Magrib di Sabang: Gempa 5,6 SR Guncang Aceh Saat Azan Berkumandang, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Magrib di Sabang: Gempa 5,6 SR Guncang Aceh Saat Azan Berkumandang, Warga Berhamburan Keluar Rumah

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Waktu magrib yang biasanya menjadi momen khusyuk bagi umat Muslim untuk menunaikan sholat berjamaah berubah menjadi kepanikan di Pulau Sabang, Aceh. Gempa bumi berkekuatan 5,6 Skala Richter mengguncang wilayah paling barat Indonesia itu tepat ketika azan magrib berkumandang dari masjid dan meunasah pada Selasa, 17 Januari 2017, pukul 18.48.26 WIB.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Aceh mencatat pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, berlokasi sekitar 234 kilometer barat laut Sabang. Meski berpusat di laut, guncangan terasa kuat di daratan Sabang dan sekitarnya sehingga warga yang sedang bersiap menunaikan ibadah magrib berhamburan keluar rumah demi menghindari risiko bangunan ambruk.

Panik di Tengah Kumandang Azan

Salah seorang warga Cot Ba U, Sukajaya, Sabang, mengaku guncangan yang dirasakan cukup kuat. Ia bersama warga lain memilih keluar rumah karena khawatir bangunan yang mereka tempati roboh akibat getaran yang datang tiba-tiba.

“Kuat juga guncangannya dan kami keluar rumah takut bangunan roboh,” ujar warga tersebut, menggambarkan suasana malam itu yang berubah dari tenang menjadi mencekam.

Kepala Stasiun BMKG Kota Sabang, Siswanto, memastikan kekuatan gempa berada di bawah 6,5 SR sehingga tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

“Kekuatan gempa di bawah 6,5 SR dan tidak berpotensi tsunami. Kami mengimbau warga untuk berhati-hati dan tidak panik,” kata Siswanto.

Magrib dan Kerentanan Waktu Beribadah

Peristiwa di Sabang menjadi pengingat bahwa bencana alam dapat datang kapan saja, termasuk pada waktu magrib yang bagi umat Muslim merupakan salah satu dari lima waktu sholat fardu yang wajib ditunaikan. Waktu magrib dimulai ketika matahari terbenam hingga hilangnya cahaya merah di ufuk barat, dan pada saat itulah azan berkumandang menandai masuknya waktu sholat.

Di berbagai daerah, jadwal magrib ditetapkan berdasarkan perhitungan astronomi dan posisi geografis masing-masing wilayah. Kementerian Agama RI secara rutin merilis jadwal sholat harian untuk seluruh kabupaten dan kota, termasuk Kota Palembang dan Surabaya, sebagai panduan umat Muslim agar dapat menunaikan ibadah tepat waktu.

Dalam ketentuan fikih, waktu sholat fardu diawali terbitnya fajar sidiq untuk Subuh, lalu Zuhur ketika matahari tergelincir ke barat, Asar hingga matahari terbenam, Magrib saat matahari terbenam, dan Isya pada malam hari. Membaca niat menjadi salah satu rukun salat yang wajib dipenuhi, baik dilafalkan dalam hati maupun diucapkan secara lisan.

Berikut bacaan niat sholat Magrib yang biasa dilafalkan umat Muslim:

  • Arab: أُصَلِّى فَرْضَ الْمَغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلّٰهِ تَعَالَى
  • Latin: Usholli fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala.
  • Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu Magrib tiga rakaat, menghadap kiblat, saat ini karena Allah Ta’ala.”

Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa

Wilayah Aceh dan sekitarnya memang berada di kawasan rawan gempa karena posisinya yang berdekatan dengan pertemuan lempeng tektonik. Karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG serta memahami langkah-langkah evakuasi dasar ketika guncangan terjadi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan saat gempa mengguncang, antara lain:

  • Segera keluar rumah menuju tempat terbuka yang jauh dari bangunan tinggi dan tiang listrik.
  • Jika tidak sempat keluar, berlindung di bawah meja kokoh dan lindungi kepala dengan benda empuk.
  • Jauhi kaca, lemari, dan benda gantung yang berpotensi jatuh.
  • Setelah guncangan berhenti, periksa kondisi sekitar dan hindari bangunan yang retak atau rusak.
  • Pantau informasi resmi mengenai potensi gempa susulan dan status peringatan dini.

Di sisi lain, peristiwa serupa pernah terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara, di mana aparat kepolisian menerima informasi sebuah insiden pada waktu magrib. Kasat Reskrim Polrestabes Medan menyatakan pihaknya langsung melakukan penyelidikan di lokasi kejadian dan membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Kejadian itu menjadi pengingat bahwa waktu magrib kerap menjadi latar berbagai peristiwa penting, baik bencana maupun peristiwa sosial di tengah masyarakat.

Refleksi dan Imbauan

Gempa 5,6 SR yang mengguncang Sabang saat azan magrib berkumandang menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Meski tidak berpotensi tsunami, guncangan tersebut cukup membuat warga panik dan meninggalkan rumah saat sedang bersiap menunaikan ibadah.

Umat Muslim di berbagai daerah, dari Sabang hingga Palembang dan Surabaya, diingatkan untuk tetap memperhatikan jadwal sholat fardu lima waktu, termasuk magrib, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di lingkungan masing-masing. Kewaspadaan, ketenangan, dan koordinasi dengan pihak berwenang menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi darurat seperti gempa bumi.

Dengan memantau informasi resmi BMKG dan mengikuti imbauan pemerintah daerah, masyarakat diharapkan dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan tenang tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Peristiwa di Sabang menjadi cermin bahwa alam dapat berbicara kapan saja, termasuk di waktu magrib yang sakral bagi umat Muslim.

Sumber Berita: Antara Sumbar, Bimas Islam Kemenag RI, Palpres.com, detikSumut.

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda