Gayatri Putri News – 12 Oktober 2026 | PT Modernland Realty Tbk (MDLN) berhasil menuntaskan kewajiban obligasi senilai USD 280 juta atau setara hampir Rp 5 triliun melalui skema pertukaran utang dengan cadangan lahan. Langkah ini menjadi salah satu restrukturisasi utang properti terbesar yang diselesaikan lewat mekanisme debt-to-asset swap di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, nilai cadangan lahan yang dialihkan dalam transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 3,5 triliun. Skema ini melibatkan hampir 100 persen pemegang obligasi dan telah memperoleh pengesahan dari Pengadilan Tinggi Singapura pada 17 September 2026. Kesepakatan itu dinyatakan efektif berlaku sejak 30 September 2026.
Mekanisme Pertukaran Utang dengan Cadangan Lahan
Dalam struktur kesepakatan, Modernland mengalihkan sebagian cadangan lahan yang sebelumnya berstatus sebagai jaminan obligasi kepada sebuah perusahaan bertujuan khusus atau special purpose vehicle (SPV). SPV tersebut dibentuk khusus untuk kepentingan para pemegang obligasi. Sebagai imbalan atas pengalihan aset itu, seluruh kewajiban terkait obligasi, termasuk bunga berjalan, dihapuskan.
Obligasi yang menjadi objek transaksi diterbitkan oleh Modernland Overseas Pte. Ltd. (MLO), entitas anak yang sepenuhnya dimiliki Modernland Realty. Instrumen berjenis Guaranteed Senior Notes tersebut semula dijadwalkan jatuh tempo pada 30 April 2027.
Rincian Transaksi Restrukturisasi
| Komponen | Keterangan |
|---|---|
| Nilai kewajiban obligasi | USD 280 juta (sekitar Rp 5 triliun) |
| Nilai cadangan lahan yang ditukar | Sekitar Rp 3,5 triliun |
| Penerbit obligasi | Modernland Overseas Pte. Ltd. (MLO) |
| Jenis instrumen | Guaranteed Senior Notes |
| Jatuh tempo awal | 30 April 2027 |
| Pengesahan pengadilan | Pengadilan Tinggi Singapura, 17 September 2026 |
| Efektif berlaku | 30 September 2026 |
| Partisipasi pemegang obligasi | Hampir 100 persen |
Dampak bagi Perseroan dan Pasar Properti
Langkah penghapusan utang obligasi ini dipandang memberikan ruang fiskal yang lebih lega bagi Modernland. Dengan hilangnya kewajiban senilai hampir Rp 5 triliun, perseroan dapat lebih fokus pada pengembangan proyek dan pengelolaan portofolio properti yang tersisa. Skema serupa juga menjadi rujukan bagi emiten properti lain yang menghadapi tekanan jatuh tempo utang di tengah kondisi pasar yang menantang.
Meski demikian, pengalihan cadangan lahan senilai Rp 3,5 triliun turut mengurangi aset perseroan yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang. Keseimbangan antara penurunan beban utang dan penyusutan aset produktif akan menjadi perhatian utama para pemegang saham ke depan.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






