Guncangan di Ganda Campuran Indonesia: Dari Debut Bagas Maulana hingga Investigasi Integritas BWF

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Guncangan di Ganda Campuran Indonesia: Dari Debut Bagas Maulana hingga Investigasi Integritas BWF

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 05 Agustus 2026 | Sektor ganda campuran Indonesia tengah berada dalam periode transformasi besar-besaran. Di tengah upaya PBSI melakukan penyegaran besar melalui perombakan komposisi pemain hingga kursi kepelatihan, muncul tantangan berat terkait isu integritas yang kini tengah diproses oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Transformasi Sektor Ganda Campuran

Salah satu langkah mengejutkan yang diambil PBSI adalah memindahkan Bagas Maulana dari ganda putra ke sektor ganda campuran. Juara All England 2022 ini akan memulai babak baru kariernya dengan berpasangan bersama Indah Cahaya Sari Jamil. Debut mereka dijadwalkan berlangsung pada ajang Pontianak International Challenge 2026.

Pelatih ganda putra PBSI, Antonius Budi Ariantho, menjelaskan bahwa keputusan ini bukan sekadar eksperimen. Karakter permainan Bagas yang cenderung dominan di area belakang lapangan dinilai sangat cocok dengan pola permainan ganda campuran modern. Dengan postur dan kekuatan pukulan yang mumpuni, Bagas diharapkan mampu memberikan dimensi baru bagi sektor ini.

Di sisi lain, perombakan juga melanda pasangan lainnya. Adnan Maulana, yang sebelumnya berpasangan dengan Indah, kini harus menunggu keputusan tim pelatih mengenai partner barunya. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menegaskan bahwa kebijakan bongkar-pasang ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh untuk meningkatkan daya saing, termasuk adanya pergantian pelatih kepala di sektor ganda campuran.

Bayang-bayang Kasus Integritas

Di luar dinamika perombakan pemain, bulu tangkis Indonesia sedang menghadapi masa sulit terkait isu integritas. PBSI secara resmi mengonfirmasi bahwa BWF tengah menjalankan proses pengadilan independen (judicial proceedings) terhadap sejumlah pemain Indonesia. Meski detail pelanggaran belum dirinci, isu dugaan pengaturan skor (match fixing) telah santer terdengar dan bahkan menarik perhatian media internasional, termasuk New Straits Times dari Malaysia.

Situasi ini bermula dari penarikan beruntun pasangan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu serta Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil dari berbagai turnamen internasional, termasuk Kejuaraan Dunia 2026. Meski Jafar/Felisha sempat tampil impresif di ajang Polytron Indonesia Open 2026, status mereka ke depan masih menunggu hasil evaluasi dan proses hukum yang berjalan. Eng Hian menyatakan bahwa peluang Jafar/Felisha untuk tampil di Asian Games 2026 masih terbuka, namun keputusan akhir akan sangat bergantung pada hasil evaluasi menyeluruh dan proses administrasi yang sedang berlangsung.

Langkah Strategis PBSI

Proses perombakan di sektor ganda campuran saat ini mencakup beberapa poin krusial berikut:

  • Evaluasi mendalam terhadap kinerja atlet pasca-turnamen internasional.
  • Penyegaran di jajaran staf kepelatihan untuk memberikan visi baru bagi talenta yang ada.
  • Eksperimen komposisi pemain, termasuk memasangkan Dejan Ferdinansyah dengan Apriyani Rahayu.
  • Kepatuhan penuh terhadap proses hukum independen yang dijalankan oleh BWF demi menjaga marwah olahraga.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa PBSI serius dalam melakukan pembenahan, baik dari sisi teknis permainan maupun kedisiplinan organisasi. Bagi para pemain, tantangan ke depan bukan hanya soal beradaptasi dengan pasangan baru di lapangan, tetapi juga membuktikan kualitas di tengah sorotan tajam terhadap integritas olahraga. Harapannya, melalui penyegaran ini, sektor ganda campuran Indonesia dapat kembali kompetitif di level dunia dan mampu meraih prestasi yang membanggakan di ajang-ajang besar mendatang.