Gayatri Putri News – 12 Oktober 2026 | Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Penguatan ini terjadi seiring penurunan harga minyak mentah dan indeks dolar AS yang turut memengaruhi pergerakan mata uang di pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS melemah 0,09 persen ke level Rp17.883. Sementara itu, data pembukaan yang dilaporkan ANTARA mencatat rupiah menguat 5 poin atau 0,03 persen ke Rp17.894. Kedua laporan tersebut menggunakan acuan perdagangan pagi dengan angka yang sedikit berbeda, namun keduanya mencatat pelemahan dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.899.
Faktor Pendorong Penguatan Rupiah
Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengaitkan penguatan rupiah dengan turunnya harga minyak dan indeks dolar AS. Menurut laporan ANTARA, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,91 persen menjadi US$103,95 per barel, sedangkan indeks dolar AS terkoreksi ke 102,2.
Penurunan harga minyak mentah berdampak pada berkurangnya tekanan terhadap mata uang negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Sementara itu, pelemahan indeks dolar AS membuat mata uang emerging market seperti rupiah lebih menarik bagi investor.
Data Pergerakan Nilai Tukar
| Sumber Data | Nilai Tukar | Perubahan |
|---|---|---|
| Bloomberg | Rp17.883 | -0,09% |
| ANTARA | Rp17.894 | +0,03% (5 poin) |
| Penutupan Sebelumnya | Rp17.899 | – |
Meskipun demikian, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan kondisi ekonomi domestik. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan eksternal maupun internal yang dapat memengaruhi arah nilai tukar dalam jangka pendek.
Penguatan rupiah pada awal pekan ini menjadi sinyal positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, analis mengingatkan bahwa fluktuasi nilai tukar masih mungkin terjadi seiring dinamika pasar keuangan internasional.
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






