Rempugan, Tradisi Perempuan Kasepuhan Pasir Eurih Menjaga Warisan Pangan

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Rempugan, Tradisi Perempuan Kasepuhan Pasir Eurih Menjaga Warisan Pangan

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 12 Oktober 2026 | Pagi berkabut menyelimuti Kasepuhan Pasir Eurih, Kabupaten Lebak, Banten. Di sebuah saung tradisional, bunyi alu yang beradu dengan lesung terdengar bersahutan. Puluhan perempuan berkumpul, bekerja bersama menumbuk padi melalui tradisi Rempugan yang terus dipertahankan di tengah perubahan zaman.

Gerakan alu yang berulang bukan sekadar bagian dari proses mengolah hasil panen menjadi beras. Di balik pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan koordinasi tersebut, tersimpan pengetahuan pangan lokal, hubungan sosial antargenerasi, serta nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Kasepuhan.

Kasepuhan Pasir Eurih berada di kawasan pegunungan yang menjadi bagian dari ekosistem Halimun Salak. Kehidupan masyarakatnya berkaitan erat dengan lingkungan sekitar, mulai dari praktik pertanian hingga pemeliharaan tradisi yang mengatur berbagai aspek kehidupan bersama.

Rempugan dan Warisan Pangan Lokal

Tradisi Rempugan menjadi salah satu cara perempuan Kasepuhan Pasir Eurih menjaga warisan pangan. Mereka tidak hanya menumbuk padi, tetapi juga merawat pengetahuan tentang jenis padi, cara penyimpanan, hingga olahan hasil bumi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam kegiatan ini, perempuan berperan sebagai penjaga utama rantai pangan keluarga dan komunitas. Proses menumbuk padi bersama-sama menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal nilai pangan lokal yang tidak selalu ditemukan di pasar modern.

  • Menumbuk padi secara bersama-sama dengan alu dan lesung.
  • Mewariskan pengetahuan tentang jenis dan mutu padi lokal.
  • Memperkuat solidaritas antarperempuan dan antargenerasi.
  • Menjaga ketahanan pangan komunitas Kasepuhan.

Ruang Sosial dan Regenerasi

Rempugan bukan hanya aktivitas mengolah hasil panen. Tradisi ini menjadi ruang sosial tempat perempuan saling bertukar cerita, menguatkan ikatan, dan mendidik anak-anak tentang budaya Kasepuhan. Nilai gotong royong yang hidup dalam tradisi ini menjadi perekat sosial di tengah arus perubahan zaman.

Masyarakat Kasepuhan Pasir Eurih menyadari bahwa menjaga tradisi berarti juga menjaga ekosistem Halimun Salak. Praktik pertanian yang selaras dengan alam dan pemeliharaan tradisi menjadi bagian dari upaya mempertahankan kehidupan bersama.

Tantangan di Tengah Perubahan Zaman

Meski terus dipertahankan, tradisi Rempugan menghadapi tantangan. Perubahan gaya hidup, masuknya teknologi, dan pergeseran minat generasi muda menjadi ujian bagi keberlanjutan warisan pangan ini. Namun, semangat perempuan Kasepuhan untuk terus menumbuk padi bersama menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Upaya menjaga Rempugan sejalan dengan pentingnya pelestarian pangan lokal dan budaya Nusantara. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa warisan pangan bukan sekadar soal makanan, tetapi juga identitas, pengetahuan, dan hubungan sosial yang perlu dirawat bersama.

Penulis: Muhammad Nur

Editor: Rizky Zulianda