Skandal Match Fixing Guncang Timnas Laos di Piala AFF 2026: Soukphachan Lueanthala Ditangkap Polisi

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Skandal Match Fixing Guncang Timnas Laos di Piala AFF 2026: Soukphachan Lueanthala Ditangkap Polisi

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari dunia sepak bola Asia Tenggara. Pemain tim nasional Laos, Soukphachan Lueanthala, dilaporkan ditangkap pihak berwenang terkait dugaan keterlibatan dalam praktik pengaturan pertandingan atau match fixing pada ajang ASEAN Championship 2026 atau Piala AFF. Penangkapan winger klub Salavan United tersebut mencuat setelah sejumlah rekan setimnya menjalani pemeriksaan polisi seusai turnamen bergengsi itu berakhir.

Laporan media internasional The Guardian pada Kamis, 8 Oktober 2026, menyebutkan bahwa kasus ini berkaitan dengan dugaan penyuapan, perjudian ilegal, serta manipulasi pertandingan. Lueanthala diduga terlibat dalam operasi sebuah sindikat perjudian yang diyakini berbasis di Vietnam. Sumber yang mengetahui penanganan kasus tersebut mengungkapkan bahwa pemain berposisi winger itu berperan memberikan arahan kepada pemain lain sekaligus menjadi penghubung bagi pihak-pihak yang terlibat dalam operasi pengaturan pertandingan.

Kronologi dan Hasil Buruk Laos di Piala AFF 2026

Kecurigaan terhadap penampilan timnas Laos muncul setelah sejumlah insiden mencurigakan terjadi sepanjang fase Grup B Piala AFF 2026. Di bawah asuhan pelatih asal Serbia, Vladica Grujic, Laos selalu tumbang dalam empat laga dengan skor yang mencolok:

  • Kalah 0-5 dari Thailand
  • Kalah 0-4 dari Malaysia
  • Kalah 1-4 dari Filipina
  • Kalah 2-7 dari Myanmar pada laga terakhir fase grup, awal Agustus 2026

Sejumlah momen di lapangan turut disorot. Pemain Laos, Viengxay Sydavong, mencetak dua gol bunuh diri, masing-masing saat menghadapi Malaysia dan Filipina. Phetdavanh Somsanith diganjar kartu merah langsung saat lawan Thailand, kemudian kembali diusir dari lapangan usai menerima kartu merah langsung dalam laga kontra Filipina. Adapun di laga terakhir melawan Myanmar, Sayfon Keohanam juga menerima kartu merah langsung.

Penampilan kiper Keo Souvannasangsgo saat Laos kalah 0-4 dari Malaysia ikut memicu kecurigaan. Pada menit ke-84, kiper tersebut terlihat menarik tangannya lalu menjatuhkan diri ketika bola hasil tendangan bebas Wan Kuzain mengarah ke tengah gawang. Momen ini menjadi salah satu sorotan utama dalam dugaan match fixing Piala AFF 2026.

Penyelidikan LFF dan Pelimpahan ke Kepolisian

Federasi Sepak Bola Laos (LFF) sebelumnya mengumumkan penyelidikan atas dugaan suap, perjudian ilegal, dan manipulasi pertandingan pada 7 Agustus 2026, atau tak lama setelah turnamen berakhir. Federasi tersebut kemudian melimpahkan kasus itu kepada kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. Penangkapan Lueanthala terjadi setelah sejumlah pemain Laos menjalani pemeriksaan polisi usai menghadapi Myanmar pada laga terakhir Grup B Piala AFF 2026 pada 4 Agustus 2026.

Hingga kini, LFF maupun kepolisian Laos belum memberikan konfirmasi resmi mengenai penangkapan tersebut. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) juga dilaporkan belum memberikan pernyataan mengenai kasus ini. Namun, Lueanthala dilaporkan masih berada dalam tahanan pihak berwenang.

Masalah Lama Sepak Bola Laos

Persoalan pengaturan skor bukan kali pertama mencoreng sepak bola Laos. Pada 2020, penjaga gawang Laos, Thipphonexay Inthavongsa, dijatuhi sanksi larangan beraktivitas seumur hidup di sepak bola setelah terbukti terlibat dalam pengaturan pertandingan melawan Hong Kong pada 2017. Kasus ini menunjukkan bahwa praktik ilegal tersebut telah menjadi masalah sistemik yang sulit diberantas.

Sumber yang dekat dengan timnas Laos menilai kondisi ekonomi pemain menjadi salah satu faktor yang membuat praktik ilegal tersebut rentan terjadi. Menurut sumber itu, pemain hanya menerima bayaran sekitar 10 dolar AS per hari ketika memperkuat tim nasional. Sebaliknya, keuntungan dari pengaturan skor disebut jauh lebih besar. Salah seorang pemain bahkan dikabarkan mengaku menerima bayaran hingga 10.000 dolar AS untuk setiap pertandingan yang diaturnya. Situasi tersebut dinilai turut menghambat perkembangan sepak bola Laos. Sejumlah pemain berpengalaman dilaporkan tersingkir, sementara posisi mereka digantikan oleh pemain-pemain muda.

Dampak dan Kesimpulan

Kasus dugaan match fixing yang menyeret nama Soukphachan Lueanthala menjadi pukulan telak bagi sepak bola Laos yang tengah berjuang meningkatkan kualitas kompetisi di kawasan Asia Tenggara. Skandal ini tidak hanya mencoreng integritas timnas Laos, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang pengawasan pertandingan di ajang Piala AFF 2026 serta kesejahteraan finansial para pemain di negara-negara berkembang.

Jika terbukti, kasus ini berpotensi memicu sanksi berat dari AFC maupun FIFA, termasuk larangan beraktivitas bagi individu yang terlibat. Penegakan hukum yang transparan dan reformasi tata kelola federasi menjadi kunci agar sepak bola Laos dapat pulih dari bayang-bayang pengaturan skor. Publik pun menanti kejelasan resmi dari LFF dan kepolisian Laos mengenai status hukum Lueanthala serta langkah lanjutan yang akan diambil untuk membersihkan olahraga ini dari praktik curang.

Sumber Berita: Ntvnews.id, Tirto.id, Mistar.id, Detik.com

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda