Gayatri Putri News – 07 Oktober 2026 | Timnas Indonesia mengalihkan fokus ke Piala Asia AFC 2027 setelah menorehkan sejarah sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Pelatih John Herdman menegaskan bahwa gelar tersebut hanyalah modal awal, bukan tujuan akhir, karena tantangan jauh lebih berat sudah menanti di putaran final Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Kepastian gelar ASEAN Cup diraih Skuad Garuda setelah menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10). Laga berjalan dramatis karena kedua tim bermain imbang 2-2 hingga perpanjangan waktu sebelum Indonesia memastikan kemenangan dari titik putih. Trofi itu mengakhiri penantian panjang 35 tahun gelar di level senior dan mendapat apresiasi langsung dari Ketua Umum PSSI, Erick Thohir.
Fokus Baru Menuju Panggung Asia
Herdman tidak ingin euforia juara mengendurkan standar tim. Pelatih asal Inggris itu mulai menyusun agenda yang lebih terarah untuk menghadapi persaingan di level Asia, dengan penekanan pada pemahaman pola permainan dan kekompakan antarpemain inti.
“Tujuannya adalah mendapatkan lebih banyak pengalaman turnamen bersama kelompok ini dan lebih banyak waktu bersama pemain inti,” ujar Herdman seusai pertandingan final.
Rencana tersebut akan diuji melalui dua pertandingan internasional pada November mendatang. Meski belum menyebut calon lawan, Herdman menilai dua laga besar itu menjadi bagian penting dari persiapan menuju Piala Asia 2027. Ia ingin para pemain memahami pola permainan sekaligus membangun chemistry dengan pemain inti.
Terjebak di Grup Neraka
Berdasarkan undian resmi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) di Riyadh, Indonesia tergabung di Grup F Piala Asia 2027 bersama Jepang, Qatar, dan Thailand. Grup ini dijuluki sebagai grup neraka karena dihuni raksasa Asia sekaligus juara bertahan dua edisi terakhir.
Peta kekuatan di Grup F menyajikan ujian berat bagi Indonesia. Jepang merupakan langganan pemain di liga top Eropa yang diprediksi mendominasi penguasaan bola. Qatar berstatus juara bertahan dengan kolektivitas tim tinggi serta transisi permainan agresif. Sementara Thailand adalah rival yang baru saja dihadapi di final ASEAN Cup 2026.
Menghadapi konstelasi persaingan tingkat tinggi itu, Herdman menyiapkan tiga pendekatan utama untuk memastikan Skuad Garuda mampu bersaing dan mengamankan tiket ke babak 16 besar. Ia menekankan pentingnya compactness di lini belakang saat menghadapi Jepang dan Qatar, dengan mengandalkan kapten Jay Idzes di benteng pertahanan. Indonesia berfokus pada skema bertahan menengah atau mid-block yang dipadukan dengan serangan balik kilat.
Optimisme Pemain dan Catatan Evaluasi
Optimisme juga datang dari pemain bertahan Calvin Verdonk. Ia menilai Indonesia tetap memiliki peluang untuk lolos ke babak gugur meski berada di grup berat.
“Kami punya peluang menghadapi Thailand dan Qatar. Kami juga punya peluang melawan Jepang, meskipun mereka berada di level yang berbeda,” ujar Verdonk di mixed zone SUGBK.
Namun di balik euforia juara, sejumlah catatan evaluasi muncul, terutama terkait manajemen permainan saat unggul penguasaan bola. Pengamat sepak bola asal Kalimantan Barat, Tajudin, menyoroti aspek tersebut usai laga final. Ia menilai Timnas Indonesia belum memaksimalkan momentum ketika mendominasi penguasaan bola, sebuah kelemahan yang harus segera dibenahi sebelum menghadapi lawan-lawan kelas Asia.
AFC Nations League dan Peta Kompetisi Asia
Di sisi lain, AFC bersiap memperkenalkan AFC Nations League yang akan mulai bergulir pada tahun 2030. Turnamen dua tahunan ini mengikuti konsep UEFA Nations League di Eropa dan bertujuan memastikan sepak bola internasional yang teratur serta bermakna selama jendela pertandingan internasional FIFA.
Format kompetisi AFC Nations League akan membagi peserta konfederasi menjadi tiga tingkatan. Sebanyak 18 negara menempati masing-masing dua tingkatan pertama, sementara 11 negara dibagi menjadi tiga grup di tingkatan ketiga. Setiap negara akan memainkan enam pertandingan kandang dan enam pertandingan tandang.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Mulai bergulir | 2030 |
| Siklus | Dua tahunan |
| Jumlah tingkatan | Tiga divisi |
| Format laga | Enam kandang, enam tandang |
| Promosi dan degradasi | Otomatis antartingkatan |
“AFC Nations League merupakan langkah maju yang penting dalam komitmen berkelanjutan kami untuk mendukung pengembangan 47 Asosiasi Anggota kami,” ujar Sekretaris Jenderal AFC, Windsor John.
Enam tim teratas di divisi pertama otomatis lolos, sementara tim peringkat ketujuh hingga kesepuluh akan memasuki babak play-off round-robin untuk memperebutkan dua slot kualifikasi tersisa. Tiga tim peringkat ketiga akan melaju ke babak play-off antarbenua, dan delapan negara teratas dari tingkat pertama akan memperebutkan trofi melalui perempat final kandang-tandang serta semifinal dan final di tempat pusat.
Untuk membantu transisi, AFC mengusulkan turnamen percontohan sepanjang 2028-2029 yang menggunakan hasil kualifikasi gabungan pendahuluan untuk membagi tingkatan. Format kualifikasi Piala Dunia saat ini yang terdiri dari tiga grup berisi enam tim di tingkat teratas akan dipertahankan, dengan dua tim teratas di setiap grup melaju ke turnamen 2030.
Jalan Panjang Menuju Piala Dunia 2030
Bagi Indonesia, Piala Asia 2027 bukan sekadar ajang pembuktian di level Asia, melainkan bagian dari peta jalan jangka panjang menuju target Piala Dunia 2030. Herdman menilai Grup F sebagai peluang besar bagi Garuda untuk terus berkembang dan mengukur kemajuan tim. Pengalaman bertemu Jepang, Qatar, dan Thailand akan menjadi tolok ukur sejauh mana sepak bola Indonesia telah melangkah setelah menjuarai ASEAN Cup 2026.
Dua laga internasional pada November mendatang akan menjadi ujian pertama wajah baru Timnas Indonesia di bawah arahan Herdman. Kombinasi antara pengalaman turnamen, kekompakan pemain inti, dan disiplin taktik akan menentukan apakah Skuad Garuda mampu menciptakan kejutan di panggung Asia.
Dengan modal gelar juara, optimisme pemain, serta strategi adaptif yang disiapkan Herdman, Timnas Indonesia berpeluang besar mencuri perhatian di Piala Asia 2027. Namun perjalanan itu menuntut konsistensi, kedisiplinan organisasi permainan, dan kemampuan memaksimalkan setiap peluang. Jika semua aspek tersebut berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin Garuda terbang lebih tinggi dan mengukir sejarah baru di sepak bola Asia.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






