Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Langit malam Kolkata seakan ikut menahan napas. Baru saja pertandingan bergulir, sambaran petir memaksa wasit menghentikan laga di Salt Lake Stadium, Selasa (6/10/2026). Ketika permainan kembali dilanjutkan, papan skor akhirnya menampilkan angka yang pahit bagi tuan rumah: India 1, Uruguay 6.
Kekalahan itu menjadi penutup rangkaian laga internasional terbesar yang pernah digelar India di kandang sendiri. Dalam satu jendela FIFA, tiga peserta Piala Dunia 2026 datang bertandang: Panama, Brasil, dan Uruguay. Dua tim terakhir bahkan bermain di Kolkata hanya berselang tiga hari, sebuah momen langka bagi kota yang terakhir kali kedatangan nama besar dunia pada 2011 silam ketika Argentina yang diperkuat Lionel Messi berkunjung.
Namun di balik skor telak, ada cerita yang membuat pelatih kepala Uruguay, Diego Forlan, angkat topi. Legenda sepak bola Uruguay itu mengakui bahwa pressing tanpa henti yang diterapkan skuad asuhan Khalid Jamil sempat membuat timnya keluar dari zona nyaman.
“Mereka punya pemain-pemain yang benar-benar bagus,” ujar Forlan dalam sesi konferensi pers usai laga, seraya menyebut agresivitas India di babak pertama sebagai kejutan tersendiri bagi La Celeste.
Thapa Cetak Sejarah, Momentum Hilang karena Cuaca
Uruguay membuka keunggulan pada menit ke-11 lewat penalti Darwin Nunez setelah Pramveer Singh dinilai menjatuhkan Federico Vinas di kotak terlarang. Penalti itu sempat menuai protes karena dianggap sebagai tekel bersih, tetapi wasit tetap menunjuk titik putih.
India tidak tinggal diam. Pada menit ke-22, Anirudh Thapa menyambar bola rebound hasil tepisan kiper Thiago Cardozo atas sepakan Ryan Williams. Gol itu tercatat sebagai momen bersejarah: Thapa menjadi pemain India kedua yang mencetak gol ke gawang Uruguay di level senior, mengikuti jejak Manas Bhattacharya pada laga Nehru Cup 1982 di Eden Gardens.
Sayangnya, momentum itu buyar. Petir menghentikan pertandingan sekitar menit ke-34, dan setelah jeda cuaca selama kurang lebih 20 menit, Uruguay kembali menguasai jalannya laga. Maximiliano Araujo membawa La Celeste unggul lagi pada menit ke-28, lalu Rodrigo Zalazar (53′), Araujo lagi (59′), Juan Manuel Sanabria (71′), dan Rodrigo Aguirre (86′) melengkapi pesta gol tim tamu.
Jamil Tanggung Jawab Penuh
Pelatih kepala India, Khalid Jamil, menolak mencari alasan. Ia mengambil tanggung jawab penuh atas kekalahan tersebut dan menyoroti dua masalah utama: kebugaran serta konsentrasi pemain.
- Fitness: Jamil menilai kondisi fisik pemain menurun drastis di babak kedua sehingga sulit menahan intensitas serangan Uruguay.
- Konsentrasi: Ia menyebut hilangnya fokus kolektif sebagai penyebab utama lima gol yang bersarang setelah jeda.
- Evaluasi menyeluruh: Jamil mengaku butuh waktu meninjau dua laga terakhir sebelum merumuskan perbaikan.
“Saya sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Kita tidak boleh mencari alasan. Saya tidak menyalahkan siapa pun, tetapi saya membuat banyak kesalahan. Kita harus segera memperbaikinya,” tegas Jamil.
Kekalahan ini melengkapi catatan sulit India sepanjang jendela internasional: imbang 1-1 melawan Panama, kalah 0-4 dari Brasil, dan tumbang 1-6 dari Uruguay. Total, India mencetak dua gol dan kebobolan 11 kali menghadapi tiga tim yang tampil di Piala Dunia 2026.
Pujian untuk Perjuangan India
Presiden Federasi Sepak Bola India (AIFF), Kalyan Chaubey, memilih melihat sisi positif. Ia memuji awal permainan India, kepercayaan diri, dan etos kerja para pemain. Menurutnya, jeda hujan tepat setelah gol penyama kedudukan merusak momentum tuan rumah.
“Tanpa jeda 20 menit itu, hasilnya mungkin berbeda. Mereka bermain melawan pemain dari klub-klub top dunia, dan semakin sering menghadapi laga seperti ini, mereka akan semakin berkembang,” kata Chaubey.
Senada dengan itu, Menteri Benggala Barat, Indranil Khan, menyebut laga ini sebagai tonggak sejarah bagi sepak bola India. Ia menilai pengalaman menghadapi Brasil dan Uruguay merupakan eksposur berharga, meski ia juga melontarkan kritik terhadap politisasi sepak bola di wilayah tersebut.
Stadion Sepi dan Insiden Tak Terduga
Ironisnya, laga sebesar ini tidak dihadiri penonton dalam jumlah besar. Meski East Bengal Club mengumumkan tiket gratis dan AIFF bersama pemerintah Benggala Barat berupaya mendorong kehadiran suporter, ribuan kursi di Salt Lake Stadium terlihat kosong.
Di tengah rendahnya jumlah penonton, sebuah video viral memperlihatkan seekor monyet masuk ke area tribun dan melompat ke arah seorang suporter, tampak menggigit bagian lehernya sebelum kabur. Insiden itu menambah daftar kejadian tak terduga di malam yang sudah penuh drama.
Bagi Kolkata, yang dikenal sebagai salah satu pusat sepak bola India dengan basis suporter melebihi kriket, pemandangan tribun kosong menjadi tamparan tersendiri. Namun bagi skuad India, laga ini tetap menyisakan pelajaran berharga: keberanian melawan raksasa dunia harus dibarengi kebugaran, konsentrasi, dan konsistensi selama 90 menit penuh.
Gol Thapa akan bertahan sebagai momen kebanggaan India malam itu, sekaligus pengingat bahwa jarak antara kejutan dan kekalahan telak di level ini bisa sangat tipis.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






