Musim Kemarau Ekstrem 2026: Karhutla Ponorogo Meledak 341 Hektare, Kapan Hujan Tiba?

Avatar Rizky

by

Published

Last update

5 menit

Read Time

Musim Kemarau Ekstrem 2026: Karhutla Ponorogo Meledak 341 Hektare, Kapan Hujan Tiba?

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | JAKARTA – Musim kemarau ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada 2026 membawa dampak serius, terutama meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang mencatat lonjakan drastis luas lahan terbakar dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Masun, mengungkapkan bahwa luasan kebakaran tahun ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sepanjang musim kemarau 2026, karhutla di Ponorogo tercatat menembus 341 hektare dan melanda 17 kecamatan, jauh melampaui capaian 2024 yang hanya 91,7 hektare di 11 kecamatan dan 26 desa.

“Kalau kita lihat, data karhutla tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan kalau dibandingkan dengan 2024, ketika kemaraunya juga lumayan, data tahun ini masih jauh lebih besar,” kata Masun, Jumat (9/10/2026).

Slahung Jadi Wilayah Paling Terdampak

Berdasarkan catatan BPBD Ponorogo, Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 81,3 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Bungkal dengan 64,5 hektare, Sambit 42,5 hektare, Jenangan 35,5 hektare, dan Kauman 30 hektare. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2024, lima kecamatan dengan luasan terbesar adalah Slahung seluas 18 hektare, Balong 17,7 hektare, Badegan 12 hektare, Sambit 11 hektare, dan Jambon 9,5 hektare.

Masun menjelaskan, peningkatan kasus karhutla diduga berkaitan erat dengan kondisi kemarau yang lebih ekstrem. Curah hujan yang berada di bawah normal serta durasi musim kemarau yang lebih panjang membuat vegetasi di sejumlah wilayah mengering dan mudah terbakar.

“Sekarang hampir tidak ada hujan selama lebih dari 60 hari. Sementara pada 2024, kondisi kekeringannya masih lebih ringan,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi vegetasi yang mengering, semak belukar, serta serasah atau tumpukan daun kering menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Risiko kebakaran semakin tinggi ketika kondisi tersebut disertai suhu udara panas dan tiupan angin.

“Vegetasi yang relatif kering, semak-semak, dan serasah menjadi area yang sering mengalami kebakaran. Apalagi kalau ditunjang temperatur yang tinggi dan angin,” ungkapnya.

BPBD Ponorogo juga memperkirakan potensi karhutla masih akan terjadi selama Oktober 2026. Sebab, wilayah Ponorogo belum memasuki musim hujan sehingga kondisi lahan kering masih berpotensi memicu kebakaran.

El Nino Sangat Kuat Biang Kerok Kemarau Panjang

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa fenomena iklim El Nino tingkat tinggi menjadi penyebab utama durasi kemarau terasa lebih panjang dan kedatangan musim hujan bergeser dari kondisi normalnya. Hasil analisis BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada Agustus 2026 mencatatkan angka +2,83, sementara indeks ENSO periode Juni-Agustus 2026 berada di level +2,20.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa Indonesia sedang dilanda fase El Nino Sangat Kuat, yang diproyeksikan baru akan mereda pada awal tahun 2027. Sebagian wilayah Indonesia masih akan mengalami musim kemarau pada Oktober 2026, dan BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi kekeringan yang berlanjut hingga Oktober, terutama di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

BMKG memprakirakan kedatangan musim hujan di sebagian besar wilayah Nusantara akan mengalami keterlambatan dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada November 2026 (185 ZOM atau 24,66 persen wilayah) dan Desember 2026 (266 ZOM atau 17,31 persen wilayah). Proses peralihan musim kemarau menuju musim hujan akan berlangsung secara bertahap, dimulai dari wilayah Sumatera bagian utara, lalu bergerak perlahan melintasi kawasan Indonesia lainnya.

Secara keseluruhan, awal musim hujan 2026/2027 mundur di 529 ZOM atau 61,08 persen luas wilayah. Hanya 26 ZOM (2,15 persen) yang dimulai pada waktu normal, sedangkan 11 ZOM (1,12 persen) justru lebih maju. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memperkirakan musim hujan berlangsung lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90 persen luas daratan), sementara sifat hujannya berada pada kategori normal di 510 ZOM (69,76 persen).

Pancaroba dan Ancaman Longsor di Daerah Perbukitan

Menjelang peralihan musim, sejumlah daerah mulai bersiap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, mengingatkan masyarakat di enam kecamatan untuk mewaspadai potensi tanah longsor saat peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan. Enam kecamatan tersebut yakni Sobang, Muncang, Lebak Gedong, Cibeber, Cigemblong, dan Bojongmanik.

Sekretaris BPBD Lebak, Febby Rizky Pratama, mengatakan potensi longsor perlu diwaspadai karena kondisi tanah setelah musim kemarau dapat menjadi rentan ketika kembali menerima curah hujan.

“Potensi longsor tentunya ada, di daerah-daerah perbukitan yang memiliki lereng. Begitu kena air pasca-kemarau biasanya langsung longsor,” kata Febby di Lebak, Kamis (8/10/2026).

Fase pancaroba sendiri secara klimatologis ditandai dengan perubahan suhu ekstrem, peralihan cuaca yang cepat, dan perubahan pola hujan. Salah satu pola cuaca yang umum terjadi pada masa pancaroba adalah kondisi panas atau terik pada pagi hingga siang hari, yang kemudian diikuti pertumbuhan awan dan potensi hujan pada sore hingga malam hari.

Penyebab Musim Hujan Tidak Merata

Musim hujan di Indonesia memang tidak pernah merata, dan tahun ini pola tersebut terlihat lebih jelas. Letak Indonesia di garis khatulistiwa, di antara dua benua dan dua samudra, membuat setiap daerah memiliki pola hujan tersendiri. Di atas itu, angin monsun serta fenomena global seperti El Nino dan La Nina ikut menentukan kapan hujan tiba dan seberapa deras turunnya.

Jumlah hujan tahunan pun timpang antarwilayah. Daerah pegunungan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Barat dapat menerima lebih dari 3.000 milimeter per tahun. Sebaliknya, gugusan pulau Nusa Tenggara yang terdekat dengan Australia hanya mendapat sekitar 1.000 hingga 1.500 milimeter per tahun. Inilah alasan BMKG membagi wilayah Indonesia ke dalam ratusan zona musim (ZOM) berdasarkan pola hujannya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi keterlambatan musim hujan, termasuk menghemat air, mewaspadai kekeringan, serta mengantisipasi potensi karhutla dan longsor di daerah rawan. Bagi warga Ponorogo dan daerah lain yang masih dilanda kemarau, kewaspadaan terhadap kebakaran lahan harus terus ditingkatkan setidaknya hingga Oktober berakhir.

Dengan kombinasi El Nino Sangat Kuat, curah hujan di bawah normal, dan durasi kemarau yang panjang, tahun 2026 menjadi salah satu periode kemarau terberat dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat diharapkan tidak hanya menunggu datangnya hujan, tetapi juga aktif menjaga lingkungan dan mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

Sumber Berita:

  • Liputan6.com – Karhutla Ponorogo Tembus 341 Hektare, 17 Kecamatan Terdampak
  • Kompas TV – Musim Kemarau 2026 Sampai Kapan? Ini Prediksi BMKG Awal Masuk Musim Hujan
  • Tirto.id – Tanda-Tanda Musim Hujan Segera Tiba
  • Liputan6.com – Musim Hujan Tidak Merata di Indonesia, Ini Penyebab dan Wilayah yang Terdampak
  • Metro TV – Enam Kecamatan di Lebak Rawan Longsor saat Peralihan Musim

Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda