Gayatri Putri News – 04 Oktober 2026 | University College London (UCL) kembali menjadi sorotan dunia berkat berbagai terobosan dan warisan sejarahnya. Dalam ajang EURETINA 2026 yang digelar di Wina, Austria, para peneliti mengumumkan perkembangan proyek ambisius bernama Global RETFound, sebuah model fondasi medis yang bertujuan menciptakan representasi global dalam kecerdasan buatan (AI) untuk kesehatan mata. Proyek ini dipimpin oleh Paul Nderitu, seorang peneliti di UCL dan konsultan oftalmologi di Moorfields, yang menyebutnya sebagai upaya membangun “model fondasi medis pertama yang benar-benar global.”
Global RETFound telah berkembang pesat dengan menggandeng 108 mitra dari lebih dari 40 negara. Tiga perempat mitra telah berbagi model generatif yang dilatih pada kumpulan data lokal, yang digunakan untuk mensintesis gambar. Sementara itu, 27 situs lainnya telah menyumbangkan data nyata. Tim berencana menghasilkan sekitar 100 juta gambar fundus berwarna dan menggabungkannya dengan data nyata, yang diharapkan menjadi peningkatan 100 kali lipat dari model RETFound asli. Lebih dari 20 situs sedang menguji kasus penggunaan untuk memvalidasi model, mulai dari deteksi retinopati diabetik dan degenerasi makula hingga tugas okulomik dan deteksi retinopati prematuritas. Validasi dalam beberapa bulan mendatang menjadi prioritas utama, dan model ini ditargetkan dapat diakses terbuka untuk penelitian.
Nderitu menekankan bahwa pendekatan ini tidak hanya berlaku untuk retina, tetapi juga dapat diadopsi oleh peneliti di bidang lain seperti penyakit kulit. “Kami ingin melihat model fondasi global lainnya dibuat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa AI yang dilatih pada populasi dari beberapa negara saja akan merugikan populasi lain, dan AI dalam layanan kesehatan bisa menjadi cara baru meningkatkan ketidaksetaraan. Oleh karena itu, representasi dan inklusivitas dalam AI menjadi kunci untuk meningkatkan kesetaraan kesehatan. Tim juga berencana memperluas data ke luar mata, seperti neuroimaging, melalui proyek AlzEye yang dikembangkan oleh Siegfried Wagner. Meskipun telah bekerja sama dengan situs di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tengah, masih ada celah yang akan diisi melalui putaran kedua pada 2027.
Di sisi lain, UCL juga memiliki tempat istimewa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan India. Mahatma Gandhi terdaftar di UCL untuk studi hukum pada sesi 1888-89. Meskipun Gandhi juga terdaftar di Inner Temple, sebuah Inn of Court, UCL mengklaimnya sebagai alumni. Perbedaan ini muncul karena Inner Temple bukan lembaga pemberi gelar, melainkan tempat bagi mahasiswa hukum untuk menjadi anggota dan berpartisipasi dalam kegiatan. Gandhi memulai perjalanan ke London pada 4 September 1888 dengan kapal uap Clyde, merayakan ulang tahunnya yang ke-19 di laut, dan tiba di London pada akhir Oktober. Ia kemudian diterima di Inner Temple untuk menempuh pendidikan hukum, dan biaya keanggotaan seumur hidup saat itu sekitar 114 euro (sekitar Rp12.500). Sementara itu, biaya kuliah hukum di UCL saat ini untuk mahasiswa internasional mencapai lebih dari Rp1 miliar untuk program tiga tahun, dengan biaya per tahun sekitar 36.800 euro (sekitar Rp38 juta).
Warisan UCL dalam pendidikan juga terus berlanjut. Haru, seorang alumni yang lahir dan besar di Okinawa, Jepang, menceritakan pengalamannya belajar di Kanada dan Inggris. Setelah menyelesaikan pendidikan anak usia dini di Seneca Polytechnic, Kanada, ia melanjutkan studi MA Education di UCL. Baginya, pengalaman hidup di berbagai negara membuka wawasan tentang perbedaan sistem pendidikan dan filosofi, serta memicu minat pada isu imigran, pengungsi, kesepian, dan makna tempat untuk pulang. Ia berharap dapat menulis tentang Okinawa, pendidikan, dan konsep ‘tempat untuk pulang’ di masa depan.
UCL juga menjadi pusat perhatian dalam penelitian tentang lingkungan kerja. Sebuah survei terhadap 1.000 pekerja kantor di Inggris, yang didukung oleh Institute for Environmental Design and Engineering UCL, menemukan bahwa 65% responden mengatakan kebisingan secara langsung memengaruhi kemampuan mereka menyelesaikan pekerjaan dengan akurat dan tepat waktu. Panggilan telepon dari rekan kerja menjadi suara paling mengganggu, diikuti oleh percakapan pribadi di dekatnya. Penelitian menunjukkan bahwa efek suara yang tidak relevan, terutama percakapan, dapat menghambat memori kerja karena otak terus berusaha memecahkan kata-kata. Profesor Gloria Mark dari University of California, Irvine, menemukan bahwa dibutuhkan sekitar 23 menit untuk kembali fokus setelah satu gangguan. Dengan lima atau enam gangguan per hari, produktivitas bisa hilang hingga beberapa jam. Solusi seperti headphone peredam bising hanya efektif untuk suara frekuensi rendah yang konstan, bukan untuk percakapan manusia yang bervariasi. Desain ruang kerja dengan bahan penyerap suara dan sound masking yang disetel ke frekuensi bicara manusia dapat membantu mengurangi dampak ini.
Dari inovasi AI kesehatan hingga refleksi sejarah dan pendidikan, UCL terus memainkan peran penting dalam berbagai bidang. Proyek Global RETFound menunjukkan komitmen terhadap kesehatan global yang inklusif, sementara warisan Mahatma Gandhi mengingatkan akan akar sejarah yang mendalam. Kisah Haru menggarisbawahi pentingnya pendidikan lintas budaya, dan penelitian tentang kebisingan kantor menyoroti bagaimana lingkungan fisik memengaruhi kognisi. Semua ini menggambarkan UCL sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Sumber Berita: Ophthalmology Times, Dezeen, Bromsgrove Standard, TV9 Hindi, Note.com
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Tim Redaksi
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






