Kolombia vs Peru: Kekalahan 2-0 yang Membuka Luka Lama Seleccion Peru

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Kolombia vs Peru: Kekalahan 2-0 yang Membuka Luka Lama Seleccion Peru

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Seleccion Peru menutup gira Amerika Utara dengan catatan yang jauh dari kata menggembirakan. Satu hasil imbang dan tiga kekalahan menjadi rapor akhir perjalanan tim asuhan Mano Menezes, dan puncaknya adalah kekalahan 2-0 dari Kolombia di Nu Stadium, Miami, pada laga amistoso FIFA, Selasa (6/10/2026) waktu setempat. Hasil itu bukan sekadar angka di papan skor, melainkan cermin persoalan yang lebih dalam di tubuh tim nasional Peru.

Jalannya Pertandingan

Laga berjalan relatif seimbang di awal. Peru tampil menekan lebih dulu dan berusaha menguasai bola di lini tengah, sementara Kolombia perlahan menemukan ritme permainan. Kedua tim bergantian menciptakan peluang, tetapi penyelesaian akhir yang buruk membuat babak pertama berakhir tanpa gol.

Perubahan terjadi di babak kedua. Kolombia tampil lebih agresif dan membuka keunggulan pada menit ke-57 melalui tendangan keras Samuel Velasquez yang tidak mampu diantisipasi kiper Pedro Gallese. Petaka bagi Peru datang delapan menit kemudian ketika Miguel Araujo, yang baru masuk dua menit sebelumnya, menerima kartu merah setelah melakukan pelanggaran untuk menghentikan serangan lawan. Bermain dengan sepuluh orang, Peru semakin tertekan. Pada menit 90+2, Daniel Arcila menutup laga dengan gol kedua Kolombia, memastikan kemenangan 2-0 bagi tim tamu.

Kritik Pedas dari Dalam Negeri

Kekalahan ini memicu gelombang kritik, terutama dari kalangan pengamat sepak bola Peru. Jurnalis deportivo Giancarlo Granda menjadi salah satu suara paling lantang. Ia menilai hasil buruk ini tidak bisa lagi ditutupi dengan alasan klasik seperti keterbatasan pemain atau status laga amistoso.

“Alasan bisa ada ribuan,” ujarnya dalam program Radio Nacional. Granda secara khusus menyoroti aksi Miguel Araujo yang dinilainya bertanggung jawab atas kartu merah. “Bukan salah Mano Menezes kalau Araujo masuk, kehilangan bola, melakukan pelanggaran, dan diusir,” tegasnya.

Granda juga mengkritik penampilan Andre Carrillo yang dinilai tampil tanpa greget. “Saya tidak mendukung Corinthians. Kalau Carrillo bermain bagus di sana, saya angkat topi. Tapi saya ingin dia tampil di tim nasional. Carrillo masuk dengan parsimoni yang mengkhawatirkan, tidak memahami panasnya pertandingan,” katanya.

Selain Carrillo, nama Oliver Sonne dan Jhonny Vidales juga masuk radar kritik. Menurut Granda, pemain yang tidak tampil maksimal di tim nasional seharusnya tidak mendapat tempat, terlepas dari performa mereka di klub masing-masing. “Ada pemain yang sudah kami uji dan tidak memenuhi standar. Saya tidak suka penampilan Jhonny Vidales di tim nasional,” tuturnya.

Pujian dan Catatan dari Kubu Kolombia

Di sisi lain, pelatih Kolombia Néstor Lorenzo memberikan analisis yang lebih tenang namun tetap kritis terhadap Peru. Ia mengaku sempat berbicara dengan Mano Menezes setelah laga dan menilai Peru tampil sebagai tim yang terorganisir.

“Saya berbicara dengan pelatihnya, Mano Menezes. Saya pikir dia menata tim dengan baik. Kami juga melihatnya di pertandingan sebelumnya. Itu tim yang terorganisir dan memberikan segalanya,” kata Lorenzo.

Namun, Lorenzo menyoroti persoalan regenerasi yang dihadapi Peru. “Saya pikir mereka punya sedikit regenerasi. Mereka masih harus membangun di atas basis pemain yang sudah bertahun-tahun bersama, pemain berpengalaman dan bagus, tetapi regenerasi harus datang dari bawah,” ujarnya.

Lorenzo menekankan pentingnya pembinaan usia muda sebagai fondasi masa depan. Menurutnya, tanpa proses pembinaan yang serius di level U-15, U-17, dan U-20, sebuah tim nasional akan kesulitan bersaing secara berkelanjutan. Ia mencontohkan pengalaman Kolombia yang mulai membangun fondasi tersebut sejak lama.

Momen Emosional di Kubu Kolombia

Di tengah kekecewaan Peru, ada kisah haru dari kubu Kolombia. Juan Manuel Rengifo, gelandang Atletico Nacional, menjalani debutnya bersama tim nasional senior pada laga ini. Masuk di babak kedua, ia langsung memberikan kontribusi nyata dan terlibat dalam terciptanya gol.

Setelah peluit akhir, kamera menangkap Rengifo menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangis. Daniel Munoz dan Luis Suarez menghampirinya untuk memberikan pelukan dan ucapan selamat. Momen itu dengan cepat menjadi viral di media sosial.

Yang membuat kisahnya semakin istimewa, tepat satu tahun sebelumnya, pada 6 Oktober 2025, Rengifo menjalani laga pertamanya sebagai starter bersama Atletico Nacional. Dua belas bulan kemudian, ia mengenakan jersey tim nasional senior Kolombia untuk pertama kalinya.

Panggilan untuk Renovasi

Analis Kolombia Carlos Antonio Velez menyoroti pentingnya pemanfaatan pemain muda. Menurutnya, Kolombia memiliki cukup banyak individu berbakat untuk memulai era baru, meski ia tetap mengkritik permainan kolektif tim di bawah asuhan Lorenzo.

“Kami harus menerima bahwa kami tidak punya apa-apa sebagai tim. Kami punya banyak individu, dan itu yang menyelamatkan kami,” ujarnya. Velez menyebut nama Yaser Asprilla, Samuel Velasquez, Daniel Arcila, dan Juan Manuel Rengifo sebagai pemain yang layak mendapat panggung lebih besar di tim nasional Kolombia.

Kesimpulan

Kekalahan 2-0 dari Kolombia menjadi pukulan telak bagi Peru, bukan hanya karena hasilnya, tetapi karena mengungkap persoalan struktural yang selama ini terpendam: minimnya regenerasi, ketergantungan pada pemain senior, dan inkonsistensi performa individu. Kritik dari dalam negeri menegaskan bahwa publik Peru mulai kehilangan kesabaran. Sementara itu, Kolombia menunjukkan bahwa peralihan generasi yang terencana dapat berjalan beriringan dengan hasil positif. Bagi Peru, laga di Miami ini seharusnya menjadi titik balik untuk merombak fondasi pembinaan, bukan sekadar catatan buruk dalam statistik pertandingan.

Sumber Berita: Infobae Peru, Bolavip Peru, Publimetro Colombia, Win Sports.

Penulis: Joaquin Parra. Editor: Redaksi Olahraga.