Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Pemerintahan militer Burkina Faso di bawah Kapitän Ibrahim Traoré terus mempercepat agenda kedaulatan nasional di berbagai sektor. Dalam sepekan terakhir, serangkaian kebijakan strategis diumumkan, mulai dari perombakan kurikulum pendidikan, pembentukan kompetisi sepak bola baru, hingga dorongan swasembada pangan yang semakin nyata di lapangan. Langkah-langkah ini menegaskan tekad Ouagadougou untuk melepaskan diri dari warisan kolonial dan ketergantungan terhadap pihak luar.
Dekolonisasi Buku Pelajaran Sekolah
Pemerintah transisi militer mengumumkan rencana besar untuk merombak program sekolah yang dinilai masih kental dengan warisan kolonial. Menteri Pendidikan Menengah, Moumouni Zoungrana, menyatakan bahwa kurikulum saat ini dianggap sebagai kanal yang justru mendorong generasi muda ke jurang keterpurukan. Menurutnya, kata-kata yang dianggap merendahkan dan menganggap masyarakat seperti anak-anak atau hewan harus dihapus, lalu digantikan dengan bab-bab yang mempromosikan nilai-nilai lokal.
Mata pelajaran yang akan menjadi sasaran utama meliputi sejarah, geografi, dan pendidikan kewarganegaraan. Pemerintah ingin agar referensi nasional dan Afrika lebih ditonjolkan dalam buku-buku pelajaran. Langkah ini mendapat apresiasi dari pakar politik asal Togo, Paul Amegakpo, yang menilai dekolonisasi pengetahuan merupakan bagian dari rekonstruksi mental kolektif. Ia mencontohkan bagaimana perjanjian antara seorang kepala desa dengan penjajah Jerman di Togo dulu dianggap sebagai perjanjian protektorat yang melegitimasi penjajahan seluruh wilayah, padahal desa tersebut tidak memiliki kapasitas untuk membuat perjanjian sebesar itu. Menurut Amegakpo, kebenaran sejarah semacam ini harus diluruskan dengan melibatkan para intelektual dan tokoh masyarakat Burkina Faso serta Afrika.
Liga Kedaulatan dan Intervensi Federasi Sepak Bola
Di dunia olahraga, pemerintah mengumumkan pembentukan kompetisi baru bernama Liga Kedaulatan. Keputusan ini diambil dalam rapat kabinet pada Kamis, 8 Oktober 2026. Menteri Olahraga, Annick Lydie Djouma Pikbougoum, menjelaskan bahwa liga ini merupakan bagian dari Inisiatif Presiden untuk Regenerasi dan Promosi Elit Olahraga. Tujuannya adalah mendekatkan kompetisi tingkat tinggi ke berbagai wilayah sportif dan mendorong pemerataan kesempatan bagi talenta lokal.
Meski demikian, perhatian publik juga tersedot pada pernyataan Presiden Traoré terkait kekalahan telak timnas Burkina Faso 0-7 dari Argentina dalam laga uji coba. Ia menyebut sepak bola negaranya sedang sakit dan berjanji akan mencari obatnya. Traoré bahkan mengisyaratkan kemungkinan intervensi langsung pemerintah terhadap Federasi Sepak Bola Burkina Faso (FBF), meskipun ia menyadari risiko sanksi dari FIFA. Pasal 14 statuta FIFA mewajibkan federasi mengelola urusannya secara independen, dan pelanggaran dapat berujung pada suspensi hingga pengeluaran dari organisasi sepak bola dunia tersebut. Presiden menegaskan bahwa intervensi, jika dilakukan, semata-mata untuk penataan yang lebih baik.
Prestasi Tim Putri dan Langkah di Kancah Olimpiade
Di tengah sorotan terhadap tim putra, tim sepak bola putri Burkina Faso justru menorehkan hasil positif. Pada babak kedua kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028 zona Afrika, tim putri Burkina Faso berhasil mengalahkan Guinea Ekuatorial dengan skor 3-1 di Ouagadougou. Kemenangan ini menjadi modal penting sebelum laga leg kedua. Sementara itu, hasil serupa juga diraih Senegal yang menang tipis 1-0 atas Tunisia, dan Ghana yang menghancurkan Mauritius 3-0. Mali harus menelan kekalahan 1-3 dari Benin.
Pertanian Nanas dan Swasembada Pangan
Di sektor ekonomi, upaya mengurangi ketergantungan impor menunjukkan hasil nyata. Seorang petani di Bobo-Dioulasso, Oumarou Compaoré, berhasil membuktikan bahwa nanas dapat tumbuh subur di tanah Sahel yang kering dan berbatu. Berawal dari penutupan perbatasan selama pandemi COVID-19, ia mulai menanam nanas dan kini lahannya telah berkembang menjadi sekitar 50 hektare. Pemerintah militer memasukkan budidaya nanas ke dalam rencana pembangunan formal untuk mendorong kemandirian pangan bagi 24 juta penduduk.
Langkah pemerintah juga terlihat dari penangguhan impor beras pada April tahun ini, peresmian dua pabrik pasta tomat pada 2024, serta hadirnya rak khusus produk lokal di supermarket ibu kota dengan slogan Konsumirlah Apa yang Kita Produksi. Hingga November 2025, area perkebunan nanas di wilayah administratif tersebut telah meluas hingga sekitar 100 hektare, dan lebih dari 100 petani dilaporkan ikut menanam komoditas ini.
Dari ruang kelas hingga lapangan bola dan lahan pertanian, Burkina Faso di bawah kepemimpinan militer tampaknya serius membangun fondasi kedaulatan yang lebih kokoh. Reformasi kurikulum, pembentukan liga sepak bola baru, serta dorongan swasembada pangan adalah tiga pilar yang saling menguatkan. Tantangan tetap ada, terutama risiko sanksi FIFA dan perdebatan soal kebenaran sejarah. Namun, arah kebijakan ini menunjukkan bahwa Ouagadougou tidak lagi ingin bergantung pada pihak luar, melainkan berusaha menentukan nasibnya sendiri berdasarkan realitas dan potensi yang dimilikinya.
Sumber Berita: DW, RMC Sport, Afrique Sports, Burkina24, AP, dan media lokal Burkina Faso.
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






