Gayatri Putri News – 05 Oktober 2026 | Luka Modric tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Gelandang berusia 41 tahun itu menyaksikan langsung bagaimana Timnas Kroasia dihancurkan Inggris dengan skor telak 0-7 dalam lanjutan UEFA Nations League di Stadion HNK Rijeka, Sabtu malam WIB. Kekalahan tersebut tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah sepak bola Kroasia sejak negara itu merdeka pada 1991, melampaui kekalahan 0-6 dari Spanyol pada 2018.
Pesta Gol Inggris di Kandang Kroasia
Inggris tampil dominan sejak menit pertama. Lini serang Three Lions menunjukkan ketajaman luar biasa yang membuat tuan rumah tidak berdaya sepanjang pertandingan. Harry Kane dan Bukayo Saka masing-masing mencetak dua gol, sementara Jude Bellingham menyumbangkan satu gol sekaligus tiga assist. Anthony Gordon dan Morgan Rogers melengkapi pesta gol Inggris di babak kedua.
Pada babak pertama, Inggris sudah unggul 4-0 melalui gol Kane, Bellingham, Gordon, dan Saka. Setelah jeda, Kane, Saka, dan Rogers menambah tiga gol lagi untuk memastikan kemenangan bersejarah tersebut. Kroasia benar-benar tidak memiliki jawaban atas agresivitas dan efektivitas serangan pasukan Thomas Tuchel.
Modric: Saya Merasa Malu
Modric, yang merupakan pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Kroasia, mengaku tidak bisa menemukan penjelasan atas penampilan timnya. Ia menilai kekalahan tersebut bukan semata-mata karena Inggris tampil lebih baik, melainkan akibat buruknya sikap dan permainan Kroasia di lapangan.
“Sangat sulit menemukan penjelasan untuk penampilan seperti ini tanpa duel, tanpa pelanggaran, tanpa agresivitas, tanpa kebersamaan,” kata Modric kepada Jutarnji.
“Saya sudah berada di sini selama 20 tahun, tetapi untuk pertama kalinya saya merasa malu setelah sebuah pertandingan.”
Gelandang yang kini memperkuat AC Milan itu mengakui Inggris memang berada dalam level yang lebih baik saat ini. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak bisa menjadi alasan bagi Kroasia untuk menyerah tanpa perlawanan.
“Boleh saja kalah, atau bermain menghadapi lawan yang lebih baik, dan saat ini mereka memang lebih baik. Tetapi, bagaimanapun juga, kalah dengan cara seperti ini dan menyia-nyiakan reputasi yang sudah kami bangun selama bertahun-tahun adalah sesuatu yang tidak dapat diterima,” ujarnya.
“Kalian tidak bisa bermain sepak bola seperti itu. Kalian tidak bisa bermain seolah-olah kehilangan dua pemain. Kami bahkan terlihat seperti bermain dengan empat atau lima pemain lebih sedikit. Ini adalah malam yang benar-benar katastrofik.”
Tuchel Sebut Penampilan Lengkap
Di kubu seberang, Thomas Tuchel tidak bisa menyembunyikan kepuasannya. Pelatih asal Jerman itu menilai kemenangan telak tersebut sebagai bukti bahwa timnya mampu bangkit dari kekecewaan dan tampil lebih matang.
“Inilah satu-satunya cara untuk terus maju meskipun Anda masih merasakan sakit,” kata Tuchel, dikutip dari ESPN.
“Anda harus bermain sambil menahan rasa sakit jika Anda masih merasakan kekecewaan, Anda harus bermain sambil menahannya. Itulah sifat alami olahraga.”
Tuchel juga memuji konsistensi anak asuhnya selama 90 menit, meski bermain di kandang lawan.
“Itu adalah penampilan 90 menit di level tertinggi dari semua orang. Dari menit pertama hingga menit terakhir, semua yang bermain sebagai starter dan semua yang masuk dari bangku cadangan,” ujarnya kepada AFP.
“Di kandang lawan, sangat, sangat mengesankan. Kami menciptakan begitu banyak peluang. 40 menit pertama kami sangat lancar sejak awal. Kami menjaga tempo permainan dan memanfaatkan celah. Kami sangat klinis. Tetap bersemangat dalam melakukan pressing balik dan bertahan, jadi kami melakukan hal-hal mendasar dengan benar.”
“Saya menyukai sikap mereka. Kami selalu bermain rendah hati dan selalu melakukan hal-hal mendasar dengan benar, dan itulah mengapa ini merupakan penampilan yang lengkap.”
Kane: Pesan Keras untuk Seluruh Eropa
Kemenangan atas Kroasia membuat Harry Kane semakin yakin bahwa performa seperti ini harus menjadi standar baru bagi Timnas Inggris. Kapten Three Lions itu menilai timnya harus mempertahankan mentalitas menyerang tanpa mengenal situasi pertandingan.
“Meski kami sudah unggul 1-0, kami mengejar gol kedua, ketiga, dan keempat. Itulah yang harus menjadi mentalitas kami,” ujar Kane.
Hasil ini juga menjadi sinyal tegas bagi para rival Inggris di Eropa bahwa pasukan Tuchel siap bersaing di level tertinggi. Inggris memang tidak mengawali jeda internasional dengan hasil sempurna setelah kalah 3-2 dari Spanyol, namun mereka bangkit dengan mengalahkan Republik Ceko 2-0 sebelum membantai Kroasia.
Ujian Berat Menanti Kroasia
Kroasia tidak memiliki banyak waktu untuk meratapi kekalahan tersebut. Mereka akan kembali bertanding menghadapi Spanyol di Split, Selasa mendatang. Pertandingan tersebut menjadi ujian berat lainnya karena Spanyol tengah sempurna di Nations League. Sang juara dunia belum kehilangan poin dan sebelumnya sudah mengalahkan Kroasia 4-1 pada pertemuan pertama.
Bagi Kroasia, laga melawan Spanyol akan menjadi pembuktian apakah mereka mampu bangkit dari keterpurukan terburuk dalam sejarah, atau justru semakin tenggelam dalam krisis. Sementara bagi Inggris, kemenangan 7-0 ini menjadi modal berharga untuk melanjutkan momentum positif di kompetisi bergengsi Eropa tersebut.
Kekalahan telak ini menjadi pukulan telak bagi Kroasia yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa. Modric menilai timnya kehilangan hampir seluruh karakter yang selama ini menjadi identitas mereka. Kini, tugas berat menanti untuk membangun kembali kepercayaan diri dan reputasi yang sempat hancur di Rijeka.
Sumber Berita: JawaPos.com, Bola.com, VIVA, dan Jutarnji.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






