Di Balik Juara Timnas Indonesia, Bayang-Bayang Rencana Gianni Infantino Kuasai Pemilu FIFA 2027

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Di Balik Juara Timnas Indonesia, Bayang-Bayang Rencana Gianni Infantino Kuasai Pemilu FIFA 2027

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Kemenangan dramatis Timnas Indonesia atas Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar euforia sepak bola nasional. Di balik adu penalti 4-2 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Oktober 2026, tersimpan dimensi politik yang jauh lebih besar: manuver Presiden FIFA Gianni Infantino menjelang pemilihan kepemimpinan FIFA 2027.

Infantino di Tengah Sorotan Dunia

Infantino menyaksikan langsung laga final tersebut dari tribun kehormatan, didampingi Presiden RI Prabowo Subianto dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Ia bahkan turun ke lapangan menyerahkan trofi kepada kapten Timnas Indonesia, Kevin Diks. Kehadiran itu menjadi sorotan media internasional, termasuk The Guardian, yang menilai kesuksesan turnamen perdana ciptaan Infantino tersebut memiliki dampak politik tersendiri.

“Indonesia berjaya dalam turnamen ciptaan Infantino, tetapi dampak sesungguhnya kemungkinan adalah voter,” tulis The Guardian, mengisyaratkan bahwa turnamen ini menjadi alat membangun dukungan politik di kawasan Asia Tenggara.

Peta Dukungan yang Terbelah

Infantino telah mengumumkan niatnya mencalonkan diri kembali pada Kongres FIFA Mei 2026. Namun, dukungan yang ia kumpulkan tidak merata. Sejumlah konfederasi besar justru menentang periode keempatnya:

  • UEFA, yang mengundang 55 federasi anggotanya ke pertemuan di Berlin, menyatakan tidak akan memilih Infantino.
  • AFC dan CONCACAF menjadi penentang keras, meski beberapa asosiasi anggotanya tetap mendukung.
  • Afrika menjadi salah satu wilayah yang masih diupayakan Infantino untuk meraih suara.

Kontroversi terbesar yang memicu penolakan adalah rencana Football Forward Enterprise (FFE), yakni gagasan menjual saham Piala Dunia kepada investor swasta yang diumumkan pada Juli 2026 dan dibatalkan beberapa hari kemudian akibat protes luas.

Lawan yang Tak Kunjung Muncul

Meski oposisi menguat, hingga kini belum ada kandidat yang resmi menantang Infantino. Victor Montagliani sempat disebut-sebut akan maju, tetapi memilih bertahan sebagai Presiden CONCACAF. Sementara itu, Presiden UEFA Aleksander Ceferin menegaskan tidak akan mencalonkan diri dalam pemilihan Presiden FIFA dan lebih memilih memperpanjang masa jabatannya di UEFA untuk periode terakhir.

Batas pendaftaran kandidat ditetapkan pada 18 November, sementara pemungutan suara dijadwalkan pada 18 Maret dalam Kongres Luar Biasa FIFA. Kondisi ini membuat jalan Infantino menuju periode keempat tampak terbuka lebar, meski tanpa dukungan mayoritas konfederasi besar.

Nasib FIFA ASEAN Cup di Ujung Tanda Tanya

Jika Infantino lengser, keberlanjutan FIFA ASEAN Cup menjadi pertanyaan besar. Turnamen edisi perdana yang digelar 25 September hingga 5 Oktober 2026 itu merupakan inisiatif langsung Infantino, dengan Indonesia sebagai tuan rumah Premier Division dan Hong Kong sebagai host Challenge Division. Hong Kong keluar sebagai juara Challenge Division setelah mengalahkan Kamboja 2-0.

Sepanjang periode kritis ini, Infantino melakukan safari ke berbagai negara: meresmikan kantor baru di Makau, membuka FIFA Arena Mini-pitch di Uzbekistan, hingga menghadiri dua final FIFA ASEAN Cup. Di Hong Kong ia disambut chant bernada negatif, namun 48 jam berselang ia mendapat sambutan hangat di Indonesia.

Kesimpulan

Pemilihan Presiden FIFA 2027 menjadi pertarungan politik yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan sepak bola. Kemenangan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 telah menempatkan Indonesia dalam pusaran diplomasi olahraga global, sekaligus menegaskan bahwa turnamen ini bukan hanya panggung prestasi, tetapi juga instrumen penggalangan dukungan. Dengan absennya kandidat penantang hingga batas waktu pendaftaran, posisi Infantino masih kokoh meski legitimasinya terus dipertanyakan. Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan prestasi dan posisi strategis di sepak bola Asia Tenggara tetap terjaga, terlepas dari siapa yang akhirnya memimpin FIFA.

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Sumber Berita: VIVA, Goal.com, Bola.com, detikSport, AFP