Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Jakarta – Bank sentral China kembali mengejutkan pasar global. People’s Bank of China (PBOC) dilaporkan menambah kepemilikan cadangan emas pada September 2026, memperpanjang aksi pembelian logam mulia tersebut menjadi 23 bulan berturut-turut. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Beijing tengah serius mendiversifikasi cadangan devisanya di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Data terbaru menunjukkan cadangan emas PBOC naik menjadi 77,47 juta troy ounce pada September, dari sebelumnya 76,73 juta troy ounce pada bulan Agustus. Penambahan ini memang terbilang moderat, namun konsistensinya selama hampir dua tahun menunjukkan strategi jangka panjang yang matang, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap fluktuasi pasar.
Cadangan Devisa China Justru Menyusut
Menariknya, di saat cadangan emas terus bertambah, cadangan devisa China yang merupakan terbesar di dunia justru mengalami penurunan. PBOC mencatat cadangan devisa turun menjadi US$3,400 triliun pada akhir September 2026, dari US$3,438 triliun pada bulan sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang sebelumnya memproyeksikan cadangan devisa China berada di level US$3,420 triliun.
Penurunan tersebut tidak terlepas dari kembali menguatnya dolar Amerika Serikat sepanjang September. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 2,06 persen pada bulan itu. Sementara itu, yuan China justru menguat tipis 0,22 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama. Perubahan nilai tukar serta pergerakan harga aset lain yang menjadi bagian dari cadangan devisa turut memengaruhi nilai cadangan devisa yang dilaporkan.
Diversifikasi sebagai Strategi Utama
Langkah China menambah cadangan emas secara konsisten mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah perubahan kondisi mata uang global dan pasar keuangan. Emas dipandang sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai di tengah gejolak pasar, sekaligus mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai mata uang cadangan utama.
Strategi serupa juga terlihat di berbagai belahan dunia. Bank-bank sentral global semakin gencar mengakumulasi emas sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter. Permintaan bank sentral disebut-sebut akan menjadi penopang utama harga emas jika terjadi koreksi pasar yang lebih dalam.
Ramalan Harga Emas dari Lembaga Dunia
Harga emas sendiri masih bergerak sangat labil, mengikuti pergerakan harga minyak serta proyeksi arah suku bunga The Federal Reserve. Pada awal Oktober 2026, harga emas tercatat menguat tipis 0,06 persen ke US$4.144,83 per troy ons, setelah sebelumnya jatuh 0,85 persen dan ambruk 3,4 persen sepanjang pekan sebelumnya.
Sejumlah bank besar mulai menurunkan proyeksi harga emas, meski pandangan jangka panjang terhadap logam mulia ini masih positif. HSBC menjadi bank terbaru yang memangkas proyeksinya, menurunkan rata-rata harga emas 2026 menjadi US$4.490 per troy ounce dari sebelumnya US$4.560. Proyeksi 2027 juga dipangkas menjadi US$4.825 dari US$4.925. Meski demikian, HSBC memperkirakan permintaan bank sentral akan menjadi penopang jika harga emas turun mendekati atau di bawah US$4.000 per troy ounce.
Tekanan terhadap harga emas datang dari berbagai arah. Harga minyak yang tinggi dapat kembali memicu inflasi, kenaikan imbal hasil obligasi membuat aset berbunga lebih menarik, sementara dolar AS yang menguat membuat emas semakin mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Peran Cadangan Devisa dalam Stabilitas Ekonomi
Cadangan devisa menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sebuah negara. Sederhananya, cadangan devisa dapat dianalogikan sebagai tabungan negara yang digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan transaksi internasional, seperti membayar utang luar negeri, membiayai impor, dan mendukung kebutuhan transaksi global lainnya.
Di Indonesia, pengelolaan cadangan devisa menjadi tugas Bank Indonesia. Komponen cadangan devisa meliputi emas moneter, Special Drawing Rights (SDR), posisi cadangan di IMF, serta valuta asing seperti deposito, surat berharga, derivatif, dan tagihan. Ketersediaan devisa yang memadai membantu memperkuat ketahanan sektor eksternal dan memberikan ruang bagi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Sementara itu, di Malaysia, Kementerian Kewangan tengah menyemak cadangan penambahbaikan layanan Cukai Jualan dan Perkhidmatan (SST) ke atas perkhidmatan jagaan warga emas. Langkah ini mempertimbangkan jenis dan ciri perkhidmatan yang disediakan, termasuk perkhidmatan jagaan asas serta perkhidmatan bersifat premium, agar layanan cukai dapat dilaksanakan secara lebih bersasar.
Dinamika Pasar Energi Global
Di sisi lain, pasar minyak dunia juga menunjukkan pergerakan signifikan. Harga minyak mentah turun menyusul kebijakan pelepasan 100 juta barel stok cadangan darurat oleh negara-negara G7. Harga minyak mentah Brent berjangka turun 35 sen atau 0,34 persen menjadi US$101,90 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$90,49 per barel setelah turun 62 sen atau 0,68 persen.
Keputusan G7 tersebut dinilai berhasil mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan dalam jangka pendek. Mulai muncul pandangan kuat bahwa volume ekspor Arab Saudi berangsur pulih ke level sebelum perang, meskipun pengiriman minyak masih memakan biaya lebih tinggi melalui rute yang kurang efisien.
Secara keseluruhan, langkah China menambah cadangan emas selama 23 bulan berturut-turut menjadi cerminan strategi jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian global. Di tengah tekanan terhadap harga emas akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi, permintaan bank sentral tetap menjadi faktor penopang utama. Diversifikasi cadangan devisa melalui emas menjadi pilihan rasional bagi negara-negara yang ingin memperkuat ketahanan ekonomi mereka di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus berubah.
Sumber Berita: Liputan6, Utusan Malaysia, IDN Times, CNN Indonesia, CNBC Indonesia
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






