui gol-gol dari Mika Godts, Owen Wijndal, dan Kasper Dolberg. Meski Shelbourne sempat memberikan perlawanan gigih dengan formasi 5-4-1, perbedaan kelas antara kedua tim terlihat jelas di lapangan.
Evaluasi Strategi dan Absennya Mika Godts
Klaassen menyoroti absennya Mika Godts sebagai salah satu alasan utama kurangnya kedalaman serangan Ajax saat menghadapi PEC Zwolle. Godts, yang merupakan salah satu talenta muda paling menjanjikan di skuat, sebelumnya tampil impresif saat melawan Shelbourne dengan pergerakan yang mampu membelah pertahanan lawan. Tanpa kehadiran Godts, Ajax tampak kesulitan memberikan tekanan pada lini terakhir lawan.
Berikut adalah beberapa poin evaluasi yang ditekankan oleh Klaassen terkait performa tim:
- Kurangnya kejutan dalam pola serangan yang diterapkan di lapangan.
- Pentingnya pergerakan tanpa bola untuk menekan lini pertahanan lawan.
- Perlunya peningkatan konsistensi agar tidak selalu bergantung pada kesalahan lawan atau kartu merah.
Meskipun Ajax telah mendatangkan amunisi baru seperti Julian Brandt dan Marc-Andre ter Stegen untuk memperkuat skuat, Klaassen menegaskan bahwa adaptasi dan pemahaman taktik masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh anggota tim. Ia mendesak rekan-rekannya untuk segera memperbaiki ritme permainan agar tidak terus-menerus mengandalkan keberuntungan di menit akhir.
Ke depan, Ajax akan kembali fokus pada laga leg kedua melawan Shelbourne. Dengan keunggulan agregat 3-1, posisi Ajax memang cukup aman, namun Klaassen berharap timnya dapat tampil lebih dominan dan klinis dibandingkan laga sebelumnya. Fokus utama sang kapten adalah memastikan bahwa Ajax tidak hanya meraih kemenangan, tetapi juga mampu mengendalikan jalannya pertandingan sesuai dengan identitas sepak bola yang mereka usung.
Secara keseluruhan, sikap kritis yang ditunjukkan oleh Davy Klaassen mencerminkan ambisi besar Ajax untuk kembali ke puncak performa. Meskipun kemenangan di PEC Zwolle menjadi modal awal yang baik, sang kapten sadar bahwa perjalanan musim ini masih panjang dan menuntut perbaikan mendasar di berbagai lini permainan agar mereka tetap kompetitif di kancah domestik maupun Eropa.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






