PLN Indonesia Power Siapkan Rp3,3 Triliun Bangun PLTS Sulawesi Tengah

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

PLN Indonesia Power Siapkan Rp3,3 Triliun Bangun PLTS Sulawesi Tengah

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 05 Oktober 2026 | PT PLN Indonesia Power menggandeng PT ACE Energy Service menyiapkan investasi senilai Rp3,3 triliun untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) di Sulawesi Tengah. Proyek ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi energi bersih di kawasan timur Indonesia, khususnya pada sistem kelistrikan yang selama ini masih bergantung pada pembangkit diesel.

Langkah tersebut diumumkan pada Senin, 5 Oktober 2026, dan menyasar sepuluh lokasi terisolasi yang tersebar di Sulawesi Tengah. Program dedieselisasi ini dirancang untuk menggantikan peran pembangkit berbahan bakar fosil dengan sumber energi matahari yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih ekonomis dalam jangka panjang.

Potensi Kapasitas PLTS dan BESS

Dalam rencana pengembangannya, proyek ini menargetkan potensi kapasitas PLTS mencapai 60 MWp, dilengkapi dengan BESS berkapasitas 200 MWh. Kombinasi keduanya memungkinkan pasokan listrik tetap stabil meski matahari tidak selalu bersinar, sehingga kebutuhan listrik masyarakat di wilayah terisolasi dapat terpenuhi secara lebih andal.

  • Kapasitas PLTS yang ditargetkan: 60 MWp
  • Kapasitas BESS: 200 MWh
  • Jumlah lokasi dedieselisasi: 10 lokasi terisolasi
  • Nilai investasi: Rp3,3 triliun
  • Wilayah pengembangan: Sulawesi Tengah

Skema Pendanaan dari Konsorsium Perbankan

Untuk merealisasikan proyek ini, pendanaan direncanakan berasal dari konsorsium perbankan asal Korea dan Indonesia. Keterlibatan lembaga keuangan lintas negara tersebut diharapkan mampu menekan ketergantungan pada bahan bakar diesel yang selama ini membebani biaya operasional pembangkit di daerah terisolasi.

Skema pembiayaan bersama ini juga menjadi sinyal positif bagi iklim investasi energi terbarukan di Indonesia, sekaligus memperkuat kerja sama bilateral di sektor kelistrikan. Dengan dukungan pendanaan yang mapan, tahapan konstruksi dan pengoperasian pembangkit diharapkan dapat berjalan sesuai jadwal.

Dampak pada Biaya Pokok Penyediaan Listrik

Pengembangan infrastruktur energi bersih ini diproyeksikan mampu menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik hingga sekitar Rp1.000 per kWh. Besaran efisiensi yang dihasilkan akan disesuaikan dengan karakteristik sistem kelistrikan setempat, sehingga manfaatnya dapat terasa secara merata di tiap lokasi.

Komponen Keterangan
Nilai investasi Rp3,3 triliun
Kapasitas PLTS 60 MWp
Kapasitas BESS 200 MWh
Potensi penurunan BPP Sekitar Rp1.000 per kWh
Sumber pendanaan Konsorsium perbankan Korea dan Indonesia

Penurunan BPP menjadi salah satu indikator penting keberhasilan program dedieselisasi. Selama ini, pembangkit diesel di wilayah terisolasi menelan biaya bahan bakar yang tinggi, sehingga tarif listrik di kawasan tersebut cenderung lebih mahal dibandingkan daerah yang terhubung jaringan utama.

Dengan hadirnya PLTS terintegrasi BESS, beban biaya operasional dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, penggunaan energi matahari membantu mengurangi emisi karbon dan mempercepat pencapaian target bauran energi terbarukan nasional.

Proyek ini diharapkan menjadi model bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa, terutama daerah terisolasi dengan potensi sinar matahari melimpah. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan teknis, dukungan pendanaan, serta koordinasi antara pemerintah daerah dan mitra pengembang.