Gayatri Putri News – 06 Agustus 2026 | Gunung Piramid di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kembali menyisakan duka mendalam. Jalur pendakian yang dikenal dengan sebutan Punggung Naga yang ikonik namun mematikan tersebut, baru saja merenggut nyawa dua orang pendaki. Operasi pencarian dan evakuasi yang berlangsung intensif selama berhari-hari akhirnya mencapai titik akhir pada Rabu, 5 Agustus 2026, setelah tim SAR gabungan berhasil membawa jenazah keduanya turun dari medan ekstrem.
Operasi Penyelamatan di Medan Ekstrem
Dua korban yang meninggal dunia adalah Maliya Finda (51), seorang pendaki asal Surabaya, dan Irfan Nasrul Laili (35), seorang pemandu pendakian lokal asal Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Keduanya sempat dilaporkan hilang kontak sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah jurang sedalam 60 meter di bawah jalur Punggung Naga pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR gabungan melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, BPBD, TNI, Polri, serta relawan. Mengingat lokasi korban berada di area dengan kontur tebing yang nyaris tegak lurus, tim penyelamat harus mengerahkan keahlian teknis tingkat tinggi. Operasi ini dibagi menjadi dua tahap krusial:
- Tahap pertama: Menggunakan teknik lowering untuk menurunkan jenazah dari titik penemuan ke arah aliran sungai sejauh hampir satu kilometer.
- Tahap kedua: Estafet pemikulan jenazah menggunakan tandu melewati jalur setapak yang terjal sepanjang 5,33 kilometer menuju pintu pendakian.
Koordinasi yang ketat dilakukan dengan memanfaatkan berbagai peralatan pendukung, mulai dari perangkat mountaineering hingga drone thermal untuk memastikan keselamatan tim dan kehormatan jenazah selama perjalanan turun yang memakan waktu belasan jam tersebut.
Peristirahatan Terakhir bagi Sang Petualang
Setelah berhasil dievakuasi pada Rabu malam, jenazah Maliya Finda kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Bondowoso untuk proses medis. Pada Kamis pagi, 6 Agustus 2026, jenazah almarhumah diberangkatkan menuju kampung halamannya di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan dihadiri oleh keluarga, kerabat, serta rekan-rekan sesama pendaki yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Di mata kerabatnya, Maliya Finda dikenang sebagai sosok yang sangat ramah dan memiliki jiwa petualang yang tinggi sejak masa sekolah. Kecintaannya terhadap alam bebas telah mendarah daging, menjadikannya pribadi yang dihormati di komunitas pendaki. Pihak kepolisian setempat, melalui Polsek Babat, turut memastikan seluruh rangkaian prosesi pemakaman berjalan dengan tertib dan lancar sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.
Evaluasi Keamanan Jalur Pendakian
Tragedi yang terjadi di Gunung Piramid ini menjadi pengingat keras bagi para pegiat alam bebas mengenai risiko tinggi yang tersimpan di balik keindahan puncak-puncak ekstrem. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh unsur SAR gabungan yang telah bekerja secara profesional dan penuh dedikasi dalam operasi evakuasi ini. Operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup setelah seluruh korban berhasil dipulangkan ke pihak keluarga.
Kejadian ini diharapkan menjadi refleksi bagi pendaki lain untuk senantiasa mengutamakan keselamatan, memperhatikan kondisi cuaca, serta memahami tingkat kesulitan medan sebelum memutuskan untuk mendaki jalur-jalur yang memiliki risiko tinggi seperti di Gunung Piramid. Kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan pendakian yang memadai adalah syarat mutlak yang tidak boleh diabaikan demi mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





